
Herman sangat gencar mencari keberadaan johan, tapi ia tak menemukan johan dilokasi yang sudah fajar beritahu. Ia amat kesal, pria itu sangat mudah melarikan diri. Tapi herman berjanji, ia akan menemukannya dengan cara apapun.
Jingga dan fajar mulai mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan, mulai dari dekor, foto, vidio, undangan, katering dan sebagainya. Kesibukan yang sangat padat dalam menyiapkan pernikahan membuat jingga lupa akan apa yang terjadi. Fajar, papa, mamanya dan yang lainnya tidak pernah membahas lagi kejadian tersebut dihadapan jingga, mereka takut jingga akan mengingatnya lagi hingga menimbulkan trauma yang dalam dalam dirinya.
Fajar menemui bian di penjara. Gelar bian sebagai seorang dokter sudah dicabut, itu ulah dirinya sendiri yang tidak dapat menjaga gelarnya. Dan disinilah fajar saat ini.
"Aku harap kalian bahagia" ucap bian pada fajar yang duduk dihadapannya.
"Terima kasih" balas fajar, yang tak ingin berbasa-basi lagi dengan pria yang ada dihadapannya.
"Aku tahu kamupun mencintainya"
"Bagaimana kamu tahu?" sahut bian terkejut dengan apa yang diucapkan fajar.
"Kamu kira aku ini bodoh apa" balas fajar mencemooh.
"Aku tak ingin berbasa-basi denganmu. Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Dan silahkan pergi dari sini" ucap bian tak ingin berlama-lama bersama calon suami mantan kekasihnya itu.
"Beritahu dimana papamu. kamu pasti tahu dia dimana"
"Aku tak tahu dia dimana"
"Mustahil"
"Selama aku disini, papa dan mamaku tak pernah datang" kata bian dengan suara lirih. Fajar tahu, bian adalah anak satu-satunya johan tapi sangat mustahil orang tuanya tidak datang bahkan untuk menjenguk putranya sendiri.
"Ini untuk dirimu sendiri" kata fajar, membuat bian tertarik dengan apa yang dilontarkan fajar.
"Kenapa?" tanya bian menggali pembicaraan.
"Aku tahu. Kamu juga adalah korban perbuatan papamu"
"Lalu...?"
__ADS_1
"Seorang pria yang mencintai seorang kekasih dengan tulus, ia takkan pernah menyakitinya" kata bian menjeda kalimatnya.
"Ia bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi keksihnya. Dan kamu... " lanjit fajar dengan menunjuk wajah bian yang siap melayangkan sebuah pukulan ke wajah fajar lagi dan lagi.
"dan aku, kenapa?" tanya bian sabar, menantikan fajar melanjutkan ucapannya.
"Kamu baru menyadari bahwa dirimu mencintianya setelah kamu melepaskannya" ujar fajar mengakhiri ucapannya, lalu menatap bian dengan raut wajahnya yang selalu tenang tak tergoyahkan oleh bian yang hampir meledakkan emosinya.
"ku akui. Tapi aku benar tidak tahu papa dimana" jawab bian mulai meluluh.
"Baiklah. aku tidak akan bertanya lagi, dan tidak akan memaksa lagi. tapi ingatlah, jika aku menemukan papamu, ia akan selesai bersama om herman"
"Aku tidak perduli papa. Bolehkah aku minta tolong padamu?"
"Apa? jika aku bisa bantu, maka aku akan bantu. tapi jika tidak bisa maka tidak bisa"
"Tolong jaga mamaku. Dewi" pinta bian menatap sendu fajar. "Dan tolong jaga jingga untukku" lanjutnya lagi lalu berdiri dari duduknya meninggalkan fajar seorang diri yang menatap bian kembali masuk dalam jeruji besi.
*Hari pernikahan
Konsep outdoor yang selama ini tergiang-giang dibenak jingga akhirnya dapat ia lakukan pada pernikahannya sendiri. Kursi-kursi untuk tamu sudah berjejer sebelah kanan dan kiri dan berbagai makanan mewah sudah tersedia. Dihadapan para tamu undangan, fajar sudah berdiri disana menunggu herman membawa jingga kesana.
Setelah fajar melafazkan akad dengan sangat lancar tadi pagi, inilah waktu untuk resepsi. Ya, mereka sudah sah menjadi suami istri.
Fajar menantikan jingga dengan gugup, para tamu undanganpun sudah tidak sabar ingin melihat pengantin perempuan.
"Wow... " kagum salah seorang tamu yang duduk dibarisan belakang, dan mengalihkan perhatian fajar yang berdiri menghadap laut sedari tadi. Ia berbalik, melihat ada gerangan apa. Dan kamu tahu, disana jingga datang bersama papanya dengan balutan gaun berwarna krem yang menjulur diatas tanah.
"Aku mencintaimu" gumam fajar yang hanya memang ia yang dapat mendengarnya.
Jingga tersenyum melihat fajar yang sudah menunggunya didepan para tamu disana. Ia sangat tampan dengan memakai tuxsedo yang senada dengan warna gaunnya.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik putriku" bisik papanya.
"Terima kasih papa. Papa juga tampan hari ini" balasnya.
Herman sudah sampai didekat fajar, ia menjulurkan tangan jingga pada fajar yang disambut dengan senyuman terbaiknya.
"Jagalah ia dengan nyawamu" kata herman sedikit menyeka air mata yang ingin keluar di pelupuk matanya.
"Baik pa" sahut fajar tersenyum menenangkan mertuanya itu. Lalu herman meninggalkan mereka dialtar, duduk dibarisan terdepan disebelah istrinya, menyaksikan putrinya dan menantunya itu mengucapkan janji suci.
"Now, Mrs Jingga?"
"Lemparkan?" tanya jingga.
"Yaa lemparr... " sorak tamu menunggu jingga melempar buket bunga.
Mereka berdiri membelakangi tamu, bermain-main melempar buket, hingga akhirnya mereka melempar buket tersebut.
Dan salah satu teman jingga dari Kuala Lumpur lah yang mendapatkan bunga yang dilempar pengantin. Konon, katanya jika seseorang mendapatkan bunga yang dilemparkan oleh pengantin, sosok yang memperolehnya akan segera melepas masa lajangnya. Katanya sih gitu hehe...
Kira-kira begitulah acara resepsi outdoor jingga dan fajar hehe. Sebenarnya author juga pengen resepsi gitu huhu 😥😛
Holla guys! maaf baru bisa update huhu...
Author sedikit mengambil cuti untuk Holiday...
Dan, takkan mengambil cuti untuk Holiday lagi deh. Sangat mengecewakan huhuu...
Love, vote and share guys. Jangan lupa ❤💃💃
Si johan belum ketemu, sembunyi dimana dia? 🧐
__ADS_1