
"Lanjutkan rencana B" perintah johan, mengakhiri panggilan telponnya.
Ia amat kesal, bagaimana mungkin herman mengetahui tujuannya. Johan menggenggam erat ponselnya dengan erat, melampiaskan amarahnya yang berada di ubun-ubun.
"Jalan... " perintahnya lagi pada supir yang sedari tadi menunggu perintah majikannya.
***
"Ma, udah cukup semua ini!" teriak bian tiba-tiba.
"Kamu ini kenapa?" tanya mamanya bian heran melihat putranya tiba-tiba muncul diruang tamu dan mengangetkannya.
"Ma. Mama bilang dong ke papa. udah-udah lah ganggu keluarganya pak herman. Bian udah capek, lelah ma" ujar bian panjang lebar yang sudah duduk disebelah mamanya.
"Memangnya papamu suruh apa lagi?" tanya mama bian penasaran.
"Jalankan rencana B" kata bian memandang kosong kearah jendela yang tak jauh dari sana.
"Rencana B?" tanya mamanya balik dengan terkejut.
"Mama tahu sendirikan rencana B seperti apa. Bian gak bisa ambil resiko"
"Kalo gak bisa ambil resiko jangan lanjutkan" kata mamanya membuat bian menatap mamanya curiga.
"Trus...?" tanya bian sambil menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Papamu yang akan menjalankannya" kata mamanya membuat bian terkejut hingga membulatkan matanya.
"Bian gak bisa biarkan jingga dalam keadaan bahaya ma!" seru bian berdiri panik.
"Kamu beneran jatuh hati ke dia?" tanya mamanya.
"A... pa...?"
"Yaa. Sudah jelas"
"Tidak benar ma"
"Lindungi dia jika benar kamu mencintainya" ujar mamanya menepuk pundak putranya lalu berlalu pergi meninggalkan bian sendiri dalam pemikirannya.
***
Setelah makan siang tadi bersama di salah satu restoran yang ada didekat kantor, mereka duduk bersama membahas mengenai salah satu proyek yang dikerjakan bersama.
"Dasar anak muda!" seru herman dengan wajah gembiranya. "Kamu sudah tahu jawabannya bukan?" Jawab herman dengan pertanyaannya.
"Jawabannya. Iya?"
"Buatlah acara resepsi yang megah! Buatlah acaranya di tepi pantai, seperti keinginannya" kata herman gembira.
"Baiklah om. Aku akan mengabulkannya. Jingga pasti suka" ujar fajar bahagia.
__ADS_1
'Akan kubuat kejutan yang menyenangkan'batin fajar.
Mereka melanjutkan pembahasan mengenai proyek tersebut hingga petang. Sesekali fajar mengirim pesan untuk jingga, menanyakan hal-hal kecil yang baginya itu sangat penting.
***
Disisi lain, bian sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Ia memandang ke arah taman yang ada di bawahnya.
"Apa mungkin aku benar jatuh cinta padanya?" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Ahh tidak. Aku hanya kasian padanya mungkin. Tapi aku tak akan bisa membiarkan dia semakin terjebak dengan rencana licik papa" pikirnya.
"Aku harus menghentikan ini" kata bian dengan semangat menggebu untuk menyelamatkan jingga.
Ia bangkit dari duduknya berlalu dari sana, pergi mencari ayahnya. ia sudah mengetahui semua apa yang akan direncanakan oleh ayahnya. Ia telah bertekad untuk mengehentikannya. Ia harus bisa melakukannya.
Bian tak akan pernah menyadari perasaannya sendiri terhadapa jingga. Namun, yang ia ketahui saat ini adalah ia harus dapat menyelamatkan jingga dari rencana licik ayahnya.
Bukan apa, ia hanya takut ayah bian melakukan hal yang dapat menjeremuskan dirinya sendiri ke ranah hukum. Ia cukup tahu seperti apa orang yang bernama Herman Agustia itu. Ia dapat menggunakan kekuasaan yang ia miliki untuk membuat ayahnya bertekuk lutut.
Bianpun bingung, kenapa setelah ia mengetahui niat ayahnya Johan, herman papa jingga masih belum bertindak apapun, padahal jingga terancam. Sungguh naas nasib jingga.
Tapi bian lupa, jingga memiliki fajar saat ini bersamanya. Bian tak mengetahui bagaimana fajar dulu sebelum bertemu jingga.
Holla guys! ❤💃💃💃
__ADS_1