Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Mencoba Ceria


__ADS_3

*Seminggu kemudian


Bian sudah berada didalam sel, saat ini herman masih mencari keberadaan Johan, papa bian. Johan melarikan diri setelah melakukan penculikan atas putrinya.


"Papa tidak pernah bisa menerima ini" ujar herman pada vera. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang.


"Kita harus bawa jingga ke psikolog" usul vera.


"Sudah kita lakukan"


"Kita bawa ke psikolog lainnya" ujar vera dengan nada khawatir.


"Apa yang terjadi dengan putriku?" gumam herman mengusap wajahnya.


"Ohh putriku yang malang"


"Ma, papa akan menemukan johan. Ini sudah jelas ma semua ini rencana dia"


"Sabar pa" kata vera mengusap lengan suaminya.


Mereka terdiam, menatap kosong kehalaman yang asri dihadapan mereka.


"Om, tante... "


"Fajar... "


"Om, tante. Fajar udah tahu dimana dia" kata fajar.


"Bagus. Kita tangkap dia sekarang" kata herman bangun dari duduknya.


"Sebelum itu om. Fajar mau liat jingga dulu sebentar" kata fajar.


"Silahkan. pergilah kekamarnya. Kamu kirimkan saja posisi johan dimana. Om akan bergerak bersama herdra"


"Baiklah om" jawab bian mengeluarkan ponselnya, mengotak atik sesuatu disana lalu menyimpannya kembali kedalam sakunya.


"Sudah om"


"Baiklah om akan berangkat. Terima kasih fajar"


"Tidak perlu sungkan om. Ini juga tanggung jawab fajar" katanya tersenyum kepada herman dan vera yang masih duduk disana. Sedangkan herman langsung meninggalkan mereka berlalu dari sana menuju lokasi yang diberitahukan fajar.


"Fajar. Jingga dikamarnya. Dia belum makan apapun sedari tadi" kata vera membuat fajar tertegun.


"Tante udah coba?"


"Sudah berbagai cara tante coba. Tapi dia gak mau. mungkin dengan kamu dia mau"


"Baikalh tante. Fajar akan siapkan makanan kesukaannya" kata fajar meninggalkan vera yang masih duduk disana meuju dapur, memasak makanan kesukaan jingga.


Fajar tahu benar apa yang jingga suka. Ia membuat spageti bolognese kesukaan jingga. Tiga puluh menit kemudian fajar sudah selesai memasak. Ia sudah menyajikannya diatas piring. Tidak lupa, ada air mineral yang ia tuangkan kedalam gelas berwarna bening. Jingga tak pernah suka jika menyantap spageti dengan minum jus, menurutnya itu tak sesuai dengan selera lidahnya. Ia lebih suka minum air mineral, lebih sehat menurutnya.


Tok... tok... ketuk fajar dipintu kamar jingga.


"Sayang... "panggil fajar pelan.

__ADS_1


Klik... jingga membuka pintunya dengan wajah muram.


"Sudah makan?" tanya fajar dengan penuh perhatian.


Jingga menggelengkan kepalanya, lalu melihat apa yang fajar bawa diatas nampan. Sedikit terlihat gembira, namun hanya sekilas ia memperlihatkannya.


"Apa aku boleh masuk sayang?" tanya fajar mengalihkan tatapan jingga yang menatap spageti yang dibawa fajar untuknya.


"Masuklah" ujar jingga mempersilahkan masuk.


Fajar meletakkan nampan diatas meja milik jingga. Kamar jingga cukup luas, ada sebuah sofa yang terletak didekat jendela, memperlihatkan taman bunga yang ada di samping rumahnya.


"Aku membuatnya spesial untukmu" kata fajar yang sudah duduk diatas sofa.


"Benarkah?" tanya jingga menatap nampan tersebut.


"Makanlah"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Suapi aku" kata jingga memelas.


"Wow. Manjanya" kata fajar menggoda.


"Menggodaku?"


"Of course. Bukankah kita akan menikah? sedikit godaan tidak buruk bukan?"


"Kamu inginya kapan?" tanya fajar balik.


"Kamu siapnya kapan?"


"Bulan depan?"


"Dua minggu lagi" ujar jingga menetapkan.


"Wow. Sudah tak sabar ya?" goda fajar lagi.


"Suapi aku sampai habis" kata jingga tanpa mengubris godaan fajar, membuat fajar hampir tertawa cekikikan.


"Jangan tertawa" kata jingga mengingatkan.


