
Jingga dan fajar sudah kembali kerumah. Rasanya Homesick yang ia rasakan selama berbulan madu sudah sembuh total.
"Ahh senangnya dirumah" seru jingga merebahkan diri diatas ranjang.
"Artinya, kamu tidak suka berada diluar bersamaku?" tanya fajar.
"Ahh bukan begitu. Aku hanya... aku hanya... "
"Hanya apa...?" tanya fajar sembari duduk disebelah jingga diatas ranjang.
"Tidak ada. Dirumah kan bisa berduaan juga kayak di maldives hehe" celetuk jingga.
"Kamu ingat tidak...?" tanya fajar menatap dinding kosong dihapadannya, seperti sedang menerawang jauh.
"Ingat apa?" tanya jingga sembari membenarkan duduknya.
"Pidatoku di acara resepsi kita" kata fajar.
"Bagaimana aku bisa lupa" ujar jingga ikut menerawang ke hari resepsi pernikahannya.
*Flashback On
"Hm. baiklah. ini adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu di penghujung acara" Umum MC dihadapan semua tamu.
"Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya jingga berbisik ditelinga fajar.
"Dengarkan saja nanti" sahut fajar dengan kepedean yang geramat rumit.
"Dan, kamu ingin sampaikan apa?" tanya fajar masih dengan berbisik.
"Aku tidak tahu. Aku sangat gugup jika berada didepan banyak orang" Ujar jingga, membuat fajar menahan tawanya. Dan membuat jingga kesal dengan fajar inilah gara-gara ini, ia selalu menahan tawanya jika menertawakan dirinya.
"Ucapan, pidato ataupun kata-kata yang ingin disampaikan oleh pengantin baru kita. Tepuk tangan semuanya" lanjut mc tersebut mempersilahkan salah satu dari pemgantin untuk menyampaikan pidatonya.
Suara tepuk tangan sungguh menggema, meskipun mereka berada diluar. Para tamu yang masih berada disana, sudah menyampirkan mantel mereka karena memang udara disana sudah dingin.
__ADS_1
Fajar maju beberapa langkah dari tempat duduknya, tempat yang disediakan sedikit agak tinggi dengan sebuah pengeras suara yang sudah disediakan.
"Selamat malam semuanya, terima kasih untuk kalian semua. maaf membuat kalian hadir ketempat ini untuk menjadi saksi pernikahan kami" kata fajar membuka pidatonya.
"Jingga. Terima kasih sudi menerimaku setelah aku pergi meninggalkanmu, tapi percayalah aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu" lanjut fajar menatap jingga yang duduk dibarisan depan.
Suara tepuk tangan dan sorakan dari para tamu membuat fajar menjadi salah tingkah. Iapun menjadi gugup hanya karena itu, padahal ia adalah seorang pemimpin sebuah perusahaan, dan saat ini ia sudah resmi menjadi seorang pemimpin keluarga. Wah cemen 🤣
"Hm, baiklah pemirsa" kata fajar salah tingkah hingga membuat siapapun yang melihatnya tertawa.
"Maaf" lanjutnya, lalu menjeda kembali ucapannya.
"Wahai pengantin pria terseksi sejagat raya, jika enggau gugup, aku mampu menggantikanmu disana" kata ben teman fajar setengah berteriak, dan membuat dirinya mendapatkan cubitan maut dari sang kekasih mira.
"Mengaduh saja kau, enak kena cubitan maut?" ledek fajar dari sana, dan berhasil membuat tamu tertawa juga.
"Baiklah. Aku ingin mengatakan sesuatu untukmu" katanya menarik nafas karena gugup.
"Jingga, bagiku kamu adalah senja yang tak pernah mengilang dari pandanganku. Kamu adalah senja yang selalu kunantikan" Ujar fajar sambil menatap manik mata cokelat jingga, membuat yang dibicarakan tersenyum tersipu malu.
"Kamu sungguh menawan meski sudah malam" puji fajar ketika jingga berjalan menghampirinya. Membuat ben dan tamu lainnya bersorak.
"Jika aku senja bagimu, kamu adalah matahari bagiku" ujar jingga ketika sampai disebelah fajar.
"Lalu? apa hanya itu saja?" tantang fajar.
"Kamu pikir aku tak mampu?" balas jingga menerima tantangan.
"Mira, kita apakan para pria ini?" tanya jingga berseteru.
"Hm... kenapa tidak kita lemparkan saja mereka kelaut" kata mira memberi saran kepada jingga.
"Setuju!" seru jingga lalu menarik kerah kemeja fajar, membuat sang empu mengaduh namun tidak mampu melawan.
Sedangkan, mira menarik dasi ben, melakukan hal yang sama seperti yang jingga lakukan.
__ADS_1
Ketika mereka sudah berada dibibir pantai, fajar dan ben memohon ampun. Memohon diampuni oleh Ratu pemilik hati.
"Baiklah. Semua dengar!" teriak jingga membuat para tamu yang tersisa memasang telinga dengan baik.
"Fajar adalah orang yang akan kulihat pertama kali ketika aku bangun tidur. Dia adalah sosok yang mampu menerimaku apa adanya" Teriaknya, lalu menjeda ucapannya untuk menarik nafas.
"Dia milikku selamanya. Aku akan hidup dengannya sampai maut yang memisahkan!" teriaknya lagi lalu mendorong fajar kelaut hingga terjatuh.
Tidak lama berselang, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Fajar sudah mengganti pakaiannya agar tidak masuk angin, lalu kembali ke hotel setelah mengucapkan terima kasih.
*Flashback Off
"Bagaimana? puas mengerjaiku?" tanya fajar menakuti jingga.
"Hehe... Aku kan cuman becanda malam itu" sahut jingga sambil cengar-cengir memperlihatkan gigi ginsulnya.
"Kamu bukannya sudah berjanji akan membayarnya?"
"Aku tidak pernah berjanji apapun" ujar jingga datar.
"Yakin?"
"Yap!" sahut jingga meyakinkan.
"Hm baiklah" ujar fajar bangun dari duduknya, berbalik melihat jingga dengan ekspresi yang sungguh menakutkan.
"Apa arti dari ekspresi itu?" tanya jingga ketakutan.
"Kamu harus membayarnya... " teriak fajar memeluk jingga hingga terjatuh diatas ranjang.
*Klean bayanginlah sendiri apa yang terjadi selanjutnya yaa gaes 😏🧐😂 Author mau klean berimajinasi sendiri 😬🙏
Holla guys! Jangan lupa like, love dan share ya! ❤❤❤💃
Terima kasih ❤❤❤
__ADS_1