
"Hei sultan" panggil jingga yang baru saja kembali dari mini market didekat rumah sakit. Tadi ia pergi sebentar membeli beberapa cemilan untuk anak itu, sembari menunggu kabar dari bian mengenai hasil pemeriksaan sultan.
"Kakak cantik udah balik?" tanyanya dengan tersenyum merekah.
"Adudu... kakak ini memang cantik kok" celetuknya.
Tok... tok...
Suara pintu diketuk dan itu bian, ia masuk dengan membawa sebuah kertas yang diyakini jingga adalah hasil pemeriksaan sultan.
"Kamu udah balik?" tanya bian ke jingga yang menyambut bian dengan senyuman termanisnya.
"Kak... kak bian... kakak cantik beliin aku banyak cemilan loh" seru sultan sambil menunjukkan berbagai cemilan yang ada dimeja sebelahnya.
"Wah banyak nih! kamu harus habisin ya" kata bian sambil mengelus rambut sultan.
"Ohyaa jingga. Sultan bentar lagi udah bisa pulang" beritahu bian.
"Hasil nya oke gak?" tanya jingga.
"Hm oke. Udah aman tuh. Akukan dokternya" bangga bian.
"Ahahaa. Berarti aku boleh manggil om dokter dong mulai sekarang bukan kakak lagi" tanya sultan.
"Hm oke juga tuh" sahut jingga sambil berpura-pura berpikir.
"Aishh kalian ini!" seru bian dengan membuat wajah marah.
"Ahahaa. Kamu emang cocok dipanggul gitu kok" celetuk jingga sambil menahan tawanya karena melihat wajag bian sudah merah menahan malu. Malu dipanggil om karena ia bukan om-om.
__ADS_1
"Ohya. Karena barang kamu gak banyak, nanti pass diperjalanan kita singgah di mall dulu ya. kita beli beberapa pakaian untuk kamu" saran jingga yang membuat sultan kegirangan.
"Dia sungguh baik, tidak... tidak... dia juga cantik" batin bian dengan hatinya yang sudah berdegup-degup.
"Aku akan mengantarkan kalian" kata bian tiba-tiba.
"Baiklah" sahut jingga singkat.
Bian membantu sultan bergantu pakaian, sedangkan jingga menunggu sambil memainkan ponselnya.
***
Seorang perawat sedang mendorong seorang pasien yang duduk dikursi roda, mereka menuju ke sebuah ruangan, tiba-tiba pasien terbsebut meminta berhenti.
"Tolong berhenti" pintanya.
"Jingga... " gumamnya lirih.
"Maaf mas, bunda tadu pulang sebentar" sahut indah memberitahu.
"Indah... indah liat" katanya sambil menunjukkan kearah pintu keluar.
"Itu yang lagi jalan, jingga kan sama seorang lelaki dan anak kecil?" tanya fajar masih sambil menunjuk.
"Ehh iya mas, tapi dengan siapa yaa?" tanyanya kembali bingung.
"Jingga sudah gak mau terima aku lagi.Dia tampak bahagia sekarang" lirih 777fajar menunduk.
"Maaf pak fajar, pria yang tadi keluar adalah dr. Fredik Fabian Landu. Apa ada masalah pak?" tanya perawat yang bersama mereka.
__ADS_1
"Dokter?" gumamnya nyaris tak terdengar.
"Tidak. lanjutkan saja. tadi kita mau kemana?" kata fajar melanjutkan.
Indah menatap pilu sepupunya itu, ia sungguh tak berguna bagi fajar saat ini. seharusnya ia menghentikan jingga tadi, dan memberitahukan yang sebenarnya.
Mereka sudah kembali ke ruang inap, perawat yang mengantarkan mereka sudah meninggalkan mereka. Saat ini hanya ada mereka berdua.
Fajar meraih ponselnya, ia membuka beberapa file foto didalam sana, ia melihat kenangannya bersama jingga.
"Aku emang gak pantas untuk dia" gumamnya. "Aku emang gak pantas untuk dia" ulangnya lagi sambil menetaskan air matanya.
"Jingga kamu berhak bahagia, meski tidak denganku" katanya terisak. Indah duduk di sebuah sofa yang disediakan disana, menatap pilu sepupunya itu.
"Aku emang gak berguna!!!!" teriak fajar frustasi. "Aku ini cacat!" lanjutnya menangis.
"Aaaaa... " teriak fajar sambil melemparkan ponselnya kesembarang tempat.
"Kaki gak berguna!!!" teriaknya lagi. Kali ini indah mendekat dengan takut-takut berniat untuk menenangkan fajar.
"Kenapa aku gak mati aja!" teriaknya lagu sambil memukul-mukul kedua kakinya.
"Seandainya kaki ini gak lumpuhhh" katanya menatap sedih kedua kakinya.
"Indah... kalo seandainya kaki aku gak lumpuh, aku udah menikah dengan jingga kan?" tanya fajar sambil mengenggam tangan indah yang mulai merasa ketakutan.
"I... yaa... "sahut indah terbata-bata.
"Mas harus bisa jalan lagi, dan buktiin ke mbak jingga kalo mas itu pantas untuk dia" saran indah menyemangati fajar.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pasti sembuh" katanya semangay sambil menyeka sisa-sisa air matanya.
Indah tersenyum melihat fajar sepupunya kembali semangat. Hanya begini salah satunya cara membuat fajar tak berputus asa. Baginya..