Hampir saja fajar meledakkan tawanya, jika tak diingatkan jingga, ia sudah meledak sedari tadi. Wajah jingga tampak ceria, ketika melihat fajar. Melihat jingga seperti saat ini, membuatnya teduh.


"Jangan ingat apapun. Lupakan saja hal yang buruk" kata fajar menarik jingga dalam pelukannya.


"Apakah aku bisa?" tanya jingga dalam pelukan fajar.


"Kenapa tidak? Senja yang kukenal ia begitu kuat dan bersinar" ujarnya menjeda ucapannya sambil meraih tangan jingga yang bebas lalu menggenggamnya.


"Semua pasti akan baik-baik saja" lanjutnya mengeratkan pelukan.


Jingga mengangkat wajahnya yang sedari tadi ditekuk dalam pelukan fajar, menatap fajar dari mata lalu turun ke bibirnya. Bukan fajar tak tahu arti tatapan jingga. Fajar mendekatkan wajahnya, tangannya bergerak menekan tengkuk jingga, hidung mereka bersentuhan. Lalu bibir fajar sedikit demi sedikit menyentuh bibir jingga, mengecupnya sekali.

__ADS_1


Jingga menatap mata fajar yang juga menatap matanya. Fajar tak tahan, jingga memang sangat menggoda. Ia lalu mencium bibir bawah jingga, tak sampai disana, ia mengulum bibir jingga, mengulangnya sampai beberapa kali. Sesekali fajar membuka matanya, ia melihat jingga menutup matanya menikamati setiap pergerakan fajar.


Jingga semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya yang bebas meraih kancing kemeja yang dipakai fajar, membukanya satu persatu. Fajar melepaskan lumatannya dengan terengah-engah, menatap jingga tangannya menghentikan jingga membuka kancing kemejanya.


"Tidak sampai disini sayang" kata fajar masih menatap jingga dengan dalam.


"Kenapa?" tanya jingga.


"Karena aku, sangat menghargaimu" sahut fajar mengancing kembali kemejanya.


"Pernikahan akan dipercepat" kata fajar memutuskan.


"Bolehkan?" tanya jingga lemah.


"Why not? Ini impian kita sedari dulu. dan aku tak akan membiarkan siapapun menyakitumu. bahkan diriku sendiri. Ini janjiku"


"Janji...?"


"Ya. Aku berjanji"


"Dan tidak akan ada wanita lain selain aku"


"Tentu. Tidak akan lrnah ada sayang"


"Baiklah" kata jingga menggeser duduknya ke sudut sofa.


"Kita harus mulai darimana?" tanya jingga semangat.


"Mulai dari konsepnya?" usul fajar dengan wajah ceria.


'Apapun untukmu senjaku' batin fajar menatap jingga yang sedang berpikir mengenai konsep apa yang ia inginkan.


"Bagaimana dengan konsep pantai?" usul jingga yang menemukan ide konsep untuk pernikahannya.


"Outdoor? Hm... aku sudah menduganya" kata fajar ikut berpura-pura menimbang usul jingga.


"Kamu sudah menduganya, tetapi memasang gaya sedang menimbang usulku?"


"Hm... tidak boleh yaa?" ledek fajar yang membuat jingga melemparkannya dengan bantal sofa yang ada didekatnya.


"Kamu payah" ujar jingga memasang wajah cemberut.


"Oh tidak tidak sayang. Aku terima semua usul kamu" kata fajar membuat jingga kembali ceria.


"seharusnya begitu" balas jingga sambil menjulurkan lidahnya.


"Kamu yaa... " kata fajar mendekati jingga lalu menggelitikinya.


Jingga meminta ampun fajar, ia tak sanggup menahan fajar menggelitikinya itu sungguh mengelikan. Dibalik pintu, vera menguping pembicaraan fajar dan jingga. Jingga sudah tertawa saja, sudah membuatnya sangat senang.


"Tidak lama lagi. Aku akan menyiapkan segalanya" gumam vera, mama jingga dibalik pintu lalu pergi meninggalkan dua anak manusia yang sedang kasmaran itu.


Holla guys! Jangan lupa ❤ dan like nya yah. Dan jangan lupa SHARE! hehe 💃💃💃


Maaf netijen, author seorang gadis biasa saja kok. Author sebenarnya malu, buat paragraf diatas itu 🤫 Monmaap guys huhu 😥

__ADS_1


Terima kasih guys! Jangan lupa yah! hehe 💃💃


__ADS_2