Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Kepulangan


__ADS_3

*5 bulan kemudian


Seorang lelaki berjalan keluar dari pintu kedatangan luar negeri, ia menyeret sebuah koper berukuran sedang. Ia berdiri sejenak di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Ia mencari sosok yang datang menjemputnya saat itu. Tak ia temukan.


"Kyaaa...." teriak sebuah suara yang tak asing ditelinganya.


Ia melihat gadis itu menyambut seorang lelaki, lelaki itu memeluk gadis tersebut, cukup erat. Ia mencium wajah gadis itu bertubi-tubi.


"Apaa... " lirihnya sambil membuka kacamata hitam yang sedari tadi menutupi kedua matanya yang indah tersebut.


Ya, fajar sudah kembali ke tanah air setelah lima bulan terakhir melakukan perawatan yang cukup untuk menyembuhkan kakinya.


Kini ia kembali, untuk mengambil miliknya kembali. Jingga.


Drrtt.. drtt...


Getaran ponsel yang sedang ia pegang mengalihkan perhatiannya saat itu juga.


"Dimana?" tanya sebuah suara dari seberang telfon.


"Aku di pintu keluar" sahutnya singkat, sambil melihat sekali lagi dua orang yang tadi berpelukan, sudah tidak disana lagi.


"Aku sudah menunggu sedari tadi, cepat kemari" perintah suara dari seberang telfon kembali, tanpa menunggu.


Fajar langsung menutup panggilan tersebut, ia tak perlu repot-repot untuk menjawab perintah adik tirinya itu.


Brak...


"Hei santai sedikit!" teriak sabina.


"Ini santai" sahut fajar acuh, yang sudah duduk dibangku penumpang.


"Maaf tuan fajar, bisakah kamu duduk didepan?" perintah sabina halus.


"Tidak. Apa kamu tidak melihat perbedaan diantara kita berdua?" tanya fajar menusuk, seakan-akan memperingati adik tirinya akan keberadaannya selama ini.


"Aku sudah pulih seperti sedia kala. Kamu bisa kembali ke tempat asalmu" kata fajar dengan angkuhnya.

__ADS_1


"Hello tuan fajar. Kamu harus membayar semua ini" balas sabina tak ingin kalah.


Ketika mesin mobil telah menyala, tak ada lagi suara yang terdengar diantara mereka berdua, hanya suara halus mesin yang melingkupi kesunyian diantara kakakndan adik tersebut.


***


"Aku sudah menunggumu" Sebuah pesan masuk.


"Aku sudah didekatmu" balasnya lagi.


"Kyaa... "teriak sebuah suara yang sangat ia rindukan dua pekan ini.


"Hai sayang. Apa kabar kamu?" tanya bian yang langsung memeluk erat jingga serta mencium wajahnya secara bertubi-tubi.


"Aku baik. Kamu sehat?" tanya jingga kembali, sambil mengecek kondisi kekasihnya saat ini.


Yap. Bian menyatakan perasaannya kepada jingga saat diacara pembukaan kafe literasi pantainya.


**Flashback On


"Terima kasih" sahut jingga.


"Jingga... " panggil seseorang dari atas penggung yang khusus disediakan untuk memeriahkan acara pembukaan.


"Ya" sahut jingga singkat, tanpa melepaskan senyum manisnya sedari tadi.


"Selamat untuk kafe barumu, semoga kafenya selalu ramai pengunjung" katanya memberi ucapan.


"Hahaa. Terima kasih bian" sahutnya dari jauh sambil melambaikan tangan.


"Jingga... aku ingin mengatakan sesuatu" lanjutnya, belum ingin turun dari atas sana.


Jingga menunggu bian melanjutkan ucapannya, ia masih memperhatikan pria tersebut. Ia tampak gugup, seakan ingin mengatakannya dan tidak. Jingga sungguh penasaran apa yang akan dikatakan oleh si supir palsu itu.


"Jingga, jadilah pacarku!" kata bian dengan lantang, yang berhasil membuat jingga mundur selangkah. Ia tak percaya, tapi dia lelaki yang bersamanya selama ini baru saja menyatakan perasaannya.


Suara tepuk tangan dari pengunjungpun terdengar menggema. Ada juga yang bersorak mendukung bian, ada yang berseru meminta jingga menerimanya.

__ADS_1


"Aku harus apa tuhan" batin jingga.


"Apa aku harus merajut kembali" batinnya kembali ragu.


Sebuah tepukan dipundaknya menyadarkannya. ia menoleh melihat kebelakang, itu ibunya.


"Terimalah nak. Kamu juga harus bahagia" nasihat ibunya.


"Baiklah. Aku terima" Teriak jingga dari tempatnya berdiri. Tanpa pikir panjang, ia menjawab ajakan bian. yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para pengunjung.


Dari atas sana, bian sudah berjoget kegirangan. Lalu berlari kearah jingga, memeluknya.


"Aku berjanji akan menjagamu sepenuh jiwaku" janjinya, sambil melepas pelukannya.


"Tante, bian janji" katanya sambil mengecup kedua tangan ibu jingga.


Jingga tersenyum bahagia melihat tingkah bian hari ini, ia tak pernah melihat bian seperti ini sebelumnya.


*Flashback Off*.


Saat ini mereka ada didalam mobil, menuju ke rumah jingga. Karena tadi bian sempat mengatakan bahwa ia menemukan jejak keluarganya sultan.


"Aku rindu anak itu" katanya masih mengenggam erat tangan jingga.


"Baru dua minggu juga pergi, dah rindu dia. Aku gak dikangenin gitu" kata jingga merajuk.


"Kan kamu yang paling aku kangenin. pisah sedetik aja udah kangen" sahut bian menggombal.


"Ih kamu" balas jingga, sambil memalingkan wajahnya karena malu.


"Aish... sudahlah. nyetir aja yang bener" Lanjutnya memperingati.


"Iya... " sahut bian lembut.


Holla! Kasi aku semangatnya dong. Kasi aku ❤ yang banyak-banyak yak!


*Aku merasa kehilangan arah 😤

__ADS_1


__ADS_2