
Sepulang dari pertemuan tersebut bujang terus kepikiran. Bagaimana jika dia ikut berinvestasi pada PT tersebut.
"jika PT itu baru bisa mencicil pembelian usaha tuan Randi berarti mereka masih butuh banyak dana lagi ." batin bujang disepanjang perjalanan.
"ini bisa menjadi kesempatan ku untuk pulang mengurus paman sidik dan rumah warisan kakek itu ." gumam bujang lagi
"tapi apa pak Mardi mengijinkan aku pergi ?.
"lagi pula tak mungkin aku meninggalkan pekerjaan ku begitu saja ." bantah hati bujang.
Setiap hari bujang hanya sibuk dengan pikirannya itu. Dia masih belum berani mengatakan pada pak Mardi terapi ia harus bergerak cepat .
Hingga akhirnya bujang berhasil mengumpulkan kepercayaan dirinya. Dia menghadap pak Mardi dan juga dihadapan Anton .
"sebenarnya bujang ingin mengatakan sesuatu pak ." bujang mengalihkan pembicaraan yang semula tentang pasar .
"katakan saja nak, tak usah sungkan ."
"bujang sebenarnya sudah diminta paman untuk pulang, tetapi bujang merasa masih memiliki tanggung jawab disini ."
"dan bujang dengar ada perusahaan baru yang ingin mendirikan usaha ekspedisi di pelabuhan ." jelas bujang
"jadi apa yang kamu inginkan nak ?." ganti tanya pak Mardi
"aku juga belum tahu apa yang kau maksud ." timpal Anton
"bujang ingin meminta izin pak Mardi untuk mundur dari pekerjaan bujang saat ini ."
"aku tak mempermasalahkan keinginan mu nak "
"tetapi, kamu tak bisa meninggalkan posisi mu saat ini begitu saja ." tegas pak Mardi
"lalu apa hubungannya dengan perusahaan ekspedisi itu ?." Anton yang ganti tanya
"aku berminat menginvestasikan sebagian hasil bujang bekerja selama ini di perusahaan itu."
"meskipun hanya sedikit ." bujang menjelaskan rencananya itu
"tunggu sebentar, bukankah wilayah pelabuhan milik tuan Randi ?." pak Mardi teringat tuan Randi
"tidak lagi sekarang, tuan Randi menjual usahanya pada mereka ."
"apa dia bangkrut ?." Anton ikut bicara meski ia belum pernah bertemu tuan Randi
"menurutku belum, tetapi dia memilih beristirahat untuk menikmati sisa waktunya ."
__ADS_1
"aku ingat dia adalah orang yang gigih berjuang , jadi tak mungkin ia meninggalkan usahanya begitu saja ." pak Mardi mengingat masa jayanya tuan Randi
"bapak tahu banyak tentang tuan Randi itu ?." tanya Anton
"iya, dulu bapak pernah bekerjasama dengannya ."
"dia memasok semua kebutuhan sayur ku nak ."
Pak Mardi menjelaskan pada Anton karena Anton baru ikut bapaknya sejak almarhumah ibunya meninggal.
Pak Mardi berpisah dengan istrinya sejak
usia Anton sepuluh tahun. Dan Anton ikut ibunya yang tetap tinggal di desa.
"kenapa bapak akhirnya menyuplai kebutuhan sayur sendiri ?."
"kalau itu sebenarnya bujang lah yang mengusulkan hal itu ." balas pak Mardi
"benar itu Jang ?."
"betul, aku dulu sering ikut tengkulak tuan Randi saat masih sekolah ."
"jadi saat ikut pak Mardi aku merasa tak cocok dengan hanya duduk di depan lapak ." bujang menjelaskan semuanya pada Anton.
"bukankah kata ajam temanmu itu kamu tak pernah sekolah ? ."
"tapi kenapa kau berganti ikut bapak, bukannya tuan Randi itu baik ?." Anton terus mencecar dengan pertanyaan.
"tuan Randi memang baik tetapi aku difitnah oleh sahabat ku sendiri ."
"difitnah gimana ?."
"bagian yang aku urus disabotase olehnya sehingga aku terdesak , hingga akhirnya aku memutuskan mundur ." bujang menjelaskan peristiwa itu dengan ekspresi yang menyesal.
"darimana kau tahu jika usaha tuan Randi dijual Jang ?." pak Mardi kembali bertanya
"seminggu yang lalu ada kabar itu jadi aku memutuskan untuk menanyakan langsung pada tuan Randi ." balas bujang
Belum sampai mendapat jawaban dari pak Mardi bujang telah ditelpon bawahannya sehingga ia harus segera mengurusnya.
Selesai dengan urusannya , bujang menemui Mamat di kamarnya.
"assalamualaikum mat ." bujang mengetuk pintu kamar Mamat
"walaikumsalam, ada apa ?." Mamat keluar dengan wajah tampak lelah
__ADS_1
"kamu baru pulang ?."
"iya, tadi jam dua sampai ." Mamat membalas sambil mengusap matanya
"pantas saja matamu masih merah ."
"aku menemui mu ingin meminta bantuan mu ." bujang langsung ke pokok tujuannya
"bantuan apa, jika mampu akan aku lakukan ." balas Mamat
"aku meminta mu untuk menggantikan posisi ku mat ." sontak Mamat kaget dengan ucapan bujang itu . "apa ada masalah hingga harus meninggalkan pekerjaanmu ?."
"tidak , semuanya baik-baik saja ."
"lalu apa yang membuat mu harus meninggalkan posisi mu saat ini ?." Mamat masih belum mengerti maksud bujang.
"paman ku meminta ku pulang mat, tak sampai hatiku jika menolak ." bujang mengutarakan maksud nya.
"tapi aku tak bisa menerima pekerjaan itu ." Mamat menolak .
"kau satu-satunya orang yang bisa ku percaya mat, kumohon terimalah ." bujang mencoba meyakinkan Mamat.
"jawaban ku sama dengan mu jika kau tanya alasanku menolaknya ."
"ibu ku juga membutuhkan aku saat ini , sakitnya semakin parah ." Mamat menjelaskan semuanya.
"tapi siapa orang yang bisa menggantikan posisi ku jika kau menolak mat ?."
"Andhi, dia sudah lama berada di lingkungan seperti ini ."
"dan dia berani mengambil keputusan yang tegas pula ." Mamat mencoba mengusulkan Andhi.
"benar dia memang baik di mataku tapi akan ku beri dia tugas untuk bisa menyakinkan aku ." ujar bujang
"tugas apa yang akan kau berikan padanya ?." tanya Mamat
"lihat saja nanti ." pungkas bujang.
Bujang memang menganggap Andhi selama ini layak untuk menggantikan dirinya. Tapi perlu sebuah tes yang bisa meyakinkan hati bujang sepenuhnya.
Andhi selalu terlihat jujur dan tegas tapi masih ada satu hal yang belum diketahui Bujang untuk benar- benar tepat diposisinya , yaitu bisa bernegosiasi .
04\-05\-2020
__ADS_1
IG: okipradana93689