Sesak Yg Menyeruak

Sesak Yg Menyeruak
pikiran yg berkecamuk


__ADS_3

Aku memandang lekat pada mas Aditya, meminta penjelasan darinya perihal dia keluar dari kerjaannya, "mas kenapa kamu gak bilang dulu ke aku, kamu mau keluar kerja? mungkin dengan kita bicara sebelumnya siapa tau ada cara lain yg bisa kita pikirkan bareng-bareng mas, jujur dalam kondisi seperti ini aku bingung mas gak bisa berbuat apa-apa, aku pun gak punya uang lebih mas.Kalo saja kita punya uang mungkin gak bakalan bingung seperti sekarang ini mas aku berkata pada mas Aditya."

__ADS_1


"Maafkan aku yang jujur aku gak bisa fokus kerja gak ada kamu, kaya udah gak ada lagi semangat dalam keseharian ku, aku mengaku salah karena gak membicarakan dulu masalah ini sama kamu, tapi gimana lagi yang udah terlanjur aku keluar kerja", dia bicara sambil menundukkan kepalanya, mengakui kesalahannya. Di sisi lain aku kasian juga melihatnya tapi ada rasa kecewa juga terhadapnya, kenapa mengambil keputusan dengan terburu-buru. Ya Alloh harus gimana aku mencari jalan keluarnya? secara aku tau keadaan mas Aditya dan kelurga nya seperti apa, tapi aku juga gak mungkin bisa memutuskan mengambil tindakan tanpa persetujuan orang tuaku.Ya sudahlah mas sekarang istirahatlah di kamar atas, semoga besok ada jalan keluarnya. "Sebentar mas tunggu d sini dulu aku beresin dulu kamar atas,iya yang sekali lagi maafin aku ya."

__ADS_1


Dengan langkah gontai ku naikki satu persatu anak tangga yg berada di rumah dengan pikiran yg entah.Tak berselang lama aku sudah berada di ruang tamu, "sana mas istirahatlah dulu d kamar atas, aku pun mau istirahat mendadak kepalaku jadi pusing mas". lalu aku bergegas masuk ke kamarku.

__ADS_1


Dalam pikiran yg berkecamuk aku pun kepikiran sikap ibuku tadi, yg terlihat berusaha ramah terhadap mas Aditya, ada apalagi ya Alloh, aku jadi teringat sewaktu ibu bersikap ramah saat kedatangan mas Ardiyan berkunjung ke rumah, ada sedikit perbedaan dari sikap ibuku, pada mas ardiyan dengan sikap ibu sama mas Aditya. Malam pun sudah mulai larut tapi aku susah sekali memejamkan mata, rasa takut dan sesak menyeruak dalam dada, memikirkan sikap ibuku. pikiran negatif terus berkecamuk dalam benakku takut kedua orang tuaku memberi keputusan yg sulit untukku terima nantinya. Jam menunjukan jam 02,55 dini hari kantuk mulai menghampiri,kumandang adan bergema ku rentangkan tangan dan mulai bangkit dari tempat tidurku bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh,setelah sholat aku langsung ke dapur mempersiapkan masak untuk hidangan sarapan pagi keponakan yg mau berangkat sekolah, begitupun bapakku yang mau pergi mengabdi sebagai kepala sekolah d salah satu sekolah negri d daerah tempat tinggal ku, tak lupa juga aku siapkan sarapan untuk ibuku dan mas Aditya.

__ADS_1


Mas Aditya turun dari kamar atas langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan langsung naik lagi ke kamar atas.waktu berpapasan di dapur, mas Aditya minta lagi maaf padaku... "udahlah mas mau gimana lagi semuanya sudah terjadi, semoga aja ada jalan buat kedepannya mas", aku berusaha menenangkan mas Aditya walaupun tak tau gimana kedepannya yg akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2