SI ANAK RODA

SI ANAK RODA
BELAJAR MEMBACA


__ADS_3

 


Keinginan untuk bersekolah bujang tetap ada meski pamannya telah memberi tahu alasannya. Setiap hendak tidur bujang selalu memikirkan cara agar ia bisa sekolah meskipun itu bagai impian meraih rembulan .


 


"Apa ajam sama juki mau mengajariku ya" batin bujang setiap akan tidur . "ah.. pasti mau mereka , masa temen sendiri nggak mau." kepercayaan diri bujang meningkat sekejap


 


Keesokan harinya belum sampai dirumah ajam telah dicegat bujang . "hei gendut... berhenti." teriak bujang yang keluar dari semak belakang ajam dengan suara seperti preman . "ada apa bang ajam dicegat ? saya nggak punya uang." jawab ajam terbata-bata dengan menunduk membatu.


 


bujang kembali pada suara aslinya "kamu bicara sama siapa jam ?." "lho premannya mana Jang ?." tanya ajam terheran . nggak ada preman disini jam , jangan\-jangan ....." kata bujang sambil berlari menjauh . "bujang tunggu , aku takut." suara keras ajam jelas terlihat ketakutan .


 


Ajam memanglah anak yang sangat penakut dan jika sudah takut pasti gagap.


 


"kamu ini nakutin aja , Jang." nafas ajam terengah\-engah setelah berlari apalagi dengan tubuhnya yang gempal semakin menyiksa pastinya. "ah...cemen, duduk dulu , jadi kasian aku." sahut bujang tawa.


 


"Juki kemana kok kamu sendiri tadi , jam ?." "dia sakit nggak masuk , Jang." jawab ajam sambil menumpahkan semua keletihannya di atas bale . "kira-kira sakit apa ya ?, ayo kita jenguk ?." ajam tak menjawab ajakan bujang karena telah tertidur.


 


"jam, ajaaam.....bangun." bujang berusaha membangunkan.


 


karena tak tega , bujang membiarkan ajam tertidur di sana dengan masih berseragam sekolah .

__ADS_1


tak lama ibu ajam datang , "bujang ajam dengan mu ?." " iya budhe , itu lagi tidur di bale . bujang mau bangunin gak tega kelihatannya kecapean budhe." bujang berjalan ke bale . "ajam bangun dicariin ibumu." bisik ajam dengan menepuk-nepuk pipi tembem ajam.


 


"ajam pulang , ganti baju sama makan dulu baru main." kata ibunya yang telah menunggu di bawah . "iya Bu , sebentar." saking takutnya ajam sampai lupa tas nya . "ajam....tas mu ketinggalan." teriak bujang tetapi sudah tak didengar ajam .


Dalam perjalanan ke rumah ajam bujang menyusun kalimat agar ajam dan Juki mau mengajarinya . "kamu mau Ndak ngajarin aku ?." batin bujang . "ah...jangan kalimat itu , sepertinya kurang bagus." jawab batin bujang di sisi lain.



Sampai dirumah ajam bujang mengetuk pintu "assalamualaikum , ajam...ajammm." meskipun tak sekolah tetapi bujang tetap di ajari sidik, pamannya ilmu agama dan beladiri. meskipun miskin tetapi pamannya sangat kaya hati , ia mengajari pencak silat pada beberapa remaja sekitar , tanpa menuntut bayaran.



"pak ini ada uang untuk biaya latihan." seorang remaja mengulurkan uang disela sela latihan . "tidak usah nak , bawalah." sidik menolak uang itu dengan halus. "ini titipan dari bapak , katanya nggak enak ikut latihan kalau nggak bayar." remaja itu meninggalkan uang itu disamping sidik.


"sebenarnya aku tak butuh uang ini , tetapi jika semua ingin membayar ku tak mungkin aku tolak mentah\-mentah." batin sidik memikirkan cara menolak bayaran muridnya.


 


"ini uang mu nak." sidik mengembalikan uang remaja tadi. "kalian disini latihan tak perlu membayar sepeserpun." "maaf , tetapi bagaimana cara kami membayar ilmu yang telah diberikan ?." sahut remaja paling depan .


 


"pertanyaan mu sudah kutunggu nak, begini saja " sidik berganti posisi duduk. "selain membawa jamu bergilir kalian bawa makanan saja ketempat latihan , nanti setelah selesai latihan kita makan bersama." jawab sidik bijak .


"mengapa guru menolak uang kami ?." lanjut salah satu remaja. "saya ini tidak enak , kalian yang latihan , kalian yang mengeluarkan keringat tetapi kalian juga harus membayar padahal pencak silat itu diajarkan bukan diperjual belikan." penjelasan sidik membuat murid\\-muridnya tertegun. tak kaya kan harta tetapi kaya akan hati.



"ada apa bujang ?." tanya ibu ajam . "ini Budhe tas ajam tadi ketinggalan jadi saya antar." jawab bujang dengan santun. "oh iya...kasihkan aja ajam ada di kamar."


