Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Kejutan


__ADS_3

"Jika kamu tidak benar jatuh hati padanya, kamu tidak akan cemburu ketika tunangannya hadir kembali" ujar johan, papa bian. Mereka saat ini sedang duduk dimeja makan menyantap makan malam.


Malam ini tampak menegangkan bagi bian. Jika bian tak ingin mengambil resiko, papanya akan melakukan hal yang tak terduga dan membahayakan jingga. Jika ia benar jatuh hati pada gadis bermata coklat itu, ia harus melindunginya meski ia tak dapat memilikinya.


"Terserah papa" sahut bian kesal meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan.


"Habiskan makananmu!" seru mamanya.


"Sudah kenyang ma. Bian ke kamar dulu" katanya berlalu menghilang dibalik tembok yang menyekat ruang makan dan ruang tamu.


"Sudah-sudah lah pa" kata Dewi mama johan yang masih duduk disana.


"Ma... " sahut johan memelas.


"Mama gak mau ya pa, papa dalam bahaya. Mama cukup tahu herman itu seperti apa" ujar dewi menasehati suaminya.


"Kita ini sudah tua pa. Kalian berdua adalah harta mama yang paling berharga. Bian sudah menjadi direktur di rumah sakit, itu sudah cukup!" jelas dewi setengah membentak.


"Mama gak akan pernah mengerti" lirih johan meninggalkan dewi, istrinya sendiri.


"Mama selalu berdoa agar papa dan bian selalu dalam lindungan tuhan" ucap dewi seketika.


***


"Halo sayang. Hari ini aku sibuk banget. Nanti malam aku jemput ya" seru fajar ditelepon.


"Memangnya mau kemana?" Sahut jingga diseberang.


"Ihh jangan kepo ya. Ikut aja pokoknya"


"Ya kan aku harus tau"


"Pokoknya nanti malam kamu dandan yang oke. Mengerti?"


"Aku bukan anak kecil harus memahami itu" sahut jingga diseberang dengan datar.


"Pfpff... " seketika fajar ingin tertawa, tapi ia menahannya agar jingga tak merajuk.


"Jika ingin tertawa, tertawalah. Bye. Aku sibuk di kafe ini" kata jingga menutup teleponnya.


"Baiklah. Jam 8 malam ya" kata fajar mengakhiri.

__ADS_1


"Dasar jingga. Selalu menggemaskan" gemas fajar setelah menutup telponnya.


Fajar melanjutkan pekerjaannya, ia sudah merencanakan berbagai hal untuk nanti malam. Ia sudah menghubungi seluruh keluarga inti untuk dapat hadir, nanti malam.


***


Langit sudah gelap, hanya ada beberapa lampu yang menerangi malam. Jingga sudah siap dengan mini dresnya yang membuat penampilannya tampak begitu feminim.


"katanya jam 8" gumam jingga sambil menunggu fajar menjemputnya di teras.


Tii... tiin... bunyi suara klakson mobil yang muncul dan berhenti di teras, dimana jingga menunggu fajar.


Fajar keluar dari mobil, terpukau dengan penampilan jingga yang memakai mini dres berwarna salem, sangat cocok ditubuh mungilnya.


"Telat... " kata jingga menatap fajar tajam.


"Ohh im sorry baby. Tadi aku ada urusan sebentar"


"Kenapa liatinnya gitu sih?" tanya jingga mulai risih.


"Beautiful girl..." ujar fajar memuji, yang langsung saja menampilkan semburat merah dipipi jingga.


Jingga memang tak bisa sedikitpun dipuji, ia langsung saja tersipu malu, dan yang tak kalah herannya, ia tak pernah bisa menyembunyikan rona merah pipinya yang malu malu kucing itu.


***


"Aku tak bisa jalan... " ujar jingga yang berjalan perlahan dengan dituntun oleh fajar. Mata jingga ditutupi kain hitam, menurut fajar agar jingga tak tahu dimana mereka membuat kejutan untuknya.


"Sebentar lagi sampai" sahut fajar menuntun jingga ke salah satu ruang rostoran jepang yang sudah di reservasi olehnya.


Kriitt... bunyi pintu dibuka.


Perlahan, fajar membuka penutup mata yang diikatkan oleh fajar dimata jingga.


"Surpriseee.....!!!" seru semua orang yang ada ketika penutup mata jingga dilepaskan.


Jingga menutup wajahnya karena terkejut, ia berbalik memeluk fajar dengan wajah berseri-seri. Disana ada orang tuanya, bunda fajar, sabina adik tiri fajar, sultan dan seorang lagi yang tak ia ketahui namanya, tapi ia tahu wanita tersebut adalah sepupu fajar.


"Terima kasih... " bisiknya dalam pelukan.


"Semua ada disini sayangku. Lihatlah" kata fajar.

__ADS_1


"Mama... papa!" seru jingga berbalik berlari memeluk kedua orang tuanya.


"I miss you my girl" kata papa jingga dalam pelukan.


"Ohh... miss you too Papa" balas jingga mengecup pipi kedua orangtuanya.


"wait... " kata jingga melepas pelukannya dari kedua orang tuanya, dan membuat semua yang ada didalam sana heran.


"Bukannya papa sama mama udah pisah?" tanya jingga melipat kedua tangannya didada.


"Siapa bilang?" tanya vera, mama jingga.


"Media... " sahutnya singkat.


"Sayang... " panggil fajar dari belakang yang berdiri tak jauh darinya.


"Kenapa kamu teramat percaya media? bukannya percaya orang tuamu" kata fajar.


"Maksudnya... " tanya jingga curiga.


"Maksudnya media itu gak bener dong!" lanjutnya lagi menjawab pertanyaannya sendiri.


"Yaps. Right my girl" ucap herman, papanya.


"Jadi papa sama mama gak jadi pisah dong!"seru jingga dengan wajah berserinya.


"Putri kalian, akan selalu jadi putri kecil kalian" kata bunda tiba-tiba yang sedari tadi hanya menyaksikan saja.


"Ahahaa... dan takkan pernah bisa meninggalkan seorang istri seperti mamamu dan seorang putri kecil seperti kamu my girl" kata herman dengan tawanya yang terbahak-bahak.


"Kapan mau makan nih?" tanya sabina yang sedari tadi menunggu mereka untuk makan.


"Sultan udah laper kakak cantik" oceh anak kecil itu dengan raut wajah memohonnya yang menurut penglihatan sabina, ia begitu imut.


"Hei kurcil! kenapa kamu begitu amit-amit? biarkan saja mereka ayo kita makan!" ajak sabina yang langsung mengambil sendok menyendokkan makanan kedalam mulutnya. Melihat sabina seperti itu, sultanpun tak sungkan untuk memulai makan, karena memang anak kecil itu sudah menahan lapar sejak tadi.


"Ahaha... baiklah baiklah... mari duduk dan nikmati apa yang ada" ajak herman yang mendapat respon baik dari semua orang.


Akhirnya, setelah reuni jingga dan papanya beberapa saat yang lalu mereka duduk menyantap makanan khas jepang. Fajar sengaja memilih restoran jepang, karena ia tahu bahwa jingga sangat suka makanan jepang.


Holla guys! Like dan ❤ nya jangan lupa yah!

__ADS_1


Kira-kira kapan yah fajar ngelamar jingga sekali lagi buat jadi istrinya?


Huhuu...


__ADS_2