SI ANAK RODA

SI ANAK RODA
KEMBALI KE KOTA


__ADS_3

Hari ketiga lebaran bujang dan Anton kembali ke kota, tujuan mereka di kampung telah rampung.


Dan memang persediaan sayur sudah diatur sekitar H +5 akan habis sehingga mereka harus segera pulang agar harga pasar tak melonjak tinggi.


"bujang pamit, paman jaga diri ." bujang memeluk pamannya


"iya nak, akan aku tunggu kamu kembali , ini hak mu ." sidik membalas pelukan bujang


"aku pasti pulang suatu saat nanti ." bujang melepaskan pelukannya lalu menyeka air matanya


"hati-hati dijalan , dan jangan lupa pulang bawa pasangan ." kata ajam yang juga ikut mengantar bujang


"tak perlu aku bawa jam, dia ada disini ."


"terserah kamu lah yang penting cepat nikah ." sindir ajam


Bujang sengaja berangkat pagi-pagi buta agar sampai sana sebelum magrib dan untuk menghindari kemacetan.


Belum sampai keluar kampung pak Mardi telah menelpon.


"hallo nak, sudah berangkat ?."


"iya pak sudah, baru saja jalan ." sambil membawa truk Anton masih sempat menerima panggilan itu .


"hati-hati ."


"eh iya... bagaimana gurumu ?, dia bersedia kan ?." pak Mardi tampak antusias


"Alhamdulillah mau pak."


"yasudah bapak tutup telponnya ."


Anton mengajukan pertanyaan sembari mengemudikan truk itu. "maksud mu pas jawab pertanyaan ajam tadi apa ?."


"pertanyaan yang mana ?."


"tadi katamu jodohmu udah di sana tadi itu lho ."


"oh yang itu ."


"maksud ku aku ingin mencari jodoh disana, bukan sudah punya disana ." bujang mengelak


"ohh..aku kira sudah ada ." Anton membalas dengan nada menyindir


"kalau sudah ada jangan lupa kabari aku ."


"ah kamu sok nyindir orang ton ."


"kamu lupa kamu juga belum nikah ?." bujang balik menyindir


"tidak, aku tidak lupa."


"cuma mau goda kamu aja ." Anton terkekeh


"udah fokus ke jalan , jangan ngomong aja ." pungkas bujang sebelum ia tidur


"malah tidur , dasar kebo ." ledek Anton


Setelah usai magrib mereka sampai disana.


"istirahat dulu sini ." ajak pak Mardi yang sudah menunggu mereka di teras


"iya pak ."


"mbak, buatkan minum mereka ." pak Mardi menyuruh pembantunya.


"baik pak, sebentar ."


"bagaimana kabar paman mu di kampung nak ?."


"Alhamdulillah , sehat walafiat pak ."


"terus bagaimana guru silat mu ?."


"soal itu Anton yang bicara dengan guruku ." bujang menyerahkan jawaban pada Anton.


"bapak tahu siapa guru silat bujang ?."


"ya bapak tidak tahu lah nak ."

__ADS_1


"guru silat bujang itu pamannya sendiri ." Anton semangat sekali menyampaikan hal ini.


"kenapa kamu tak memberitahu dari awal ?." tanya pak Mardi pada bujang.


"nggak seru pak kalau langsung bilang ."


"terus bagaimana dengan latihan nanti ?." tanya pak Mardi


"tenang pak, sudah kami siapkan ." balas Anton


"bujang ijin masuk dulu aja masih capek perjalanan panjang ." bujang masuk kamarnya


"capek apa kamu itu, sepanjang jalan tidur aja ." sindir Anton


Sebelum matahari beranjak tinggi bujang sudah berada di bengkel memberitahu jadwal latihan kepada bawahannya.


"beberapa hari lagi kalian akan diberikan tugas khusus dari pak Mardi ." bujang memberi pengumuman


"apa semua diberi tugas ?." tanya salah satu bawahannya


"iya semua dapat tugas yang sama ."


"karena tugas ini harus dilakukan bergantian ." lanjut bujang


"apa tugas itu ?, besarkah tugas itu ?."


"yang jelas siapkan dulu tenaga kalian ini tugas berat ." pungkas bujang sebelum meninggalkan mereka.


"sebenarnya apa tugas itu ya?." tanya bawahannya pada lainnya


"bertahun-tahun ikut pak Mardi baru kali ini ada tugas yang kelihatannya berat ." balas lainnya


"apa ada hubungannya dengan sayur ya ?."


"mungkin saja pak Mardi mau memperluas jangkauan sayurnya ."


"tapi kalau benar berarti kita pasti Doble kerjanya ."


"Dobel gimana ?."


" kan kita harus bawa sayur lebih banyak dari biasanya, padahal hari-hari ini pasti sulit ."


"hallo jam, ."


"iya , ada apa Jang ?." balas ajam


"tidak cuma mau nanya, rumah udah mulai dikerjakan ?."


"udah , tadi pagi banyak yang ikut gotong royong membongkar rumah paman mu ."


