
Mereka segera menyantap menu sahur yang sederhana itu. Hanya sebakul nasi , tempe hangat dan pecel yang menjadi makan sahur mereka.
Selesai sahur pamannya langsung menuju surau kembali. Dia memang tak pernah absen shalat subuh berjamaah di surau.
"itu tadi masakan paman mu ?." tanya Anton
"iya itu yang masak paman ."
"enak sekali masakan paman mu , Jang ." puji Anton yang baru pertama kali makan pecel
"memang paman ku pandai masak ton ."
"tapi kalau cuma pecel semua orang dikampung ini bisa masak dan makan setiap hari ." balas bujang panjang
"pedasnya sambal kacang tadi seimbang dengan pahit lalapan nya Jang ."
"kunci nikmatnya makan pecel disitu ton, pedas dan pahitnya saling melengkapi ." Tutur bujang
"itu sudah jadi makanan khas daerah sini, Harga murah rasa mewah ." lanjut bujang
"betul katamu , pasti lalapannya dari halaman ." Anton mengamini kata bujang
"itu enaknya hidup di kampung , bahan makan itu tak susah carinya ." pungkas bujang sebelum berangkat ke surau
"aku duluan , kamu sudah hafal surau nya kan ?."
Anton hanya mengangguk
Sepulang dari surau Anton kembali melanjutkan tidurnya sedangkan bujang memilih untuk berjalan-jalan di sekitar sana sambil menunggu mentari.
"pagi pak, Monggo ." sapa bujang pada beberapa bapak-bapak yang sedang berkumpul.
"iya, silahkan ."
"sebentar, apa kamu keponakan pak sidik yang pulang kemarin malam itu ?." sepertinya dia ada di surau saat bujang mencari pamannya.
Bujang berhenti menjawab pertanyaan tersebut. " iya saya bujang, keponakan pak sidik."
"kamu yang dulu ikut tengkulak Randi itu ya." seorang yang mulai ingat tentang bujang.
"iya , saya yang ikut tuan Randi itu ."
"sekarang kamu masih ikut tuan Randi ?." tanya nya kembali
"sudah tidak ."
"sudah lama tuan Randi itu tak mengambil sayur disini lagi ." lanjut para warga
"berarti desa ini beruntung ." kata bujang lirih
"beruntung bagaimana nak, malah harus jual sayur kami ke pasar sendiri, harganya murah ."
"setelah saya nggak ikut tuan Randi, orang kepercayaannya menggunakan preman untuk membeli sayur ."
"dan preman itu memaksa harga murah atau malah mereka rusak sayur itu ." lanjut bujang
"jadi sekarang tuan Randi menggunakan preman ?."
"iya, tapi tangan kanannya kini sudah dipenjara ."
"ketahuan tuan Randi menggelapakan penjualan ."
Sontak warga kaget mendengar kesaksian bujang.
"jadi sekarang kamu kerja apa di kota ?."
"tengkulak , tapi sayang baru tahu disini sayurnya nggak ada yang bawa ke kota ."
"iya Jang , ambil sayur dari kampung ini aja."
__ADS_1
"iya , nanti saya bicara dengan bos saya biar ada yang ambil sayur disini ."
"berarti truk di depan rumah pak sidik itu milikmu ? ." celetuk seorang warga
"bukan, itu milik bos saya ." jawab bujang jujur karena memang truk bujang sendiri masih dibawa yang lain , itu truk yang baru selesai di servis di bengkel .
Dalam hati bujang gembira karena nanti jika tengkulak lain berlatih beladiri disana tak sulit membawa pulang sayur .
"matahari sudah kelihatan saya pamit dulu pak." bujang beranjak kembali ke rumah pamannya.
Begitu juga warga lainnya kembali pulang ke rumah masing-masing, melanjutkan pekerjaannya.
Sampai di rumah bujang membangunkan Anton yang masih tidur .
"bangun..hey bangun..jangan tidur aja."
"gak baik tidur pagi-pagi ."
"bangun mau ngapain jang, gak ada kerjaan ." keluh Anton
"ya cuci truk kan bisa ."
"masa aku harus nimba air buat cuci truk Jang, copot tangan ku Jang ." keluh Anton lagi.
"gak usah nimba, tadi aku lihat di depan ada kran air ,mungkin dari mata air gunung ."
"yaudah bantuin ." ajak Anton
"gak bisa , disini kamu hidup dengan ku jadi aku bosnya ." bujang terkekeh
"iya bos, lalu kamu ngapain ?."
