
Dengan pakaian yang formal Andhi menatap yakin wajah direktur sombong tersebut. Dia memperlakukan sebagai klien penting bukan seperti saat bujang yang datang kemarin.
Tak butuh banyak bicara direktur congkak itu sudah menerima tawaran Andhi.
"baik tawaran anda saya terima." dia menjabat tangan Andhi. "silahkan anda tanda tangani kerjasama ini ." dia menyodorkan map pada Andhi. "saya hanya sekretaris, yang seharusnya menandatangani adalah bos saya ." Andhi menolak menandatangani surat kerjasama itu.
"tapi nanti akan saya atur jadwal pertemuan dengan bos saya ." tawar Andhi. "silahkan , kami berharap kerjasama ini berjalan baik ."
Andhi tak mengira jika tugas itu sangatlah mudah , hanya bermodal setelan jas sudah seperti orang hebat.
"bang, tugas sudah selesai, tinggal Abang tanda tangan ." telpon Andhi pada bujang.
"aku harus kesana tanda tangan ?."
"tidak , aku sudah mengatur pertemuan di restoran ." jelas Andhi.
Pertemuan bujang dengan direktur yang congkak itu berlangsung singkat karena dia sudah kepalang malu .
Setelah berhasil menanam saham di perusahaan itu bujang berlanjut mengurus kiriman sayur kembali, sekaligus ingin memberitahukan sebuah hal.
"semua sopir truk ku sudah disini semua Rud ?." tanya bujang pada Rudi. " sudah lengkap, bang ."
"mulai Minggu depan kalian tidak akan setor sayur ke pasar lagi ." para sopir truknya langsung kebingungan dengan kalimat bujang. " karena Minggu depan kalian mengirim sayur ke pelabuhan ."
"apa pak Mardi membuka usaha di pelabuhan ?." " tidak, tetapi aku yang membukanya ."
"maksud mu membukakan usaha pak Mardi disana ? ." tanya sopir senior pak Mardi.
"bukan, aku keluar usaha dari pak Mardi, dan membuka usahaku sendiri ." jelas bujang pada semuanya.
__ADS_1
"apa bapak juga ingin punya usaha sendiri ?." tanya bujang balik. "tentu nak, usiaku tak muda lagi ."
"aku yakin bapak segera memiliki usaha sendiri ." ujar bujang . "semoga doamu benar ." balas sopir senior itu tapi bujang sudah kepalang pergi.
Esoknya bujang telah menunggu di bengkel . "assalamualaikum ." sapa bujang duluan . "walaikumsalam , nggak ngecek sayur dulu ?." balas seniornya.
"nanti siang aja, kan mau bicara sama bapak dulu ." "bicara apa nak ?." dia duduk disamping bujang.
"ini surat-surat truk yang bapak pakai bisa buat usaha ." bujang menunjukkan suratnya.
"tapi kan saya gak punya uang.." dia masih sungkan menerimanya .
"tak apa ini gratis.., penghargaan untuk kesetiaan bapak ." ucap bujang
"tak bisa nak , aku harus membayarnya ." seniornya masih tak mau menerima .
"anggap saja ini tunjangan selama bapak bekerja disini yang belum saya berikan . "
"sekarang bapak sudah bebas, tidak ada lagi tanggungan disini ."
"bapak boleh mencari dan menjual sayur bapak sendiri sekarang ." sambung bujang .
"sebenarnya aku ini sudah merasa payah nak , tubuh ku tak sekuat dulu karena usiaku juga kepala lima ."
" yang aku inginkan sejak dulu membuka warung makan disebalah rumah ku ."
Seniornya mencurahkan isi hatinya pada bujang , bujang dengan senang hati mendengarkannya karena ia juga sudah rindu sosok pamannya yang sering memberi petuah bijak .
"dan sekarang bapak bisa mewujudkan impian itu , semoga truk ini bisa menjadi modal untuk bapak ."
__ADS_1
bujang teringat pamannya disela obrolan itu , ternyata ia bisa mewujudkan impian bapaknya , pamannya bahkan orang lain seperti pak Harto ini .
"anak-anak ku juga sudah menjadi orang semua nak , hidup ku sudah tentram sekarang ." pak Harto melanjutkan ceritanya .
"maksud bapak..? " tanya bujang.
"yang sulung telah menjadi polisi , dan yang tengah perempuan baru dilantik PNS.."
pak Harto berhenti sejenak menyeka air matanya .
"dan yang bungsu sedang sekolah ikatan dinas di perkeretaapian,.."
pak Harto menyelesaikan ceritanya dengan mata sembab karena menahan air mata .
"beruntung sekali anak-anak bapak .., memiliki seorang bapak pekerja keras ." sambut bujang dengan air mata jua .
"tak seperti ku,.. melihat orang tuaku saja belum pernah ." keluh Bujang .
"jangan seperti itu nak , lihatlah dirimu sekarang anak muda yang sukses dibalik besarnya bisnis sayur pak Mardi ."
"jangan hanya melihat sekarang saja nak , semua anak ku juga pernah hidup susah bersama ku hingga mereka menemukan jalannya masing-masing ." pak Harto terus memberi semangat pada bujang .
"apakah bapak punya pesan untuk anak muda yang rapuh ini ? ." pinta bujang .
"berfikir lah jauh untuk masa depanmu tapi jangan terlena akan perjuangan , karena rasa gagal akan terselip di dalamnya ."
19\-05\-2020
__ADS_1
IG : okipradana93689