Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Terkuak


__ADS_3

*Keesokan harinya


Sebuah cahaya menyilaukan penglihatan fajar, yang kala itu sudah terbangun dari mimpinya. Ia membangunkan jingga. Mereka berdua berbincang hingga pagi, dan tertidur didalam mobil. Tak ingin beranjak dari tempatnya, jingga tak ingin menghadapi kemungkinan yang mungkin saja terjadi sebentar lagi.


"Rasanya tak ingin pulang... " ujar jingga sambil menguap.


"Kamu harus pulang" balas fajar mengusap kepala jingga.


"Ingin sarapan?" tanya fajar pada jingga yang mulai duduk dan membenarkan pakaiannya.


"Sangat lapar..." sahut jingga menyentuh perutnya.


"Tak ingin melihat matahari?" tanya fajar lagi.


"Mauuu!" Seru jingga yang langsung keluar dari mobil untuk melihat matahari yang sedang naik ke permukaan.


"Indah bukan?" tanya fajar yang sudah berada disampingnya. Memeluk jingga dengan erat "Semua akan baik-baik saja" bisik fajar di telinga jingga lalu mengecup kepala jingga.


***


"Tante... bian udah cari jingga kemanapun, tapi gak ketemu" kata bian panik. Ia baru kembali kerumah jingga. Semua tamu sudah berhasil dibubarkan semalam.


"Tante gak tau bian" kata ibunya jingga putus asa.


"Siapa terakhir kali bersama jingga dikamar?" tanya bian melihat sekeliling. Ia mencari sosok yang selalu ada dirumah ini, sosok yang selalu membantu keperluan jingga dan ibunya.


"Bik inah!" panggil bian berteriak.


"Iya. saya" jawab bik inah datang dengan panik ketika bian memanggilnya.


"Bik inah dikamar jingga kan semalam?" tanya bian mengintrograsi.


"I... i..iya.. " sahut bik inah terbata-bata karena takut. Ibunya jingga langsung mengalihkan perhatiannya dari lamunannya kearah bik inah.


"Bik inah pasti tahu jingga kemana kan?"


"Maaf bian... "


"Panggil saya tuan!" teriak bian memotong ucapan bik inah, membuat bik inah terkejut setengah mati. Ia tak percaya, bian yang ia kenal adalah sosok yang santai, humoris dan ramah. Ia tak mengenal bian yang ini.


"Maaf bian... eh tuan" sahut bik inah kikuk.

__ADS_1


"Jawab saya bik. Bik inah tahu kan kemana jingga?" tanya bian mengulang pertanyaan yang sama.


"Bibik gak tahu mbak jingga kemana tuan" jawab bik inah takut takut.


"Bik inah. Bibik sudah mengenal jingga sedari kecil, bibik pasti tahu" kini giliran ibunya jingga yang bertanya namun tidak dengan berteriak seperti bian.


"Maaf buk. Tapi bibik memang beneran gak tahu mbak jingga kemana" sahut bik inah lagi.


"Pantas saja mbak jingga kabur... " batin bik inah.


"Kenapa bik inah gak bisa jawab jujur!" tanya bian dengan lantang sambil membanting ponselnya diatas meja, yang berhasil membuat ibunya jingga dan bik inah terkejut.


"Kamu bisa tenang bian?" ujar ibunya jingga nyaris berteriak.


Sebuah suara ketukan pintu mengalihkan mereka. Ibunya jingga memberi syarat untuk membuka pintu.


Tak lama kemudian, bik inah kembali.


"Buk... tuan bian..." panggil bik inah, lalu bik inah pergi meninggalkan mereka.


"Jingga...!" seru ibunya sambil bangkit dari duduknya memeluk jingga.


Fajar yang sedari tadi berdiri agak jauh, maju melangkah perlahan. dan berhasil membuat bian marah.


Ibunya jingga melepas pelukannya, terkejut melihat fajar yang berdiri tak jauh dari sana.


Bian melangkah dengan cepat, siap melayangkan pukulannya.


"Stop!" teriak jingga.


"Jangan coba-coba... " kata jingga memperingatkan bian, dengan memberikan tatapan peringatan.


"Fa... jar... " panggil ibunya jingga terbata terkejut, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Bukannya... " kata ibunya jingga menghentikan ucapannya.


"Maaf tante vera" ujar fajar.


"Kamu yang bawa lari anak tante?" tanya ibunya jingga.


"Ma, ini salah paham" ujar jingga.

__ADS_1


"Bukannya udah jelas, dia yang bawa kamu lari dari acara pertunangan kita?" kata bian dengan suara keras.


"Aku memang gak pernah jawab lamaran kamu, tapi mama yang kasi jawabannya. Bukannya udah jelas, kalo aku memang gak minat sama kamu?"


"Jingga... "Panggil lirih bian tak percaya.


"Ini balasan kamu ke aku?" tanya bian tak percaya.


"Memangnya apa yang kamu lakukan untuk aku?" tanya jingga.


"Kenapa kamu menolak bian? apa karena fajar sudah kembali?" kini giliran ibunya yang bertanya dengan lembut, menghentikan bian dari berbagai tuduhan yang akan ia lontarkan.


"Bukan ma. Bian itu lama kelamaan orangnya kasar. Dan jingga gak suka" jelas jingga dengan menatap jijik kearah bian.


"Kasar? artinya kamu gak bohong kalo dia pernah nampar kamu?"


"Iya ma. Dan mama lebih percaya dia" tuding jingga sedih.


"Maafkan mama sayang. Mama gak akan maksa kamu lagi. Terserah kamu mau pilih siapa" kata ibunya menggenggam tangan putrinya.


"Bian. Tante batalkan semuanya. Untuk urusan seserahan yang kamu bawa semalam, akan tante ganti dua kali lipat" jelas vera ibunya jingga.


"Makasi ma udah percaya jingga" ujar jingga tersenyum.


"Mama gak percaya kamu. Mama percaya fajar" kata ibunya tersenyum ke arah fajar.


"Aku gak bisa terima tante" ucap bian tiba-tiba yamg mengehentikan senyum di wajah vera ibunya jingga.


"Saya akan bicara sendiri pada orang tuamu. Kamu boleh keluar dari rumah saya" kata vera tak ingin dibantah.


Bian keluar dari sana, ia menabrak bahu fajar yang berdiri disana. Matanya menyiratkan amarah yang dalam terhadap fajar. Fajar hanya membalasnya dengan tersenyum sinis.


"Kamu hanya terobsesi dengannya... " ujar fajar tiba-tiba sesaat sebelum bian meninggalkan area tersebut.


"A.. paa..?" tanya bian berhenti dari langkahnya tak percaya.


"Ya. hanya terobsesi. aku tahu kamu bian... " Kata fajar setengah mengejek.


"Sial... " umpat bian yang berlalu dari sana.


Holla guys! Jangan lupa like dan ❤ nya yah!

__ADS_1


Terima Kasih sudah mampir ❤❤❤


__ADS_2