
Fajar menyewa beberapa orang untuk mencari informasi mengenai bian. Dalam seminggu informannya memberi informasi yang sangat bermanfaat.
"Ternyata hanya sebuah obsesi... " gumamnya.
Fajar meletakkan berkas berisi informasi tersebut, dan mengambil sebuah kertas yang dipinggiran kertas tersebut terbingkai dengan corak yang sangat menarik. Tercantum sebuah nama yang sangat ia rindukan sedari dulu.
Bian dengan beraninya mengantarkan sebuah undangan pertunanganan kerumah fajar. Bunda fajar yang menerima undangan tersebutpun syok, tak menyangka jingga benar-benar meninggalkan fajar.
"Aku harus datang..." gumamnya.
Ia bergegas bangkit dari duduknya, keluar meninggalkan ruang kerjanya.
Dua jam kemudian, ia telah siap dengan setelah tuxsedo nya. Ia tak lupa sebelum pergi kesana, ia sudah meminta indah bersiap juga. Ia akan pergi bersama indah kesana.
Indah sudah menunggu fajar diruang tamu. Penampilan indah sempurna, sangat sempurna ketika disandingkan dengan fajar.
***
Jingga sudah selesai bersiap, sebentar lagi ibunya akan datang menjemputnya untuk keluar menemui para undangan.
"Ya ampun mbak, bik inah gak nyangka loh ternyata si bian itu seorang dokter" kata bik inah yang sedari tadi merapikan kamar jingga yang berantakan.
"Dan sebentar lagi dia bakal jadi tunangan mbak jingga. Bibik senang banget lo mbak. Cocok sekali dengan mbak jingga"
Jingga tak merespon sedikitpun ocehan bik inah, ia termenung menatap cermin.
"mbak jingga... " panggil bik inah sambil menyentuh pundaknya.
"Ahh iyaa bik... " sahut jingga terkejut.
__ADS_1
"mbak gak apa-apa...?" tanya bik inah cemas.
"Gak kok bik" jawab jingga tersenyum, meredakan kecemasan jingga.
"Bik inah... " panggil jingga ketika bik inah akan keluar meninggalkannya.
"Bisa bantu jingga bik?" tanya jingga setengah memohon.
***
Fajar dan indah sudah berada dihalaman rumah jingga. Jingga selalu membuat acara bertema outdoor, selalu memanfaatkan halamannya yang luas.
"Pasti mamanya yang menyusun semua ini" kata fajar terpukau dengan dekorasi mewah yang bertengger di setiap sudut.
"Mamanya memang berkelas" lanjutnya.
"Yah. Akupun berhasil dibuat terpukau" ujar indah yang sedari tadi mengekor fajar seperti anak ayam yang tak ingin kehilangan induknya.
"Rian... rian... " panggil sebuah suara yang fajar kenali sebagai mamanya jingga.
"Iya tante... " sahut rian sepupu jingga.
"Rian, jingga menghilang!" seru mama jingga panik.
Apa yang didengar fajar ini bagai sambaran petir, bagaimana mungkin jingga menghilang.
"Tante, bian udah tahu?" tanya sepupunya.
"Belum. Tante mau kasih tahu dia dulu ini. kamu cari jingga yaa" pinta mamanya jingga sambil pergi berlalu melewati fajar dan indah.
__ADS_1
Mungkin mamanya jingga tak melihat fajar duduk disana. Mamanya sangat panik. Fajar melihat dari jauh, saat mamanya jingga memberitahukan bian bahwa jingga menghilang.
"Kamu mending cari dia gih" kata indah tiba-tiba.
"Kenapa aku harus cari dia?" tanya fajar acuh. Padahal didalam hatinya, ia sungguh sangat khawatir pada jingga saat ini.
"Kamu gak akan pernah bisa bohongin diri kamu sendiri"
"Sok tahu kamu"
"Lihat ke arah jam sembilan" ujar indah memberi arahan.
Fajar melihat arah yang ditunjuk indah. Ia melihat bian mulai bergerak mencari jingga.
"Masih mau duduk disini?" tanya indah setengah mengejek sepupunya itu.
"Aku pergi dulu" kata fajar bergegas meninggalkan tempat acara.
"Jika dia sudah kembali, beritahu aku secepat mungkin"lanjutnya.
"Hm... "balas indah dengan gumamannya.
Fajar mencari ke berbagai tempat dimana tempat yang sering dikunjungi jingga. Tapi ia tak menemukan jingga disana. Hanya satu tempat yang bekum ia datangi, tapi tak mungkin jingga disana. itu sangat mustahil. Ini sudah malam, bahkan hampir larut malam.
"Tak ada yang tak mungkin... " gumamnya.
Ia memutar stir mobil, berbalik arah menuju tempat yang diyakininya jingga berasa disana.
Holla guys! ❤❤❤
__ADS_1
Kira-kira dimana jingga yaa hm... hm...