Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Keputusan


__ADS_3

*Seminggu kemudian


"Ma, jingga pengin balik ke KL" kata jingga mengawali obrolan.


"Gak boleh" jawab ibunya tidak mengizinkan.


"Aku mau ngapain ma disini. Fajar udah gak ada ma"


"Kamu bisa buka kafe kalo kamu mau, mama mau kok jadi investornya" tawarnya.


"Kafe...?" tanya pada dirinya sendiri.


"Iya. mending jingga mikir aja dulu. Nanti putuskan. Dan mama melarang jingga untuk kembali ke KL" tegas ibunya tanpa ingin dibantah.


suasana kembali sunyi, tanpa mereka menyadari seseorang sedang memperhatikan perbincangan ibu dan anak tersebut.


***


"Bik, Ibu dan anak itu kadang akur kadang gak yaa?" tanya bian pada bik inah yang sedang mencuci piring didapur.


"Iya namanya juga ibu dan anak" kata bik inah acuh. "Kenapa kamu beberapa hari ini cukup perduli akan mereka berdua" lanjut tanya bik inah.


"Oh gak apa-apa kok bik. penasaran aja" kata bian sambil mengambil gelas untuk menuangkan air.


"Baiklah" sahut bik inah.


***


Jingga sedang duduk termenung di ayunan yang ada di halaman belakang, yang ditemani segelas jus jeruk.

__ADS_1


"Sebuah kafe... " gumamnya. "Menarik sih. tapi aku harus rekrut beberapa orang buat bantu aku" gumamnya lagi.


"Ahh. si supir kemarin punya tampang. Aku bakal rekrut dia ke kafe" ucapnya penuh semangat. "Ide mama gak buruk juga" gumamnya sambil menyeruput minumannya.


Penglihatan jingga seperti menangkap sosok yang sedang ia pikirkan, ia itu dia.


"Hei kamu... " katanya memanggil.


"Aku?" tanya orang tersebut sambil menunjuk dirinya sendiri dari jauh.


"Ia brengsek, kamu!" umpat jingga. "Sini kamu!" teriak jingga.


Bian meninggalkan pekerjaannya yang sedang memandikan mobil, berjalan menuju dimana jingga berada.


"Kenapa aku? Aku buat salah yaa?" tanya bian langsung.


"Iya kamu buat salah" kata jingga menyalahkan.


"Itu gak penting sekarang. Mulai sekarang kamu harus ikut aku cari lokasi" perintah jingga.


"Lokasi apa" tanya bian penasaran.


"Untuk buka kafe" jawab jingga dengan polosnya.


"kafe? hahaa... " tanyanya sambil tertawa.


"Dilarang tertawa" kata jingga dengan wajah memerah.


"Baiklah" jawab bian sambil menahan ketawanya.

__ADS_1


"Emang dia bisa menghandel kafe, dengan mood nya yang berubah-ubah" batin bian meragukan.


Mereka diam sejenak, bian ingin pergi tapi jingga belum menyuruhnya pergi.


"Besok pagi misi dimulai" kata jingga tiba-tiba. Lalu beranjak bangkit dari duduknya meninggalkan bian yang terpelongo tak percaya akan secepat ini.


Jingga masuk kembali kedalam, mengambil ponselnya lalu mencari kunci mobil, namun ia tak menemukannya.


"Bik, kunci mobil mana" tanya pada bik inah yang sedang lewat.


"Sama bian mbak" jawabnya.


"Bian? Bian siapa?" tanya jingga pada bik inah.


"Supir yang selalu antar mbak"


"Ohh. Ahh baiklah" sahut jingga sambil pergi ketempat tadi ia bertemu lelaki itu tadi.


"Udah selesai?" tanya jingga yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Ehh anjirrr... " Umpat bian terkejut. "Udah" lanjutnya.


"Kuncinya mana?" tanya jingga.


"Nih" kata bian sambil memberikan kunci.


Jingga masuk menghidupkan mobil tak perduli keberadaan bian yang sudah memasang wajah herannya.


Jingga mengemudikan mobil menuju ketempat dimana ia sering datang bersama tunangannya dulu, fajar.

__ADS_1


Ia memberhentikan mobil di tepi jalan, lalu berjalan menuju ke pantai duduk disana diatas pasir menikmati pemandangan pantai, sesekali ombak dari pantai itu mendekati kakinya, namun ia tak perduli, meskipun ia dibasahi ombakpun ia tak mengapa. ia ingin disana hari ini sampai petang.


__ADS_2