
"Mohon perhatiannya semuanya... "kata fajar membuka pembiacaraan, setelah semuanya selesai makan.
"Ada apa kakak gak tampan?" tanya sultan polos.
"Hei bocah, aku ini tampan tahu! Lihat nih" sahut fajar mencoba mendekatkan wajahnya kehadapan sultan, yang disambut gelak tawa semua orang.
"Aku pria paling tampan disini" kata sultan memuji dirinya sendiri dengan penuh kesombongan.
"Aku setuju" ucap sabina tiba-tiba berpihak pada sultan. "Setuju kalo kamu itu kurcil!" ledek sabina.
"Kakak itu jelek tahu!" Balas sultan tak ingin kalah.
"Hei hei... sudahlah... " kata bunda menenangkan. "Sabina, sudah besar jangan seperti anak kecil" lanjut bunda mengingatkan, yang ditertawakan oleh sultan. Jingga hanya tersenyum melihat sultan bisa berbaur dengan orang lain selain bian dengan begitu cepat.
"Baiklah. Fajar punya pengumuman penting" kata fajar menghentikan perdebatan antara si kurcil sultan dan sabina yang tak hentinya berdebat meskipun sudah mendapat peringatan dari bundanya.
"Jingga..." panggil fajar pelan dengan menatap dalam mata jingga, dan seketika semua mata tertuju kearah mereka berdua.
"yaa... " sahut jingga membalas tatapan fajar.
"Aku ingin kamu, kamu ingin aku gak? kita married bulan depan ya" ujar fajar yang membuat jingga membeku seketika. Pikiran jingga sudah melayang entah kemana, antara ini sebuah lamaran pernikahan atau bukan.
'Lamaran macam apa ini?' batin jingga menggerutu.
"Maksudnya?" tanya jingga pura-pura tidak mengerti.
"Menikah... kamu dan aku" jelas fajar menunjuk jingga lalu menunjuk dirinya sendiri.
Herman menggelengkan kepalanya, tak menyangka bahwa fajar bisa sekaku ini. Sabina menahan tawanya mendengar apa yang diucapkan oleh kakak tirinya itu.
'Dia benar-benar payah' batin sabina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Haa... dasar ..." celetuk indah yang hanya diam saja sedari tadi.
"Minta dia dengan baik" lanjut indah menghela nafasnya.
"Baiklah" kata fajar menjeda ucapannya. ia tampak gugup, berkali-kali ia mengusap tengkuknya mencuri-curi tatapan sambil meunduk. "Jingga, maukah kamu menjadi ibu bagi anak-anakku kelak?" tanya fajar dengan gugup, namun masih menunduk.
Hening seketika, tak ada yang bersuara. Semua menunggu jawaban jingga. Jingga tampak begitu gugup juga, semua terlihat dari keringat yang bermunculan didahinya.
"Nak... "panggil vera, mama jingga sambil menepuk pundak jingga yang larut dalam lamunanya.
"Ahh... i.. tu.. itu... " kata jingga gagap.
"I.. tu... apa?" tanya fajar. Sebenarnya fajar tak harus gugup, ia sudah pernah melamar jingga sekali, tapi itu dulu. Sekarang sudah berbeda. ketika jingga mengembalikan cincin pertunanganannya, ia merasa semuanya sudah berakhir. Dan saat ini, ia ingin memulai semuanya dari awal.
"Ya. Aku mau!" seru jingga tersenyum bahagia, yang membuat semuanya bersorak ria. Fajar mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk akibat gugup, ia memeluk jingga yang ada disebelahnya dengan erat, ia takut kehilangan jingga lagi. ia berjanji takkan melepaskan jingga lagi. Fajar Mencium kening jingga, yang langsung mendapat tatapan tajam herman papa jingga.
"hhm hm" dehem herman, langsung saja fajar melepas pelukannya merasa tak enak sudah memeluk sembarangan putri kesayangan papanya itu.
Indah tersenyum kecut ketika semua orang berbahagia disana, ia merasa bukanlah bagian dari mereka. Tugasnya sudah selesai, ia sudah membantu merawat fajar, tak lama lagi jingga yang akan merawatnya. Ada sedikit rasa tak rela, namun ia hanyalah sepupu fajar yang selalu ada untuknya bagitupun sebaliknya, fajar sering menjadi pelindung baginya ketika dulu, saat mereka masih kecil.
"Terima kasih ma" balas jingga.
"Selamat untuk kalian" kata indah tiba-tiba dengan senyum paksanya.
"Terima kasih" jawab jingga membalas senyuman indah.
"Ahh. aku permisi ke toilet dulu yaa" kata jingga pamit sebentar.
"Ahh baiklah. jangan lama yaa" kata fajar mengingatkan.
"Oke sayang" kata jingga berlalu segera pergi menuju toilet.
__ADS_1
Ketika jingga pergi ke toilet, orangtua fajar dan jingga sibuk mencari tanggal yang cocok untuk pernikahan anak-anak mereka. Sabina sangat suka menggoda sultan, yang sedari tadi ingin makan terus menerus. Sedangkan indah hanya duduk diam, menyimak apa yang sedang mereka bicarakan, sesekali ia melontarkan komentarnya.
"Jingga belum kembali" Kata fajar yang tampak cemas, dan berkali-kali melihat jam tangannya.
"Coba telfon saja dia" usul herman. mereka semua telihat panik, namun tetap tenang agar keadaan tidak memburuk.
"Aku akan pergi mencarinya" kata fajar berlari keluar menuju toilet mencari jingga.
Beberapa saat kemudian, fajar kembali keruang restoran yang direservasi dengan tergesa-gesa.
"Jingga hilangg!" teriaknya panik, berhasil membuat semua orang yang ada disana kanget.
"Tidak mungkin!" seru vera.
"Om herman, fajar udah cari keseluruh tempat ini. tapi jingga gak ada om"
"aku akan mengarahkan semua orang untuk mencari putriku!" seru herman dengan mengambul ponselnya. tampak ia menelpon seseorang dengan amarahnya yang tak dapat tertahankan lagi.
"Fajar akan cari jingga" kata fakar berlari keluar restoran, dan menghidupkan mobilnya berlalu meninggalkan restoran.
Semua yang ada disana terpaku diam, memikirkan kemana jingga pergi. Ia tak mungkin pergi begitu saja, pasti terjadi sesuatu.
Vera, mama jingga tak dapat menahannya lagi. Ia terjatuh pingsan dan membuat semua orang panik. Bunda, ibunya fajar membantu vera. Sedangkan herman sudah menghilang dari sana entah keman, tapi ia pasti pergi mencari putrinya.
"Ini pasti ulah johan!" kata herman mematap tajam jalanan yang ada dihadapannya.
"Sialan! Brengsek!" umpat herman dengan memukul stir mobil.
"Aku akan menemukanmu" seringai herman.
Holla guys! jangan lupa Vote, love ❤ dan like nya yah.
__ADS_1
Kira-kira keman yaa jingga? hehe...
Gomawo ❤💃💃💃