"aku mau nyari rumput buat pakan sapi ." jawab bujang dengan menenteng sabit yang sudah ia asah.
Setelah pulang mencari rumput bujang menelepon ajam.
"iya , ada apa ? "
"kamu sibuk nggak ?."
"enggak, emang mau ngapain ?."
"udah jangan banyak tanya, aku ke rumah mu sekarang ." bujang segera menutup telepon.
"ton , kamu mau disini apa ikut aku ?."
"ikut aja daripada sendirian gak ada kerjaan ." Anton bergegas mengikuti langkah kaki bujang.
"assalamualaikum..ajam ." bujang mengetuk pintu
"walaikumsalam ." seorang wanita berhijab yang seumuran bujang membukakan pintu
"Rita ?, kamu istri ajam ?." bujang kaget melihat Rita yang dulu seorang cewek tomboi berubah menjadi wanita berhijab.
"iya, silahkan masuk dulu." Rita mempersilahkan keduanya duduk
"maaf ini kalian siapa? dan ada tujuan apa ?." tanya Rita
"aku bujang teman kecil ajam, dan ini kawan ku dari kota ."
"tujuan ku kesini aku ingin mencari ajam ."
"kalau gitu sebentar aku panggil orangnya." balas Rita
Tak lama ajam keluar di ikuti istrinya.
"ada apa mencari ku Jang ? " tanya ajam
"kamu bisa antar kan aku ke rumah juragan sapi, aku mau jual sapi paman ku ."
__ADS_1
"bisa saja, tapi untuk apa kamu jual sapi paman mu ?."
"aku kasihan jam, dia sudah tua tak selayaknya mengurus sapi sebanyak itu ."
"dan juga rumahnya sudah banyak yang rusak, aku ingin merenovasi rumah itu ." bujang menjelaskan maksudnya.
"iya aku mungkin sama dengan mu , menjual sapi itu untuk merenovasi rumah itu ." ajam membenarkan ucapan bujang.
"jadi kamu bujang yang dulu merantau ke kota itu ?." celetuk Rita yang mulai ingat
"iya , saat itu memang aku harus merantau untuk menepati keinginan bapak ku ."
"apa keinginan bapak mu hingga kau harus meninggalkan kawan baikmu ini ."
"dia ingin aku sekolah jam, dan tuan Randi berjanji menyekolahkan aku ."
"dan sekarang aku sudah menempati keinginan itu " bujang menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
"apa kau tak ingin mengucapkan terima kasih untuk ku ?." ledek ajam
"tentu aku sangat berterimakasih padamu jam, kau dan Juki yang menjadi guru ku ." bujang mengatakan apa yang telah ia pendam selama ini.
"tak apa Jang, memang itu hak mu untuk mendapat ilmu ." ajam merendah menanggapi bujang.
"sekarang bagaimana Rita bisa berubah sejauh ini Jam?." bujang mengalihkan pembicaraan
"apanya yang berubah ?, kamu aja gak pangling ." balas Rita
"aku ingat kau dulu kan tomboi bagaimana bisa berubah menjadi wanita berhijab sekarang ?."
"setelah lulus SD aku masuk pesantren , jadi berubah 180 derajat penampilan ku ." Rita menjelaskan
"bagaimana kamu bisa menikah dengan anak yang dulu kau ejek gendut ini ?." ledek bujang saat ingat ajam yang dulu jadi bahan ledekan karena badan gempalnya.
"kan aku ganteng , siapapun pasti mau jadi istri ku ." ajam menyombong
"kata siapa..aku menikah dengan mu karena hutang ya ." Rita membantah ucapan suaminya
"hutang apa ?." celetuk bujang
"hutang sebiji tomat."
"dulu ibu dia berhutang sebiji tomat pada ibuku , lalu ibuku menawarkan tak usah dikembalikan asal dia menikah dengan ku ." canda Rita yang membuat semuanya tertawa.
"aku tak menyangka kita menikah karena dijodohkan sebiji tomat ." ajam membalas candaan istrinya
"kalau di buat film bagus itu ."
"judulnya Dijodohkan Sebiji Tomat ." ujar bujang dengan terkekeh.
"kamu ada-ada aja Jang ." kata ajam
"Tapi aku akui memang beruntung kau menikahi Rita jam "
"beruntung gimana ?."
"kalian sama-sama lucu dan Rita juga cantik ." jawab bujang
"jangan kau puji dia, nanti terbang " canda ajam lagi
"istrinya dipuji malah gak suka ." sindir Rita
25\-04\-2020
IG: okipradana93689
__ADS_1