
Matahari mulai tenggelam, ia sudah menampakkan warna indahnya. sore itu. Jingga masih senantiasa mendengarkan penjelasan fajar, padahal langit sudah menunjukkan warnanya.
"Aku tidak bermaksud menipumu" kata fajar lirih.
Jingga membalikkan badannya, ia melihat fajar dengan rasa yang tak mampu untuk ia ungkapkan saat ini.
"Lalu..." katanya tiba-tiba yang membuat fajar mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia tekuk.
"Lalu...?" tanyanya tak mengerti.
"Ya. Lalu aku harus menerima semua apa yang kau lakukan ini?" tanya jingga nyaris berteriak.
"Tidak. Kau tak harus menerimanya" sahut fajar lirih.
"Baiklah" sahut jingga acuh dan meninggalkan fajar sendirian.
"Tapi setidaknya... " teriak fajar menghentikan langkah jingga yang kembali menuju kafe.
Jingga berhenti, berbalik menunjukkan wajah tanda tanyanya.
"Pikirkanlah tentang kita... tentang bagaimana kita bisa bersama dulu" lanjutnya.
Jingga tak mengubris ucapan fajar, ia berlalu kembali ke kafe, meninggalkan fajar seorang diri berdiri disana. untuk merenung.
"Bian... " kata jingga terkejut, saat sampai didalam kafe, ia melihat bian duduk dimeja yang langsung menampakkan pantai.
"Kamu masih disini?" tanya jingga.
__ADS_1
"Dia pasti melihat semuanya" batin jingga gelisah.
"Ya aku masih disini nona jingga. Apakah anda keberatan?" tanya bian agak kesal.
"Kamu kenapa sih?"
"Gak apa-apa. Sekarang udah bisa jelasin?"
"Tadi aku nyuruh kamu pulang kan? Trus kenapa sekarang masih disini?"
"Intinya aku gak boleh disini kan? ohh... karena dia?" kata bian sambil menunjuk fajar yang baru kembali dari tepi pantai.
"Aku?" tunjuk fajar pada dirinya sendiri.
"Ya kamu orang ketiga. Brengsek!" kata bian dengan melemparkan sebuah pukulan pada wajah fajar.
"Cuih... "balas fajar dengan meludah sambil memegang pipi kirinya yang terkena pukulan bian, masih menatap bian dengan tajam rasanya saat ini, ia ingin membunuh pria itu yang sudah beraninya menyentuh wajah tampannya itu.
"Bian... kamu pulang sekarang" kata jingga marah dengan menarik bian keluar dari kafe.
"Ya pulang sana. Dasar anak mami" ejek fajar.
"Kamu ngapain disitu?" tanya jingga pada fajar yang masih berdiri dengan tak tahu dirinya.
"Aku juga?"
"Ya kamu juga pergi dari sini!!!" teriak jinga frustasi dengan keadaan yang belum dapat ia jelaskan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Haa... baiklah" sahut fajar pasrah.
"Cih diusir juga kan" kini giliran bian yang mengejek fajar.
Mereka berdua sempat berhenti sejenak, saling tatap dengan penuh keinginan untuk membunuh. Tapi tidak. Mereka mengisyaratkan sebuah pertempuran.
"Woii pergi kalian!" teriak jingga sekali kali.
Jingga amat kesal dengan keadaan. Keadaan seakan tak memberinya jeda untuk mencerna semua ini. Disatu sisi, ia telah memulai dari awal dengan bian, disisi lain seseorang yang amat ia cintai sampai saat inipun 'rasanya' muncul kembali.
Yang dulunya dikabarkan meninggal, tapi ia hidup kembali. Bagai keajaiban yang sedari dulu ia mohon pada Tuhan. Tapi mengapa baru sekarang? saat ia telah memulai dari awal.
Ia sungguh bimbang, ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan berpikir dengan matang.
Setelah menutup kafe, jingga kembali kerumah dengan mengendarai mobilnya sendiri. Belum lagi ia harus menyelesaikan sertifikat bangunan kafe tersebut yang ia ketahui baru-baru ini dari sabina adalah milik fajar.
"Ahh aku butuh istirahat" Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Hari ini sungguh sangat menguras pikiran. Coklat hangat mungkin dapat menenangkan" katanya pada dirinya sendiri masih dengan fokus menyetir.
Holla guys!
Suka Fajar, Bian atau aku? wkwk
Jangan lupa ❤ dan kometarnya yah!
Terima kasih 💃💃💃
__ADS_1