
Satu minggu mas Aditya pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah.Hari ini tepatnya sore hari mas Aditya tiba di rumahku, tersirat rasa lelah di wajahnya."Sebentar ya mas aku ambilkan dulu minuman buat kamu, mau sekalian makan mas..?, hanya dengan gelengan kepala ia menjawab pertanyaan ku. ya sudah sebentar ya mas",aku pun berlalu menuju dapur.
"Kelihatan nya kamu sangat lelah sekali mas, pasti kamu kemarin habis berdebat hebat sama bapak dan ibu ya...!, sabar ya mas semoga apa yang mas putuskan bisa menjadi jalan terbaik untuk masa depan mas dan mendapatkan kebahagiaan buat keluarga kita nanti aamiin,kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalani ketetapan yang Alloh garis kan mas,
aku pun bisa paham, mengerti apa yang mas rasakan sekarang, dan mas juga harus sebaliknya bisa memahami posisi aku dan keluargaku mas, aku yakin keluargamu di sana berpikiran apa terhadapku dan keluargaku di sini, tapi bagai mana lagi mas semuanya telah terjadi,aku pun tak bisa berbuat apa-apa mas,hanya bisa pasrah menerima takdir yang sudah Alloh garis kan untuk ku...Iya sayang", hanya ucapan itu keluar dari mulut mas Aditya.
"Sudah ya sekarang gak usah kita terlalu berpikir berat, kita harus bisa menenangkan pikiran kita jangan sampai kita ambruk karena lelah dengan semuanya sayang,ini dokumen yang sudah mas persiapkan untuk persyaratan pernikahan kita nanti, semoga gak ada kekurangan", lalu mas Aditya mengeluarkan dokumen tersebut dari dalam tas ranselnya.
"Iya mas biar aku simpan dulu d kamarku nanti kalo bapak sudah pulang akan ku serahkan pada bapak,Sebentar lagi masuk waktu sholat maghrib mas, bersiap siap dulu sana mas, kamu mandi d tempat tante Indira, aku pun sama mau mandi".
Mas Aditya berdiri dan pamit ke rumah tante Indira, sebelum beranjak mas Aditya memegang erat tanganku dan memandang lekat padaku. "semoga semuanya baik-baik saja ya sayang lalu dia mengedipkan sebelah matanya untuk menggodaku... udah sana ah mas aku pun ikut tersenyum", hal ini yang selalu lolos membuat detak jantungku bertalu-talu.
__ADS_1
Selepas waktu sholat magrib mas Aditya datang lagi ke rumah ku,kebetulan kami semua sedang bersiap siap makan di ruang tengah,"Sini bergabung makan Adit" bapak dan ibu menawari mas Aditya untuk ikutan makan bersama kami.
"Iya Pak terimakasih"...sudah mau di repot kan pak, bu... sudah gak apa-apa makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan bapak pun berucap pada mas Aditya,kami semua makan dengan hidmat sambil sesekali berbincang bincang.
Selesai makan kami pun melanjutkan ngobrol di ruang tamu.
"Gimana Adit keputusan, dan tanggapan keluarga kamu, apa memberikan restu? bapak bertanya pada mas Aditya,
Alhamdulillah pak kedua orang tua saya akhirnya memberikan restu,meskipun awalnya harus ada perdebatan dulu,yang jadi masalahnya dengan kondisi keluarga kami yang tidak bisa membatu biaya untuk pernikahan saya dengan Reyna pak,bapak dan ibu juga sudah melihat sendiri keadaan keluarga saya seperti apa pak, dengan suara bergetar mas Aditya berucap pada bapak dan ibu".
Bapak dan ibu terdiam sejenak dengan pikiran masing".
__ADS_1
"Ya sudah lah Adit kamu harus kuat, sabar mungkin ini ujian buat kamu, bapak pun tidak bisa berkata kata lagi Adit semuanya sudah terjadi, tinggal ambil hikmahnya saja".
Masalah persyaratannya sudah kamu bawa semua? tidak ada yang tertinggal Adit?
Sudah saya persiapkan semuanya pak, tadi Reyna yang menyimpannya.oh ya sudah kalo begitu... besok bapak akan menemui seseorang untuk menanyakan hari baik pernikahan kalian, kamu tulis d kertas ya Adit nama lengkap, dan tanggal lahir kamu, semoga bisa mendapatkan hari baik secepatnya,baik Pak."
lalu ibu berbicara pada mas Aditya, "ibu hanya berpesan sama kamu Adit jangan sampai kamu menyakiti Reyna, semua yang kami lakukan ini karena rasa sayang kami terhadap Reyna, sampai-sampai kami harus menerima kenyataan seperti ini, kalo kamu mau tau apa yang akan orang lain bicarakan, tapi sudahlah, cuman itu yang ibu harapkan dari kamu Adit.
Baik bu ucapan ibu akan saya ingat sampai kapanpun,sekali lagi hanya perkataan maaf yang bisa saya ungkapkan pada bapak dan ibu, dengan kehadiran Adit di dalam kehidupan Reyna sudah banyak menjadi beban bagi keluarga ini, bukan hanya beban materi namun menjadi beban pikiran juga bagi semua keluarga ini", mas Aditya tak bisa lagi menahan rasa sedihnya,air matanya mulai menggenang d pelupuk mata, dengan cepat mas Aditya mengusap butiran bening tersebut tak ingin terlihat lemah di hadapan kedua orang tuaku.
Keesokan harinya bapak memberikan secarik kertas padaku."Rey sini... iya sebentar pak lalu aku bergegas mendekati bapak,apaan ini pak... itu hari dan tanggal pernikahan kamu kasih tahu Aditya...Rey,iya pak.
__ADS_1
ku baca tulisan di kertas ini,tertera hari kami, tanggal 25 Juli 2008,berarti waktunya hanya tinggal seminggu dari sekarang.Ya Alloh semoga semuanya berjalan lancar tak ada halangan apapun aamiin."
"Rey... samar-samar terdengar ibu memanggilku... iya sebentar bu, ada apa bu manggil aku... sambil menghampiri ibu aku bertanya padanya,bantuin sini, ini susun di piring dan taruh d meja ruangan tengah dulu semua, untuk nanti cemilan saudara-saudara yang di sini mau ke sini, mau membahas acara pernikahan kamu Rey...,ya sudah bu aku bantu.