SI ANAK RODA

SI ANAK RODA
pemuda sederhana


__ADS_3

 


disebuah desa terpencil jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota , hanya ada aliran sungai kecil sumber kehidupan masyarakat disana. seorang remaja dua belas tahun yang sejak kecil dibesarkan oleh keringat paman nya karena orang tuanya meninggal sedari ia bayi.


Bersama pamannya yang seorang butuh tani miskin ia diajari bertahan hidup."bujang kemarilah , temani paman mu menikmati kopi." panggil pamannya. Bujang yang masih ingin menyelesaikan pekerjaannya membuat kurungan ayam belum beranjak dari tempatnya , "sudah bujang, jangan kau selesaikan hari ini istirahatlah dulu." Barulah bujang berdiri dan duduk di bale di samping pamannya. "Dulu sewaktu bapakmu sakit keras sebelum kau lahir dia menitipkan pada ku." pamannya berhenti sejenak lalu menyeruput kopi yang telah dingin itu, "lalu bapakmu, Saman berkata agar aku mendidik mu agar bisa membanggakan ibu mu Sidah. Tapi maafkan paman mu bujang." sidik berhenti dengan mimik yang amat menyesal .


"maaf untuk apa ? , paman tak bersalah padaku." bujang semakin penasaran apa yang dimaksud sang paman. "maaf paman mu tak bisa mendidik mu , bujang." air mata sidik tumpah di pipi teringat kakaknya yang gagah itu .

__ADS_1


"tidak ,paman telah mendidik ku untuk bisa menghasilkan makan." bantah bujang. "memang bujang engkau bisa mencari makan tanpa aku ajari , tetapi tak mungkin kau hidup tanpa sekolah." air mata itu semakin deras mengingat ia gagal menuruti permintaan kakaknya Saman . "apa enaknya sekolah , ajam dan Juki selalu mengeluh setiap pulang sekolah." "amat sulit dijelaskan bujang pertanyaan mu itu."sidik menghela nafas panjang .


"aku menyesal bujang , permintaan terakhir bapakmu tak sampai." keluh sidik meninggalkan bujang sendiri . "jika Juki dan ajam sekolah berarti aku juga bisa sekolah kan ?." suara batin bujang yang terngiang di pikirannya hingga sulit lupa. sore hari berikutnya bujang segera duduk di bale bahkan telah membuatkan pamannya kopi.


 


"paman kemarin bilang kalau aku harus sekolah , lalu apa yang harus bujang lakukan jika ingin sekolah ?." pertanyaan bujang membuat lelah sidik bertambah . "paman mau mandi dulu , kamu juga masuk sudah petang." jawab pamannya mengalihkan perhatian bujang .

__ADS_1


Tak menyerah bujang kembali menanyakan hal itu , "paman sekarang harus jawab pertanyaan bujang tadi sore." desak bujang pada pamannya . "baiklah jika itu mau mu bujang." sidik menghela nafas menyiapkan jawaban yang tepat.


"sekolah itu butuh uang bujang , bukan hanya sekedar punya niat . lagi pula kau sudah ketinggalan jauh dari teman sebaya mu." berhenti untuk meminum sisa kopinya tadi sore . "paman mu tak punya cukup uang


untuk sekolahkan kamu bujang." Tutur sidik dengan nada sedih.


Setelah mendapat jawaban yang masih rumpang baginya , ia mencari tahu apa sebenarnya penting sekolah ?. "jam , apakah sekolah itu menyenangkan ?." tanya bujang penuh semangat . "kamu bertanya ini apa kamu mau sekolah ?." . "ah kamu jam tanya malah balik nanya." sahut bujang dingin "sebenarnya ingin sekolah aku , kalau kamu sekolah aku sendirian tapi paman ku tak bisa sekolahkan aku ajam." lanjut bujang .

__ADS_1


"bagaimana lagi ?, tapi untuk pertanyaan mu tadi sekolah itu menyenangkan meski ada bosan juga tiap hari ada PR terus." dengan semangat bujang menyahut "kalau yang menyenangkannya bagaimana ?." "banyak temen , bisa baca dan berhitung Jang."


__ADS_2