Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Keputusan


__ADS_3

*Seminggu kemudian


Jingga sudah mengirim pesan untuk fajar, ia akan menyelesaikan kepemilikan bangunan kafe ini menjadi miliknya.


Mereka akan bertemu di kafe, dan saat ini jingga sedang menunggu fajar datang.


"Sudah lama menunggu...?" tanya sebuah suara tiba-tiba yanh tak asing terdengar.


Jingga hanya melihat sekilas pria tersebut, tersenyum kecut lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada semula. Pria itu mulai duduk disebelah jingga, namun ia melihat gerak-gerik jingga yang tak nyaman.


"Aku ke toilet sebentar" kata fajar sambil bangkit dari duduknya dan meletakkan sebuah map diatas meja.


Jingga tak mengubrisnya, bahkan ketika suara langkah fajar tak terdengarpun ia tak mengalihkan perhatiannya. Ia masih tertarik melihat sebuah keluarga kecil sedang bermain pasir di tepi pantai.


Ibu dan ayah anak itu membantu putrinya membangun sebuah istana dari pasir. Dulu, iapun pernah menjadi seorang putri kecil untuk mama dan papanya, juga pernah membangun sebuah istana pasir, meskipun akan hanyut oleh ombak, tapi ia sangat bahagia saat itu. Karena papanya masih disisi nya saat itu.


"Aku bawa semua berkas mengenai bangunan ini" ujar fajar yang tiba-tiba duduk dihadapan jingga, dan berhasil menarik perhatiannya.


"Baiklah" sahut jingga singkat.


"Berapa harga yang kamu tawarkan?" tanya jingga memulai negosiasi.


"Harga?" tanya fajar heran.


"Yaa... Harga bangunan ini. Aku harus membayarnya kan?"


"Aku tak menjualnya" kata fajar sambil tersenyum.


"Lantas, kenapa sabina ngebolehin aku buka kafe ini?" tanya jingga yang tersulut emosi.


"Aku tak menjualnya untukmu. Ini milikmu sedari dulu" Jawab fajar menenangkan jingga yang sudah mulai emosi.


"Kenapa ini milik aku?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tempat ini dulu bangunan yang aku sewakan. Kita sering kemari kan? ini adalah tempat yang paling banyak kenangan kita"


"Hm... " jawab jingga dengan deheman.


"Jingga, kamu adalah senjaku... senja itu akan hilang ketika menjelang sore hari. Tapi ia tak pernah benar-benar menghilang"


Jingga tercenung mendengar apa yang fajar ucapkan. Itu adalah kalimat yang sering fajar ucapkan ketika fajar bepergian untuk pekerjaannya. Dahulu.


"Aku tahu... " sahut jingga menunduk.


"Jika kamu tahu, maka terimalah sertifikat ini!" seru fajar sambil menyodorkan sebuah map yang diyakini jingga berisi sertifikat bangunan dan tanah kafe ini.


"Aku tak dapat membalas ini" ujar jingga.


"Kamu pernah hadir dalam hidupku saja, itu sudah menjadi sebuah anugerah. Kam mampu mengubahku menjadi sosok yang lebih baik. Saat bersamamu aku bahagia" kata fajar sambil tersenyum.


"Aku tahu kamu gak akan milih aku, karena kamu sekarang punya kehidupan sendiri bersama pria itu... hm siapa namanya?"


"Bian. Fredik Fabian Landu" kata jingga masih menunduk.


"Aku... aku... "kata jingga terbata-bata dengan mengangkat wajahnya, dan memperlihatkan mata jingga yang sudah berkaca-kaca.


Fajar ingin sekali memeluk jingga saat ini, seandainya ia bisa melakukan itu. seperti dulu saat jingga menangis karena perceraian kedua orang tuanya, fajar ada untuknya menenangkannya saat itu.


"Aku sudah tahu" ujar fajar mengangetkan jingga.


"Bian sudah melamarmu bukan?" tanya fajar memastikan.


"Iya... "jawab jingga singkat dengan mengangguk, tak mampu melihat ekspresi wajah lawan bicaranya saat ini.


"Aku memang sudah terlambat. Ternyata dia bergerak dengan cepat setelah tahu siapa aku" ucapnya sambil berdiri dari duduknya.


Fajar pergi meninggalkan jingga seorang diri disana, masih dengan menekuk wajah cantiknya ia meneteskan air matanya menangis tersedu-sedu seorang diri.

__ADS_1


"Tapi aku belum memberi jawaban" gumam jingga pada dirinya sendiri dalam tangisannya.


***


"Hah... aku memang terlambat. sangat terlambat" gumam fajar pada dirinya sendiri sambil bersender dimobilnya.


Sebuah mobil berhenti didepan mobil fajar. Fajar tak mengubrisnya, ia membuka pintu mobilnya berniat untuk kembali kerumah.


"Tunggu... " kata seseorang yang ternyata adalah pengendara mobil tersebut.


Fajar menutup kembali pintu mobilnya, ia menunggu pria yang sedang berjalan menghampirinya.


"Ada apa?" tanya fajar.


Bhukkk.... sebuah pukulan melayang kewajah tampan fajar. Rasa sakit pukulan sebelumnya belum reda, sekarang malah ia mendapat pukulan lagi dari orang yang sama.


"Kamu ngapain disini?" tanya bian sambil berteriak dengan Memcekik leher fajar.


"Uhuk.. uhuk... lepasin brengsek" jawab fajar terbatuk-batuk.


"Aku kesini cuman ngasih dia sertifikat bangunan ini. Selebihnya gak" jawab fajar ingin segera pergi dari sana.


Bian melepaskan cengkramannya, ia merapikan keras baju fajar.


"Baiklah. sekarang pergi" kata bian mengusir fajar.


"Brengsek!" umpat fajar. Yang langsung membuka pintu mobil, menyalakan mobil dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


"Pria itu sangat kasar. Apa jingga sanggup bersamanya?" tanya fajar pada dirinya sendiri.


"Aku harus cari tahu lebih banyak tentang Pria itu. Fredik Fabian Landu" katanya lagi pada dirinya sendiri.


Fajar tak menyangka, pilihan jingga adalah lelaki kasar seperti itu. Ia tak pernah memukul jingga sekalipun. Ia harus memastikan, jingga bahagia meski tidak dengannya.

__ADS_1


Holla guys!!! ❤❤❤


__ADS_2