Sesak Yg Menyeruak

Sesak Yg Menyeruak
Sesak yg menyeruak


__ADS_3

"Makanya harus sayang sama suami, suami banting tulang nyari kerja buat siapa? kalo bukan buat kamu."


siang itu ibu mertua berkata seperti itu padaku dengan nada sinis, aku gak bicara sepatah katapun untuk menjawab omongan ibu mertuaku itu, rasa sedih dan sesak yg kurasakan,masih dengan nada yg sama ibu mertua berucap lagi "d suruh jangan nikah dulu belum punya kerjaan malah pada ngeyel nikah, sekarang belum juga dapat kerjaan udah mau punya anak, gimana gak pusing jadi orang tua mikirin nya"


"Ya Alloh... dalam hati aku berkata, kita nikah gak sedikitpun menyusahkan mereka, bahkan pas hari d mana!,mungkin bagi kebanyakan orang hari pernikahan adalah hari yg istimewa d mana kebahagiaan dua keluarga bisa bersatu dalam acara yg sakral.


namun bagiku dan suamiku pada saat acara pernikahan berlangsung ada rasa sedih yg mungkin sampai kapanpun takan pernah bisa untuk d lupakan, karena suamiku hanya seorang diri d hari yg sakral buat kami berdua."


Tak ada satu orangpun keluarga dari suamiku yg menghadiri acara pernikahanku.keluarga ku pun hanya bisa menerima, dan memahami kondisi keluarga suamiku saat itu.


"Nama suamiku Aditya berasal dari Jawa Tengah, dia anak ke dua dari lima bersaudara. Empat anak laki-laki dan satu anak perempuan. sedangkan namaku Reyna anak ke empat dari empat bersaudara, Asal ku dari Jawa Barat.


kami pertama bertemu d cikarang, Bekasi pada saat aku masih bekerja d suatu mall d kawasan cikarang.


berawal d siang itu pas aku mau berangkat kerja. "mas nitip jemuran y aku berkata pada mas Aditya tanpa tau namanya waktu itu.


oh iya mbak tenang aja", dia menjawab dengan seulas senyum,"terimakasih ya mas,sama-sama mbak."


"Gak kerja mas? aku bertanya lagi lalu dia menjawab, lagi cuti mbak...!,oh ya udah aku berangkat dulu ya mas, sembari berlalu aku pun pamitan padanya... iya mbak hati-hati di jalannya. ok....! "

__ADS_1


Hari Pun berganti, aku bertanya dalam hati "ko itu orang gak berangkat- berangkat kerja?" secara kontrakannya persis depan kontrakan ku otomatis ngeliat terus. akhirnya dengan penasaran aku bertanya pada dia.


"mas ko blm berangkat kerja? dengan senyumnya yg khas dia menjawab... sembari malu-malu hehe aku berhenti dari tempatku bekerja mbak pengen cari pengalaman baru katanya, oalah pantesan ko cuti lama banget" kataku. dari situlah kami jadi akrab karena serinya berpapasan dan ngobrol.


Gak tau gimana awalnya karena seringnya ngobrol jalan bareng mulai timbul desiran aneh setiap kali dekat dengannya, padahal waktu itu aku sudah mempunyai pacar sama-sama berasal dari Jawa Tengah namun berbeda daerah, hubunganku dengan pacarku itu udah lumayan lama, 4th sudah hubungan tali kasih antara aku dan pacarku itu (Ardyan nama pacarku).


Aku hanya bisa bertemu seminggu sekali sama mas Ardyan karena tempat kita bekerja beda daerah, gak jauh jauh amat sih cuman butuh waktu 1jam jarak antara tempatku dan mas Ardyan.


Mas ardyan sosok laki-laki penyayang dan perhatian, dia gak pernah sekalipun menyakitiku dalam perkataan maupun perbuatan,keluarga besar ku menyetujui hubunganku dengan mas Ardyan, begitupun sebaliknya, aku merasa punya saudara perempuan d tempat perantauan karena kakaknya mas Ardyan begitu perhatian terhadapku,berlaku baik terhadapku.


namun jodoh gak ada yg tau, mungkin mas Ardyan bukan jodohku, malah aku menikah dengan mas Aditya yg baru 1th ku kenal.


Dari rasa kasihan tumbuh rasa lebih yg sama-sama kita rasakan.


Akhirnya mas Aditya bisa dapet kerjaan juga sama satu kerjaan denganku cuman beda bagian.


karena satu kerjaan dia begitu over protective terhadapku, lingkungan pertemanan d batasi,jadwal masuk kerja harus bareng, berangkat kerja, istirahat, pulang kerja harus bareng-bareng dia terus. aku salah sedikitpun dia bisa marah padaku ya Alloh hanya bisa diam, sedih yg kurasakan,meskipun kesalahan tak sengaja kulakukan dia gak mau terima,begitu egoisnya!.terkadang rasa sesal pun percuma.


sampai akhirnya pada saat itu, aku menerima telpon dari ibuku, "Asalamuallaikum Rey... waalaikumssalam bu, gimana kabarnya sehat bu...? bapak juga gimana kabarnya bu...? bapak alhamdulillah sehat nak, namun ibu... terdengar suara ibu bergetar dan menggantungkan kalimatnya,bu... ibu kenapa? ibu sakit nak!, ibu harap kamu pulang nak karena kamu harapan ibu satu-satu nya yg bisa ngerawat ibu saat ini.Ivanka sudah berkeluarga gak mungkin ibu minta tolong kakakmu itu, buat ngurusin ibu,begitupun dengan Dirga kakakmu kerja untuk menafkahi istri dan anak nya, sedangkan Beni gak mungkin bisa mengurus ibu nak walaupun dia belum berumah tangga namun kurang enak aja ibu minta tolong sama dia untuk ngurusin ibu",dengan isak kan ibuku mengutarakan apa yg ia harapkan padaku.

