
"Fredik Fabian Landu" ucap seorang pria tua yang sedang duduk dikursi kebesarannya.
"Iya pak. Pria tersebut mencoba nona Jingga untuk merebut Sahamnya" kata seorang imforman.
"Apakah berhasil?" tanya pria tua tersebut.
"Tidak pak"
"Hahaahaa... " tawa pria tua tersebut terbahak-bahak didalam ruangan tersebut. Untung saja ruang tersebut kedap suara, karena pria tersebut memiliki posisi yang amat tinggi di salah satu perusahaan pencakar langit.
"Aku... aku yakin fajar tak akan membiarkan itu terjadi" lanjutnya dengan masih terbahak.
"Dan, tuan fajar sudah kembali pak"
"Ya... yaa aku tahu itu. kamu boleh pergi sekarang" ujar pria tersebut.
"Tunggu... " kata pria tua itu menghentikan langkah informannya.
"Iya pak" jawab informan itu menghentikan langkahnya lalu kembali berdiri dihadapan pria tua tersebut yang merupakan seorang bos.
"Kirimkan sebuah buket bunga matahari untuk putriku" pintanya.
"Baik pak" sahut informan itu, lalu berlalu dari sana untuk memenuhi permintaan bosnya itu.
***
"Sultan... " panggil jingga dari jauh.
"Kakak cantik... " seru anak itu dari jauh sedari berlari menuju arah jingga. Sultan disekolahkan jingga kesekolah yang memiliki asrama, selain untuk ia belajar ia juga melatih sultan untuk menjadi pribadi yang mandiri.
"Libur tlah tiba..." kata jingga dengan nyanyiannya ketika sultan sudah ada didekatnya.
Mereka berpelukan berdua, melepas rindu. Jingga menyayangi anak tersebut seperti adiknya sendiri. Fajar yang sedari tadi melihat mereka berdua, tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Kakak ganteng ini siapa?" tanya sultan ketika mereka sudah berada didalam mobil menuju pulang kerumah.
"Ah. Ini kak fajar ya. Dia calon suami kakak" kata jingga memeperkenalkan.
"Bukannya kakak dengan kak bian?" tanya anak itu polos.
"Hm... Anak kecil gak boleh tahu"jawab jingga membuat sultan penasaran.
"Baiklah jika begitu" sahutnya merajuk.
"Akan menjadi suami yang baik untuk kakak cantikmu" kata bian tiba-tiba yang membuat sultan tertarik.
"Berjanjilah" pinta sultan.
"Janji... "
"Janji kelingking" kata sultan sambil menyodorkan kelingkingnya, dan disambut oleh kelingking fajar dengan semangat.
***
Disebuah ruangan dengan meja berukuran besar dan duduk beberapa orang disana, sedang membahas hal serius.
"Maafkan putra saya pak herman" kata salah seorang yang duduk berhadapan,namun jaraknya sangat jauh dengan orang yang memiliki posisi tertinggi disana.
"hahaa... kau pasti campur tangan" katanya dengan tertawa.
"Aku tak tahu apapun" sahutnya panik.
"Jika tidak, kau tak mungkin panik"
'Sialan pak tua ini. Bagaimana ia bisa tahu semua yang kurencanakan!" gerutunya dalam hati.
"Kenapa kamu diam johan?" tanya herman lagi. "Putriku hampir saja terjebak dengan putramu" katanya menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Aku tahu segalanya johan. Kau menggunakan putramu bian, untuk mengambil alih saham putriku jingga di rumah sakit itu dengan dalih pernikahan" lanjutnya menguak fakta.
Semua yang hadir disana terkejut dengan fakta yang diungkapkan oleh pemilik perusahaan tambang itu. Tatapan mereka semua mengarah ke Johan yang merupakan ayah dari bian.
"Apa kamu sudah gila!" kata haris salah satu yang hadir yang duduk tak jauh disana.
Johan hanya diam saja, ia tak menjawab apapun. Herman menganggap diamnya ia adalah kebenaran dari semua ini.
"Aku takkan pernah merestuinya" kata herman dengan geraman.
Johan mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk, ia melihat ke arah herman, ia tahu bahwa herman sedang menahan amarahnya. Tak seorangpun boleh menyentuh putrinya semata wayangnya itu. Dan ia telah bermain-main dengan semua ini.
"Maaf saya terlambat" kata seseorang yang baru saja datang.
"Hukuman apa yang harus kuberikan padanya fajar?" tanya herman pada fajar yang baru saja datang.
"Tak perlu menghukumnya berlebih. kurasa, kegagalan merupakan hukuman yang cukup baginya" kata fajar menohok yang sudah berdiri disamping herman, calon ayah mertuanya.
"Menurutmu begitu?" tanya herman meyakinkan.
"Hm.. " jawab fajar dengan gumaman.
herman membubarkan pertemuan tersebut. Ia hanya membuat pertemuan tersebut untuk menguak tujuan johan yang sebenarnya adalah ingin memiliki segalanya.
"Dimana jingga?" tanya herman.
"Saya sudah mengantarnya pulang. Ia aman. Saya yakin, mereka takkan menganggu jingga lagi" jelasnya.
"Baiklah. Mari kita makan siang" ajak herman.
Holla guys! Menuju end nih hihii
jangan lupa ❤ dan like nya yah!
__ADS_1