
Setelah kurasakan cukup waktu membicarakan banyak hal dengan mas Aditya di terminal kota, bergegas aku bangkit dari tempat kami berbincang, ku antar mas Aditya ke bis yg akan di tuju,kebetulan juga bis yg akan di tumpangi nya akan segera berangkat. Kami saling melepas genggaman tangan dan saling memberi kekuatan, tak lupa saling mendoakan semoga ada jalan untuk kami kedepannya."Hati-hati ya mas jangan lupa kabari kalo sudah sampai,iya sayang", sambil mengelus pucuk kepalaku mas Aditya berucap padaku ,"jaga diri baik-baik ya yang mas janji secepatnya akan menemui kamu kembali",lalu dengan langkah gontai mas Aditya menaiki bis tersebut.Aku berdiri mematung mengamati bis yg mulai melaju hingga tak terlihat lagi keberadaannya.
__ADS_1
Sesampainya d rumah setelah mengantar mas Aditya aku termenung dengan perasaan sedih ku rebahkan tubuh ini d atas kasur kamarku.Tak berselang lama ibu menghampiriku, "ngapain kamu sedih seperti itu? , seharusnya kamu bisa berpikir untuk mencari lelaki yg tepat, sekarang bukan waktunya main-main untuk menentukan pilihan.Udah jelas-jelas kemarin ada laki-laki yang bener-bener sayang sama kamu, sudah punya pekerjaan tetap, baik, rajin ko malah kamu lepasin begitu aja! , sekarang malah milih laki-laki yang belum jelas kedepannya seperti apa",setelah berucap seperti itu ibu pun keluar dari kamarku.
__ADS_1
"Ya Alloh berikanlah jalan bagi kami", gak kerasa air mata mengalir membasahi pipi, sesak yang ku rasakan mendengar kata-kata ibu barusan,aku berpikir positif aja mungkin ibu berucap seperti itu karena sayangnya ibu terhadapku tak ingin kehidupanku kelak menderita, namun harus bagaimana lagi semuanya sudah terjadi, padahal selama mas Aditya tiga hati tinggal d rumah, dia berlaku sopan, baik meskipun ibu terkadang menunjukan sedikit ketidak sukanya terhadap mas Aditya dia selalu menerima dengan ramah, tapi aku yg merasa gak enak hati pada mas Aditya dengan sikap ibu tersebut, berbeda lagi dengan sikap bapa yg lebih bisa menjaga perasaan orang lain, memang kuakui aku lebih banyak merasakan kasih sayang lebih dari bapak ketimbang ibu,meskipun bapak keras, disiplin ketat masih terasa kasih sayangnya, ibu lebih mencurahkan kasih sayangnya pada kakak lelaki di atas ku anak no tiga.Aku memutuskan mengurung diri d kamar males untuk berdebat, dan mendengarkan perkataan-perkataan yang akan menyakiti hati. Aku tipe orang yg gak bisa melawan, semua masalah, rasa sakit hati slalu ku pendam sendiri, makanya selepas lulus sekolah SMA aku memutuskan mencari kerja, daripada memilih melanjutkan kuliah sesuai yang bapakku sarankan, bukannya aku tak mau menuruti keinginan bapak untuk melanjutkan pendidikan, namun aku ingin mencari ketenangan, dan ke nyamanan yang selama ini aku cari,sifat keras yg ada di rumah yg membuatku terkadang malas untuk tinggal di rumah, aku gak ada yg dekat d kelurga, aku selalu mencari ke nyamanan di luaran namun bukan dengan cara yg negatif ya! , aku malah cenderung lebih dekat sama orang lain ketimbang sama saudara kandungku sendiri.
__ADS_1