
Jingga dan fajar berjalan berdua bergandengan tangan, menyusuri jalan dan menikmati matahari yang sedang naik ke permukaan. Sungguh indahnya.
"Cantik... " kata jingga lembut.
"Kayak kamu" sahut fajar.
"Terima kasih"
Drtt drttt...
"Ya. Halo"
"Pak, anda harus berhati-hati"
"Apa yang terjadi?" tanya fajar menghindar dari jingga, agar ia tak mendengar percakapannya dengan salah satu informannya.
"Johan, ada disana saat ini"
"Apaa?" balas fajar nyaris berteriak.
"Jelasnya posisinya saya tidak tahu dimana pak. Saya hanya tahu dia disana" jelas informannya melalui telepon.
"Baiklah" jawab fajar mengakhiri panggilan masuk tersebut.
"Ada apa?" tanya jingga yang memperhatikan fajar sedari tadi.
"Ahh tidak ada. Aku kita sarapan" ajak fajar mengulurkan tangannya.
"Hm... " sahutnya, lalu meraih tangan fajar kembali ke kamar hotel untuk menikmati sarapan mereka disana yang sudah disediakan oleh pihak hotel.
Beberapa jam kemudian, jingga sedang asyik bermain dengan ponselnya diatas ranjang. Tiba-tiba saja ada beberapa orang berbadan kekar masuk kesana dan berdiri membelakangi dirinya.
"Kalian siapa?" tanya jingga terkejut namun tetap waspada. Tidak ada satupun dari mereka bertiga yang menjawab pertanyaannya. Jingga meraih kembali ponselnya yang tadi terjatuh diatas ranjang, menelpon fajar yang pergi keluar sejenak namun tidak kembali juga sampai saat ini.
"Halo sayang. Kamu dimana?" tanya jingga ketakutan.
"Sayang, ada apa denganmu. Apa terjadi sesuatu?" tanya fajar dari seberang.
"Ada beberapa orang pria masuk kekamar"
"Ohh tenang sayang. Mereka adalah orang yang aku sewa untuk menjagamu ketika aku tidak bersamamu" jelas fajar.
"Benarkah?" tanya jingga dengan penuh keraguan.
"Iya sayang. Aktifkan saja pengeras suaranya" kata fajar, lalu jingga menekan lengeras suara yang ada diponselnya.
__ADS_1
"Listen to me. I do not want to find the slightest blister on my lover. Look after it well. If not, I'll sue your security company" Tegas fajar dari seberang.
"Yes sir" jawab mereka serentak. Mereka sudah seperti pasukan tentara yang mematuhi perimtah komandannya.
"Baiklah sayang. Aku akan kembali sebentar lagi setelah segalanya selesai" kata fajar langsung menutup panggilan telfonnya tanpa menunggu jingga menyahutnya lagi.
"Aish... Ada apa ini sebenarnya?" teriak jingga frustasi, menatap tiga orang pria berbadan kekar yang ada dihadapannya dengan menggelika.
Jingga tidak perduli akan keberadaan mereka disana yang menjaganya bagai seorang putri kerajaan. Ia mengambil beberapa cemilan yang ada, dan menuangkan segelas jus lalu duduk didepan televisi yang tersedia disana. Ia sungguh bosan, fajar meninggalkannnya sendirian dikamar, ingin keluar untuk melihat pantaipun ia sudah tidak berselera, karena cuacapun samgat mendukung. Panas *** huhu...
Ia bangun dari duduknya, berjalan dibelakang pengawal yanh disewakan fajar untuknya. Ia melihat tampang pengawal tersebut, namun mereka sama sekali tidak terusik dengan tingkah jingga.
"Kaku amat" celetuk jingga, berdiri dihadapan pengawal nomer tiga, yang entah sejak kapan ia memberi nomor urutan kepada mereka.
"Hei hei" panggil jingga sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah pengawal nomer tiga. Merasa tidak mendapat respon, jingga mengulangi hal sama pada nomer dua dan satu.
"What happen with you, you and you!" teriaknya dihadapan pengawal sambil menunjuk wajah mereka secara bergantian.
"Im sorry madam"
"What?" kata jingga terkejut, tidak percaya bahwa mereka amat kaku.
"Baiklah. Ini ambil dan makan. Aku hanya takut kalian akan mati kelaparan" kata jingga memberikan beberapa bungkus makanan ringan yang ia miliki kepada pengawal tersebut.
"Sorry madam" ulang salah seorang pengawal mengingatkan jingga untuk tidak bersikap berlebihan.
"Baiklah. Jika kalian tidak ingin menerimanya. Kalian harus tahu, orang indonesia sangat ramah loh" katanya yang menggoda para pengawal, namun mereka tak sedikitpun berkutik.