"ada apa bujang ?." tanya ajam melihat sahabatnya muncul di balik pintu. "kamu tadi ninggalin tas kamu di bale." "oh iya sampai lupa aku." . ajam menaruh tasnya di meja belajar . "tadi aku sempat buka\-buka buku mu , tapi aku tak faham." pancing bujang . "tak faham bagaimana maksud mu ?." "ajammm...ajam, kau kan tahu aku tak sekolah jadi tak bisa bacalah." jawab bujang . 


"oh iya , kasian kamu , bujang." bujang yang sedari tadi duduk di kursi belajar ajam melihat lihat buku ajam yang tertata rapi. "kamu mau kalo aku ajarin membaca , Jang ?." tawaran itu sudah ditunggu bujang dari tadi. "pastilah mau." jawab bujang kegirangan .

__ADS_1


 


"ambil salah satu buku di situ bujang, aku ajari membacanya." dengan cepat ia mengambil buku yang paling besar yang sudah ia incar dari tadi. "ini buku paket bahasa Indonesia bujang.' ajam menjelaskan apa yang bujang ambil. di halaman pertama tertulis besar DAFTAR ISI . Ajam menunjukkan satu persatu huruf\-huruf itu "ini yang pertama De..A..eF ..Te...A..eR terus ini I...eS...I , coba kamu ulang." perintah ajam langsung di lakukan tapi "De..A..Te.." belum sampai selesai langsung dipotong ajam "salah bujang ini eF kalo Te yang belakang ini." tunjuk ajam pada huruf\-huruf itu.


"susah hafalin semuanya jam." keluh bujang. "gini aja , aku buatkan abjad di kertas aja." ajam mengambil kertas dan pensil . sambil menulis ajam mengucapkan nama huruf\\-huruf itu , tak hanya itu ia juga mengajarkan cara menghafal urutan abjad dengan lagu "a b c d e f g..... h i j k l m n.. o p q r s t u....v w x y z." lantunan suara ajam ditiru bujang saat berjalan hingga sampai rumah.



"kamu kemana bujang kok baru pulang ?." tanya pamannya . "dari rumah ajam paman." . jawab bujang dengan wajah riang. "kau senang sekali ini ada apa , dan siapa yang mengajarimu menyanyi lagu itu ?." "aku diajari ajam paman, ia juga menuliskan nama\\-nama huruf di sini , tadi aku di ajari membaca." . menunjukkan kertas pemberian ajam. "syukurlah nak, kalau kamu di ajari membaca ajam." wajah sidik terlihat lebih santai .



Malamnya saat bujang tiduran dengan bernyanyi lagu tadi dan mengamati huruf\\-huruf yang ditulis ajam, pamannya datang . "kalau baca jangan tiduran,Jang." Tutur sidik. "iya , tapi kenapa tak boleh ?." tanya bujang dengan berganti posisi. "matamu bisa sakit , sudah berapa huruf yang hafal Jang ?." tanya pamannya . "baru sedikit paman." . sang paman mendekat dan mengajari bujang .


Dua Minggu belajar abjad tetapi belum juga hafal, membuat bujang bosan. "sudah berhari\-hari belajar baca kok aku belum bisa ya jam ?." keluh bujang pada ajam. "nggak papa bujang, aku dulu diajari bunda juga lama kok." "lalu bagaimana biar cepat bisa jam, aku bosan hanya melihat tulisanmu."


"bagaimana kalau menghafal sambil menulis kan kamu juga belum bisa nulis jadi sekalian aja aku ajari." kalimat ajam ini membuat rasa semangat bujang pulih . "boleh saja." dengan wajah penuh kegembiraan . hingga petang bujang baru pulang dari rumah ajam.



"habis belajar sama ajam ya Jang ?." tanya pamannya yang melihat keponakannya itu membawa kertas . "iya paman, aku juga diajari nulis." dalam batin sidik , pamannya bahagia sekali meski tak sekolah tapi bujang punya teman yang baik hati mau mengajari bujang .



Dengan menulis bujang lebih muda menghafal huruf\\-huruf itu. Satu Minggu kemudian bujang telah hafal semua huruf yang diberikan ajam. kini mereka tak hanya berdua saja sekarang Juki juga ikut mengajari bujang mengeja . dengan buku seadanya bujang belajar membaca kadang juga dengan tulisan ajam atau Juki.



Untuk lebih cepat bisa bujang mengeja juga dengan menulisnya. Semua kertas yang digunakan belajar dibawa pulang oleh bujang untuk di kumpulkan. tetapi kini ia punya buku tulis sendiri pemberian Juki, jadi tak perlu pakai sobekan . Dan setiap malam ditemani pamannya bujang mengulangi apa yang ia pelajari tadi .



Dengan ketelatenan bujang, bahkan tulisan Juki atau ajam pun kalah bagus dengannya yang baru belajar menulis . tak hanya menulis dan membaca ia juga diajari temannya tuk berhitung . tetapi cara kedua temannya itu mengajari bujang berhitung dengan kerikil. sebenarnya bujang mendapatkan ilmu yang tak hanya tentang membaca , karena ia selalu bertanya maksud kalimat yang dia baca dan temannya pun tak keberatan menjawab .


 

__ADS_1


 


__ADS_2