
Setelah pandai membaca,bujang sering datang kerumah ajam dan Juki hanya
untuk membaca buku mereka.
"Ajam kamu ada buku yang bisa aku baca nggak?." Tanya bujang malu-malu. "Ada
Jang,kumpulan cerpen."
"Aku juga punya Jang,tapi komik fantasi." Sahut Juki menawarkan buku. "Gini aja Juk,kamu bawa aja komikmu kerumah ajam."
"Ide bagus itu Jang." Lalu mereka berpisah karena Juki harus pulang ganti baju dan makan dulu.
Tak lama menunggu Juki akhirnya datang membawa dua komik untuk bujang.
---------------------------------------------------------------------------
saat usianya menginjak 13tahun,bujang yang sedang bekerja memanen sayuran diladang orang tengkulak kota yang melihatnya kasihan.
"Kamu nggak sekolah, nak?." Tanya tengkulak kota tersebut . "Nggak paman." Jawab bujang singkat.
"Orangtuamu masih ada?." Lanjut tengkulak itu. "Orangtuasaya sudah meninggal semua,saya sekarang ikut paman saya." Jawab bujang sambil menata sayuran diatas truk.
"Kamu mau sekolah?."
"Kalau saya sih kepingin sekolah,tapi paman saya nggak punya uang." Jawab bujang menatap bingung tengkulak itu.
"Kalau kamu mau sekolah kamu bisa ikut saya ke kota,besok saya kemari lagi
kalau mau saya tunggu disini. " Kemudian tengkulak itu meninggalkan bujang yang
__ADS_1
masih bimbang.
Sepulang dari menaikan sayuran itu bujang bertanya pada pamannya apakah boleh
ikut tengkulak itu.
"Paman bujang mau bicara." Menyela pamannya yang sedang menyeruput kopi.
"Bicara apa bujang?Sepertinya penting ?."
"tengkulak sayur yang beli sayur pak amat tadi menawari bujang ikut dia, dia mau menyekolahkan bujang."
"apa paman mengijinkan ?." bujang menatap mushaf-mushaf yang ia kumpulkan.
"aku percaya pada tengkulak itu bujang, kejar mimpi mu." sidik mencoba mengabulkan keinginan keponakannya.
"segeralah bersiap bujang, dia pasti akan segera berangkat esok pagi ." titah pamannya langsung dilakukannya.
"sudah kamu siapkan semua yang perlu kau bawa?." tanya pamannya
"sudah semua ." jawab bujang lega dengan menatap tas punggung yang akan ia bawa esok.
Tak hanya pakaian yang ia masukkan di dalam tas punggung pemberian saudaranya itu tapi juga kertas-kertas hasil ia belajar menulis.
"kalau begitu cepat tidur ."
---------------------------------------------------------------------------
Pagi sekali bujang telah menuju ladang pak amat , dia menunggu sekitar setengah jam hingga truk tengkulak itu datang.
__ADS_1
"hey anak muda , pagi sekali kau datang ?." tanya tengkulak saat baru turun dari truk.
"takut ketinggalan paman ." jawab bujang tenang.
"bagus nak, aku suka semangat mu ."
"kau taruh tas mu itu di truk , lalu bantu naikan bunga kol itu ke truk ." perintah itu langsung dilakukannya dengan cekatan.
Pukul 08.00 semua bunga kol sudah di atas truk, giliran bujang untuk berpamitan pada pamannya.
"bujang pamit, jangan khawatirkan bujang disana aku pasti baik-baik saja ." ucapan bujang membuat dirinya meneteskan air mata.
"lakukan takdir mu nak, jangan lupa salat ." kemudian sidik memeluk keponakan kesayangannya itu.
Acara pamitan itu selesai ketika suara tengkulak itu memanggil.
"jadi namamu bujang, kalau sudah segera naik kita akan berangkat ." ucap tengkulak itu dengan mengelus kepala bujang.
"jangan khawatir tentang keponakan mu , dia akan baik-baik saja ." kata tengkulak menenangkan sidik yang tengah meneteskan air mata.
Di dalam perjalanan itu sang sopir dan tuannya itu menanyai tentang dirinya.
"berapa usiamu nak ?." tanya sopir itu
"usiaku tiga belas."
"benarkah itu... ku kira usiamu sekitar lima belas atau enam belas nak ." sopir itu terlihat kaget.
"benar kata Rajak, perawakan mu yang tinggi besar ini menipu mata ." lanjut sang tuan.
__ADS_1