"Alhamdulillah, aku percayakan semua padamu jam ."


"tenang , ajam bisa dipercaya kok ." ujar ajam


"ow iya jam, bisa kamu kirim nomor rekening mu ?." pinta bujang


"boleh, tapi buat apa ?."


"aku takut uang penjualan sapi itu kurang jam ." jelas Bujang


"yaudah nanti aku kirim." pungkas ajam


Bujang melanjutkan pekerjaannya yaitu memastikan pasokan sayur tetap terpenuhi agar harga tidak melonjak tinggi.


"maaf bang, kenapa kita para pedagang disuruh kumpul ?." tanya salah satu pedagang langganan keluarga pak Mardi


"nanti selama beberapa bulan ke depan mungkin pasokan sayur agak turun sedikit ."


"apa sedang gagal panen ?." tanya lainnya


"tidak, panen aman saat ini ."


"ada hal lain yang membuat pasokan turun ." jelas Anton


"yang terpenting kalian bersiap saja dulu."


"kalian boleh menaikan harga tetapi tetap pada batas wajar ." titah bujang


"baik , akan kami laksanakan ." balas mereka serempak sebelum membubarkan diri

__ADS_1


Sementara itu bujang mendapat kabar jika Randi Grup akan bangkrut karena banyak kehilangan orang kepercayaan.


Para orang kepercayaan tuan Randi banyak yang berkhianat, sedangkan tuan Randi sering sakit-sakitan sehingga Randi Grup mengalami kebangkrutan.


Kabarnya tuan Randi akan menjual kekuasaannya pada perusahaan resmi yang lebih besar.


Perusahaan itu akan menggantikan peran Randi Grup di pelabuhan dan membeli pasar yang telah lama dirintis tuan Randi.


Meski dengan berat hati tuan Randi menjual usahanya agar masa tuanya tak lagi disibukkan dengan hal tersebut.


Bujang langsung menghubungi tuan Randi setelah mendengar kabar tersebut. Bujang mengatur pertemuan dengan mantan tuannya itu.


"hallo tuan Randi ."


"iya ada apa nak ?."


"bolehkah bujang bertemu dengan tuan nanti siang ?." pinta bujang


"boleh nak, sekarang semua waktu ku sudah bebas ."


"dimana tempatnya ?." lanjut tuan Randi


"bujang ingin berbicara dengan tuan di tempat kemarin saja tuan ." pungkas Bujang.


"kenapa kau telat nak?."


"tak biasanya seperti ini ." ucap tuan Randi melihat bujang berjalan kearahnya


"ini masih jam satu kurang dua menit tuan,aku tak terlambat tetapi tuan yang datangnya kecepetan ." balas bujang


"Sepertinya kau lupa nak hari-hari sudah bebas, tak ada yang membuat ku sibuk sekarang ."


"aku tidak lupa , tetapi sepertinya memang tuan terlalu bersemangat hingga menungguku lama ." bantah bujang


Begitulah mereka membuka pembicaraan hingga bujang memberanikan diri mengutarakan maksud dia ingin bertemu dengan tuan Randi.


"sebenarnya bujang bertemu tuan ingin membicarakan sesuatu ."


"iya bicara saja nak , tak usah sungkan ."


"apa benar tuan hendak menjual usaha tuan ?."tanya bujang


"darimana kau tahu kabar ini nak ?."


"semua orang disekitar tuan sudah tahu hal ini ."


"lalu apa maksud mu bertanya hal ini nak ?."


"mengapa tuan rela menjual usaha tuan yang sudah tuan bangun sejak muda ?." bujang berkata dengan nada serius


"hati sejujurnya tak rela nak ."


"tetapi raga ku tak lagi mampu mengurus usaha ini ." tuan Randi mengucapkan kalimat tersebut dengan lirih.


"apa sudah tak ada lagi orang yang bisa tuan percayai melanjutkan usaha ini ?." desak bujang


"tak ada , orang yang ku percaya telah pergi membawa kesenangan pribadi ." tuan Randi tampak lesu dan hanya pasrah menanggapi bujang


"aku sekarang sudah tak perlu uang , hidup ku hanya butuh tenang nak ."


"sebuah hal kecil tapi sangat diinginkan semua orang tua seperti ku ." sambung tuan Randi


"jadi sekarang tuan sudah menjual semuanya ?." bujang tetap mendesak menyesalkan keputusan tuan Randi


"belum semuanya , mereka baru membeli 25% saat ini."


"tapi mereka akan segera membeli semuanya dalam beberapa bulan ke depan ." balas tuan Randi


"jika memang sudah menjadi keputusan tuan, bujang tak bisa berbuat apa-apa ."


Bujang menyesalkan keputusan dia dulu , seharusnya dia lebih kuat menghadapi masalah itu. Ia merasa bersalah belum bisa membalas Budi tuan Randi yang sangat besar baginya.


 


03\-05\-2020


 


IG: okipradana93689

__ADS_1


__ADS_2