__ADS_1


Ivanka kaka perempuanku anak no pertama, Dirga kaka laki" anak ke dua, dan Beni kakakku no tiga.


Bingung yg kurasakan saat itu... disisi lain aku menghawatirkan kondisi ibuku yg sedang sakit, namun d sisi lain aku berat meninggalkan pekerjaan ku ini,aku di landa dilema harus memilih antara pulang atau mempertahankan pekerjaanku, benar" pilihan yg sulit bagiku saat itu.


Akhirnya aku memutuskan mengundurkan diri d tempat aku bekerja, saat aku memberikan surat pengunduran diri ke kantor, "mas David bicara padaku, Rey pikirkan lagi keputusanmu ini kamu harus mikir orang di luaran sana belum pasti seberuntung kamu bisa bergabung dengan perusahaan kita, masih banyak orang-orang yg susah mendapatkan pekerjaan kaya kamu, coba kamu pikir-pikir lagi".aku diam sesaat memikirkan ada benarnya yg mas Davhit utarakan," tapi mas aku harus tetap berhenti untuk mengurus ibuku yg sakit mas dengan nada bergetar akau mengutarakan lagi maksudku untuk berhenti bekerja".


Akhirnya hari itu juga aku berpamitan bada semua staf kantor untuk undur diri keluar dari perusahan tempatku bekerja salam ini. Kantor perusahaan yg menerimaku sebagai karyawannya di salah satu cabang konter pakaian wanita berada d Cideng, Petojo daerah Roxy.


Dengan langkah gontai aku meninggalkan tempat itu, siang harinya aku sampai juga d kontrakan yg beberapa tahun kutempati.Aku langsung merebahkan diri sambil menerawang jauh memikirkan kata-kata yang di utarakan mas Davit tadi....betapa beruntungnya aku bisa bekerja selama ini, dengan keterbatasanku,aku mempunyai kekurangan d mata kiri ku,sejak kls 2 SMA aku melakukan operasi mata sebelah kiri, mata kiri ku menggunakan mata palsu, akibat kejadian waktu semasa aku duduk d bangku sekolah dasar aku kehilangan sebelah penglihatan ku, namun aku bersyukur di beri rasa percaya diri, dengan selalu rendah diri pada siapapun tak sedikit orang yg berprilaku baik padaku selama ini... terimakasih ya Alloh atas semua yg kau berikan padaku selama ini.Meskipun aku mempunyai kekurangan alhamdulillah yg menyayangiku begitu tulus tanpa memandang dari segi fisik namun yg mereka lihat dari kerendahan hati yg selama ini aku jaga.


Malam harinya aku menemui mas Aditya untuk meminta maaf dan berpamitan mau pulang ke daerah asal ku dengan alasan untuk mengurus ibuku yg sedang sakit.


Terpancar raut kesedihan d matanya karena akan ku tinggalkan, "yang kenapa secepat ini? kamu tinggalkan aku di sini sendirian, kamu udah gak sayang lagi sama aku?,malah pulang ke kampung halamanmu!",dengan suara bergetar dia berucap. "Maafkan aku mas aku gak ada pilihan lain, karena ibuku begitu mengharapkan kehadiranku saat ini, sabar ya mas!,kalo memang kita berjodoh gak bakalan kemana mas, pasti kita akan bertemu lagi! ",dengan hati sedih aku menjawab.Kamipun sama-sama terdiam dlm pikiran masing-masing,tak berselang lama diapun menggenggam erat tanganku dan kemudian memeluk erat tubuhku, dlm pelukan dia berisik padaku, "yang entah apa yg harus aku lakukan kedepannya, selama bersamamu aku merasakan kenyamanan tanpamu entah apa jadinya, tak terasa air mata ini jatuh tanpa bisa ku bendung begitupun mas Aditya".


Mulai ada rasa sesak yg ku rasa karena yg d rasakan olehnya sama juga yg kurasakan adanya dalam waktu beberapa bulan terakhir, selama aku menjalin hubungan dengan nya, meskipun terkadang aku merasa tertekan dengan sikap over protective mas Aditya padaku.


Tiga hari berlalu,saat ini aku sudah berada d tanah kelahiran ku di daerah Jawa Barat. Walaupun berjauhan tak putus hubungan aku dan mas Aditya tetap saling berbagi kabar. Hari pun berlalu, minggu, bulan pun berganti, kami tetap berkomunikasi.


Pada suatu senja aku d kejutkan dengan kehadiran mas Aditya datang ke tempat kediamanku.

__ADS_1


__ADS_2