***
"Aku tidak ingin menemukan sedikitpun lecet pada kekasihku. Jagalah dengan baik. Jika tidak, aku akan menuntut perusahaan keamananmu" Tegas fajar.
"Baik pak" jawab mereka serentak dari seberang telpon. Lalu segera mematikan ponselnya. Merasa aman telah ada yang menjaga jingga dihotel, ia kini sedang berada dihotel yang sama namun, didalam kamar yang berbeda dengan pemandangan pantai yang sangat indah.
"Pa, fajar berharap kita kali ini berhasil" harap fajar pada mertuanya yang tiba di maldives pagi tadi setelah informannya mengabari keberadaan johan.
"Apakah suruhanmu sudah mengepung kamar tersebut?" tanya herman.
"Sudah pa. Saatnya kita keluar menuju kesana"
"Ayo. Habisi pria tua itu" kata herman berjalan dengan cepat kekamar yang sudah mereka kepung.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba didepan lintu kamar johan. Salah satu Suruham fajar mengetuk pintu, tidak lama berselang, johan muncul dihadapan pintu dengan handuk yang melilit pingangnya.
"Kamu siapa?" tanya johan pada pria tersebut, disana tidak terlihat fajar dan johan. Mereka bersembunyi dibalik badan kekar orang suruhannya.
"Disini kami rupanya!" seru herman dari balik badan, langsung mendorong johan masuk kedalam.
__ADS_1
Sebuah suara jeritan wanita terdengar menggema, ketika herman dan fajar secara bergantian memberi ucapan salam dengan sebuah tinju diwajahnya dan perutnya.
"Wah. Istri kedua?" tanya herman setengah meledek, menatap wanita tersebut yang menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Bagaimana kamu tahu aku disini?" tanya johan terengah-engah karena ia sudah tumbang. padahal hanya baru mendapat dua pukulan sudah K. O.
"Hahaa... bagaimana aku tahu? kau tidak mengenal aku johan?" tanya herman yang mencengkeram leher johan membuatnya harus berdiri menahan sakit dicengkram herman.
"Om johan. Saranku, kembali dan bebaskan bian" kata fajar yang berdiri disamping tak jauh dari sana melihat herman yang menikmati menghukum johan.
"Apa yang kamu lakukan padanya? brengsek!" umpat johan mencoba melepaskan cengkraman herman dilehernya.
"Dia ada didalam sel tahanan" kata herman mengejek, namun itu adalah kenyataannya.
"Dan istrimu menunggumu" lanjut fajar.
"Dan kau malah bermain dengan wanita lain disini" ujar herman memprivokasinya.
"Lepaskan herman" mohon johan meronta-ronta minta dilepaskan.
"Apa yang kau lakukan pada putriku? hingga kamu layak untuk dilepaskan?" tanya herman sengit.
"Baik.. ba... ik lah. A...ku me...nye...rah. Lepas...kan a...ku her... her... ma... n" kata johan terbata-bata, hampir kehilangan nafasnya.
Herman melepaskan cengkramannya dileher johan, namun tak sampai disana. Ia melihat wanita yang masih berada disana menyelimuti dirinya menyaksikan pria yang bersamanya terjatuh tak berdaya.
"Hei. Apa yang kau lihat? pergilah dari sini!" bentak herman tak ingin melihat wanita dihadapannya saat ia sedang menahan amarah. Wanita itu langsung memungut pakaiannya, pergi kekamar mandi mengganti pakaiannya lalu pergi dari sana dengan ketakutan.
"Uhuk... uhukk" suara johan terbatuk, mengalihkan perhatian fajar dari herman. Ia menatap sekilas akhir dari Seorang johan.
"Hei kamu penjaga" panggilnya pada seorang orang suruhannya yang tadi mengetuk pintu.
"Ya pak"
"Antar wanita itu dengan selamat" perintah fajar.
"Kamu sangat peduli dengan seorang wanita asing" ejek mertuanya herman, menatap sinis fajar.
"Dia tidak bersalah" jawab fajar sekenanya.
"Hm baiklah"
"Ikat dia, bawa ke helikopter" perintah herman.
"Fajar, kembalilah pada jingga. ia pasti khawatir" saran herman sambil menepuk pundak fajar, lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Sebelum mengikatnya, orang suruhan fajar sudah menggantikan pakaian johan. Lalu menyeretnya ke helikolter milik herman di helipad.
__ADS_1
Fajar kembali ke kamarnya, dan menyuruh pengawal yang ada disana untuk kembali ke kantor mereka. Jingga tampak bahagia ketika melihat fajar kembali. Ini sudah petang, ia mengira akan tidur sendiri malam ini tanpa fajar.
Holla guys! Love, like and share jangan lupa yuhuu 💃❤❤❤