
Tak hanya di satu tempat kejadian itu terulang lagi ditempat lainnya.
Belum sampai bujang tertidur, kringggg....kring handphonenya berbunyi
"ada masalah lagi?." ucap bujang kesal.
"iya tuan..di lain tempat juga terjadi hal yang sama ."
"atur saja jadwal pertemuanku untuk pimpinannya ."
"maaf tuan tapi itu bukan seperti kemarin, protes ini dilakukan oleh pedagang pasar modern ." ucap orang ditelpon
"lalu bagaimana cara menyelesaikannya ? ." bujang menepuk dahinya
"mereka menginginkan ganti rugi atau kita akan dituntut ." ucap orang ditelpon yang juga nampak bingung
"memang berapa banyak sayur itu ?." tanya bujang
"lebih dari separuh pengiriman kemarin rusak tuan ."
Bujang semakin sulit tidur karena kiriman ke pasar modern itulah yang paling besar , jika mereka tak mau lagi bekerjasama maka akan bangkrut Randi Grup.
"bagaimana aku bicara dengan tuan Randi jika situasi sesulit ini ?." gumam bujang
Esok harinya bujang segera menemui tuan Randi untuk menyampaikan masalah ini .
"maaf tuan...." belum selesai bujang sudah dipotong tuan Randi
"iya saya tahu, duduklah dulu ."
"bagaimana hal ini bisa terjadi bujang?." tanya tuan Randi
"maaf tuan ini salah saya , saya gagal melanjutkan kerjasama ini dan kita harus merugi besar ."
"saya sungguh kecewa bujang, perkiraanku salah ." sahut tuan Randi
"aku kira kau pantas berada disini, tapi itu semua salah ." tuan Randi nampak kesal karena Randi Grup pasti akan kehilangan banyak pasar di Borneo
"saya merasa sudah tidak pantas berada disini tuan, saya putuskan untuk keluar dari Randi Grup." ucap bujang tegas
__ADS_1
"terimakasih tuan atas jasamu , bujang pamit ." mata bujang terlihat sembab
Namun tuan Randi hanya diam, melihat bujang keluar ruangannya .
____________________________________________
Keluar dari Randi Grup bujang kembali menjadi kuli panggul.
"hey bujang kemarilah..." panggil salah satu penjual sayur
"iya pak ." bujang mendekat pada pak Mardi
"bukankah kamu telah menjadi orang besar di keluarga tuan Randi ?." tanya pak Mardi
Bujang menceritakan semuanya pada pak Mardi.
"aku lihat kamu itu anak baik nak , pasti ada yang iri padamu ." ujar pak Mardi
"tak perlu su'dzon pak , mungkin ini takdir saya ." bujang tetap merendah
"kamu mau menjaga lapak ini ?." tanya pak Randi
"tenang saja , bapak punya lapak lain ."
Berbulan-bulan bujang ikut pak Mardi usahanya semakin besar , tak dipungkiri keahliannya berbisnis luar biasa.
Ditangan bujang usaha pak Mardi sekarang bisa menyuplai kebutuhannya sendiri, tak lagi bergantung pada sayur tuan Randi. Dan pak Mardi telah mempercayakan semuanya pada bujang.
Di sela-sela kesibukannya bujang tetap seperti dulu suka menulis pengalamannya , hal itu dilakukannya untuk mengingat paman dan kawannya dikampung dulu. Tak jarang ia juga menggambar abstrak untuk mengekspresikan perasaannya.
"bujang, ini anak ku Anton ." pak Mardi mengenalkan anaknya
"salam kenal Anton aku bujang ." bujang mengalami Anton
"nanti biar dia membantumu bujang ." ucap pak Mardi
"maaf pak , boleh saya mengusulkan sesuatu ." pinta bujang
"apa usulmu nak ?."
__ADS_1
"bagaimana jika kita membeli langsung sayur langsung ke desa saja pak ." usul bujang
"ide mu bagus nak , sudah saatnya kita bergerak sendiri ." pak Mardi mengamini usul bujang
"untuk sementara pakai truk yang ada aja nak ." lanjut pak Mardi
"Ton, kamu urus lapak di pasar aja biar Abang yang cari sayur ke desa-desa ." ujar bujang saat pak Mardi telah pergi
"siap bang.."
Pak Mardi memang memiliki tiga truk yang digunakan untuk mengangkut sayur dari gudang Tuan Randi. Sementara bujang memulai di daerah yang dekat-dekat dulu.
Sembari menjadi tengkulak bujang belajar mengemudikan truk pak Mardi.
"bang , ajari aku nyetir bang ." pinta bujang
"yakin kamu mau belajar ."
"yakin bang ."
Beberapa Minggu kemudian setelah memiliki langganan pak Mardi memutuskan untuk membeli truk lagi.
"bang, kata bapak nanti siang diajak ke dealer truk ." ujar Anton
"iya.."
"kita mau beli truk lagi pak?." tanya bujang
"iya ...kan idemu berjalan lancar jadi tak masalah jika tambah Armada ." jawab pak Mardi disambung tawa khasnya
"pak kalau bujang ikut beli boleh nggak, biar suatu saat nanti bisa usaha sendiri ."
"boleh nak...otakmu memang cemerlang sekali ." pak Mardi mengelus kepala bujang
"ah, bapak berlebihan ."
Upahnya selama ini dikumpulkan untuk membeli truk sendiri agar dia bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.
Bulan telah berganti Bulan usaha yang dilakukan bujang semakin besar , kini tak hanya untuk lapak pak Mardi sendiri tapi juga menyuplai pedagang lain.
__ADS_1