Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Rumahnya


__ADS_3

"Kamu kuliah di KL yaa?" tanya bian tiba-tiba.


"Hm... "


"Hm? Hm? selalu gitu jawabnya. Apasih susahnya jawab Iya doang" gerutu bian dalam hati kecilnya.


"Kanan" kata jingga singkat. "Berhenti didepan rumah No. 05 pagar putih" lanjutnya.


"Siap" Jawab bian semangat.


Mobil berhenti didepan pagar rumah sesuai yang diminta jingga. Jingga keluar dari mobil hendak menutup pintu mobil, tapi ia berhenti sejenak.


"Kamu balik aja, dan gausah tungguin aku" kata jingga pada bian yang dibalas ekspresi heran bian, tapi bian menurutinya.


Mobil yang ditumpangi jingga sudah pergi meninggalkan jingga yang sedang berada didepan pintu sebuah rumah. Ia ragu ingin mengetuk tapi ia tak punya keberanian, akhirnya ia beranikan diri untuk mengetuk.


"Aku hanya rindu" gumamnya pelan nyaris tak terdengar.


Tok... tok... suara ketukan pintu, tak lama kemudian seseorang membukanya.


"Jingga... " katanya.


"Apa kabar bunda" tanya jingga dengan memasang wajah sendu.


"Bunda baik. Ayo masuk sayang" Kata wanita itu sambil mengiringi jingga kedalam.


Mereka berdua duduk diruang tamu, lalu seseorang datang membawakan nampan berisi dua cangkir teh.


"Terima kasih mbak" kata jingga, yang hanya dibalas senyuman olehnya.


"Jingga udah lama gak kemari" kata bunda.

__ADS_1


"Iya bunda, maafin jingga ya. Jingga rindu bunda, rindu dia... " kata jingga sambil menundukkan wajahnya.


"Jingga... jangan buat bunda nangis" jawab bunda sambil mengenggam tangan jingga.


"Bunda... jingga rindu fajar" ucapnya dengan suara isak.


"Jingga sayang... " panggil bunda menenangkannya sambil memeluk jingga.


"Bunda jingga udah gak sanggup"


"Apa yang harus bunda lakukan sayang?"


Jingga melepas pelukannya, lalu meraih tas yang ia kenakan mengambil sesuatu didalam sana.


"Bunda, jingga udah gak sanggup nyimpan cincin ini" katanya sambil memberikan cincin bermata ke genggaman wanita itu.


"Apa kamu sudah punya pengganti anak bunda?" tanya bunda menatap nanar jingga yang hampir pernah menjadi menantunya itu.


"Nak, udah hampir setahun fajar ninggalin kita semua. udah saatnya juga untuk kamu memulai hidup baru" nasihat bunda.


"Tapi jingga belum nemu yang kayak fajar bun"


"Pasti akan kamu temukan nak. Pasti" jawab bunda memastikan. "Jangan menyerah, lanjutkan hidup dan yang paling penting pastikan kamu bahagia sayang" jelas wanita yang hampir menjadi mertua jingga itu.


Setelah jingga menyeruput tehnya yang hampir dingin, ia pamit pulang. Menghapus sisa-sisa air matanya agar tak terlihat selesai menangis.


"Jingga pamit tante" katanya izin untuk pulang.


"Hati-hati sayang" kata bunda sambil memeluk erat gadis tersebut.


"Maaf jingga, tante harus berbohong"batinnya sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


ia berjalan kaki menyusuri jalanan itu, ia ingin memesan taksi, tapi ia ingin menikmati perjalanannya kali ini dengan merenung.


'Aku tak tahu kemana jalan hidupku akan membawaku, kuharap Tuhan memberiku kesempatan untuk bahagia' batinnya, sambil memandang langit yang sedikit mulai menandakan akan turun hujan.


***


Bian mengendarai mobilnya dengan pelan, mengikuti gadis anak pemilik rumah yang sedang berjalan sendirian agar tidak ketahuan karena gadis tersebut sudah menyuruhnya pulang tadi.


"Sebentar lagi hujan, dia kok gak telfon aku ya" katanya pada dirinya sendiri.


"Eh. Diakan gak punya nomorku" katanya lagi pada dirinya. "Ahh bodohnya aku" katanya sambil menepuk kepalanya sendiri.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras, ia melihat jingga masih berjalan seperti tak menyadari hujan turun. Akhirnya bian melajukan mobilnya berhenti dihadapan jingga, dan membuka pintu agar jingga masuk.


"Apa?" tanya jingga dengan terherannya.


"Udah masuk aja, hujan nih. Disambar geledek ntar"


Jingga masuk, duduk disana dengan pakaian yang basah kuyup.


"Aku matiin Ac nya ya" kata bian sambil menggerakkan tangannya mematikan ac. Tapi jingga tak perduli apapun yang dilakukan bian, ia tak tertarik.


"Aku udah nyuruh kamu pulang tadi, kenapa balik lagi?" tanyanya pada bian yang sedang asik menyetir.


"Aku khawatirin kamu tahu. kalo aku pulang sendirian tanpa kamu, aku bakal kena marah sama ibu" jelasnya.


"Kalo kamu dimarah ibu, bilang ke aku aja" kata jingga.


Hanya anggukan sebagai jawaban bian. Suasana kembali hening seperti saat bian menjemputnya dari pantai.


*Holla guys! Ayo kasi ❤ disetiap episode ceritaku. Dan, jangan lupa kasinkomentar kamu yah! Terima Kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2