
Langit sudah mulai gelap, namun jingga masih betah berada di pantai. Ia melihat kekiri dan ke kanan, sepi tak berpenghuni. Pantai ini terkadang ramai dikunjungi wisatawan, tapi ia sudah lama tak melihatnya.
Jingga melihat sesuatu, letaknya jauh dari tempatnya. Ia bergegas menuju mobilnya mengendarainya lalu menuju tempat yang ia lihat tadi.
"Seperti disini" gumamnya sambil memperhatikan sekitar.
"Bukankah ini gedung dulu yang sering aku datangin?" tanya jingga pada dirinya sendiri.
"Besok aku harus kemari bareng si cowok itu"
Setelah melihat sekilas, ia melajukan mobilnya kembali pulang kerumah.
'Aku tahu senja akan menghilang, tapi ia takkan pernah benar-benar mengilang bukan' puitisnya membatin.
***
"Ma, kayaknya aku dapat lokasi yang okedeh buat kafe" kata jingga sambil menyendokkan makanannya secara perlahan. Ya, ibu dan anak itu sedang makan malam bersama saat ini.
"Dimana?" tanya ibunya tertarik.
"Didekat pantai"
"Kafe apa yang ingin kamu bangun disana?" tanya ibunya lagi dengan penasaran.
"Literasi" jawabnya sambil membayangkan bagaimana wujudnya.
"Yap! Ma aku bakal buka kafe literasi disana. Bagi pecinta komik dan buku dan lebih penting lagi ma, bagi pecinta pantai! " serunya. "Mereka bisa datang ke kafe menikmati secangkir kopi, coklat panas ketika malam sambil menikmati pemandangan" katanya mengebu-ngebu.
"Trus... " sahut mamanya semangat mendengarkan.
"Trus apaan ma?" tanya jingga heran.
__ADS_1
"Jingga bakal... " katanya menggantung kalimatnya. "Hei kamu... " panggilnya menghentikan langkah bian yang sedang lewat.
"Saya...?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Iya kamu brengsek!" umpatnya. Yang diikuti wajah terkejut ibunya mendengar putrinya mengumpati seorang lelaki.
"Kamu duduk disini" perintah jingga ketika bian sudah ada di dekat mereka.
"Ehh gak apa apa nih?" tanya bian sungkan.
"Bian, kamu gak ada jam jaga malam ini?" tanya ibunya kepada bian.
"Jam jaga?" Sambung jingga heran. "Ahh udahlah itu nanti. Ma dia bakal ikut sama aku besok yaa" kata jingga pada ibunya.
Ibunya terkejut karena jingga dekat dengan bian. Hal yang tak pernag disangkanya. Setelah kepergian fajar, jingga cukup sulit beradaptasi dengan lelaki manapun, ditambah perceraiannya dengan ayahnya, semakin membuat jingga tak percaya sebuah hubungan lagi dapat dirajut.
"Bu, saya tidak ada jam jaga malam ini" sahut bian menjawab pertanyaan ibu jingga.
"Ehh kamu udah makan?" tanya jingga menghentikan ibunya bicara.
"kamu harus makan malam ini, biar besok sanggup antar aku kemana aja" katanya.
"Iyaa baik" sahut bian sambil mengambil beberapa lauk diletakkan diatas piringnya. Ibu jingga terheran-heran melihat keadaan jingga saat ini, namun ia bahagia, melihat putrinya kembali ceria.
"Terima kasih tuhan. Ide untuk buka kafe tidak buruk untuknya" batin ibunya. "Dan sepertinya bian ini cocok untuk jingga" lanjut batinnya lagi.
***
*Keesokan harinya
"Kita harus cari tahu pemilik bangunan ini dulu siapa" katanya pada bian.
__ADS_1
Mereka sekarang berada didepan sebuah bangunan yang dilewati jingga kemarin.
"Mau cari kemana memangnya?" tanya bian.
"Entah. Akupun gak tahu" katanya masih sambil memperhatikan bangunan didepannya.
Jingga mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar bangunan tersebut. Lalu Ia memposting di berbagai akun media sosialnya, demi mencari pemilik bangunan tersebut.
Selain itu, siapapun yang lewat dari sana ia sellau menghentikannya. Ia bertanya pada setiap yang lewat siapa pemilik bangunan tersebut.
Setelah beberapa jam mereka habiskan disana, mereka kembali kerumah.
Saat perjalanan pulang kerumah, bian menabrak seseorang karena terlalu banyak bicara dengan jingga.
Brakkk...
"Ohh tidakkk!!!" teriak jingga dengan histeris.
"Cepat lihatlah!" Lanjut jingga meminta bian untuk melihat dengan histeris.
Jingga turun dari mobil ikut melihat keadaan.
"Denyutnya melemah, cepat bukakan pintu kita bawa dia kerumah sakit" kata bian dengan panik.
"Iya yaa.. " jawab jingga berlari membukakan pintu.
Lalu bian mengangkat seorang anak lelaki yang ia tabrak,lalu menidurkannya di kursi belakang.
"Kau temani dia, aku akan menyetir" kata jingga berlari kembali masuk duduk dikemudi.
Jingga berusaha tenang, agar ia fokus menyetir. Sesekali ia melirik mereka berdua yang ada dikursi belakang.
__ADS_1
Holla guys! Jangan lupa kasi ❤ yah disetiap ceritanya. Dan jangan lupa komentarnya biar aku bisa perbaiki mana yang salah.
Terima Kasih semua 😊