
Lebih satu bulan bujang mengurus semua hal yang menjadi tanggung jawabnya sebelum ia pulang .
Termasuk siapa yang akan menggantikannya memimpin para tengkulak pak Mardi , bujang memilih Andhi sebagai penggantinya . Andhi sudah lulus semua yang di minta bujang .
"dhi , mulai besok kamu yang memimpin para tengkulak ini , pak Mardi sudah setuju kamu yang memimpin mereka . " bujang melantik Andhi dengan singkat tanpa sumpah .
"baik bang , aku terima jika pak Mardi yang memintanya.., aku akan menjaga amanah ini sekuat ku ." jawab Andhi meski tubuhnya gemetar .
Malam ini bujang pamitan kepada pak Mardi , Anton , sekaligus Andhi sebagai Jendral baru di keluarga pak Mardi . Tak hanya bujang sendiri , Mamat juga ikut berpamitan karena ibunya semakin parah .
__ADS_1
"tak ada yang dapat bapak berikan pada kalian , semoga pengalaman disini bisa menjadi bekal hidup kalian nanti nak ."
pak Mardi sekarang sebagai orang tua bukan sebagai atasan lagi .
"kami juga berterima kasih kepada pak Mardi dan Anton , telah memberikan pengalaman bagi kami ." balas bujang dan Mamat .
Bujang dan Mamat maju merangkul satu persatu mereka , meski disembunyikan tapi mereka tetap saja meneteskan air mata . Apalagi bagi seorang bujang yang telah mengabdi lama sejak usaha itu masih berupa lapak kecil hingga besar .
"Sejak kecil aku tak mengenal ibu dan bapak , tapi Tuhan masih baik , memberikan aku kasih sayang lewat paman ." Lanjut bujang sambil terus menyeka air matanya . Seperti orang lain pastinya yang ingin menunjukkan kesuksesan tapi sudahlah...
__ADS_1
Menjelang pagi bujang memasuki desa itu , "istirahat disini dulu , paman mungkin masih tidur jam segini ." Gumamnya sambil meraih jam tangan di sampingnya yang baru menunjukkan pukul tiga pagi . Ia sempatkan mengganti lelah semalam di sana .
Matahari menembus truknya ia sudah kembali bersiap menuju tujuan akhir perjuangannya , tak terlalu lama dan ia sudah turun dari truknya menggendong tas ransel penuh ditambah senyum penuh makna melangkah dan mengetuk pintu yang kini sudah tak reot lagi . "Assalamualaikum paman , ini bujang ." Mendengar hal itu sidik keluar dan langsung memeluk erat keponakannya dan berkata "kau sudah pulang nak , sekarang kamu sudah lebih dari yang almarhum bapakmu titipkan padaku , jauh..jauh dari itu nak ."
"Iya , tapi harusnya ibu dan bapak juga merasakan semua ini paman ." Ujarnya sambil terus memeluk keluarga satu-satunya yang masih ia miliki . "Ayo masuklah nak , ini sekarang rumah milikmu nak dan semua benda di sini juga milikmu ."
Bujang terkagum melihat langsung rumah itu , "bagus sekali paman , bahkan lebih bagus dari yang ditunjukkan ajam ." Padahal rumah itu tak banyak dirubah bentuk dan ukurannya makasih sama seperti permintaan bujang tapi itu sudah membuat bujang bahagia . "Nak , kemarilah ( sidik mengajak bujang duduk di teras ) sekarang usiamu sudah dewasa , mapan juga sudah kau dapatkan sekarang kapan kamu mencari teman nak ? ."
"Mungkin tak akan lama lagi dan tak jauh dari sini paman ." Balas bujang , "siapa gadis yang akan engkau pinang nak ? , " Bujang hanya membalasnya dengan senyuman "nanti saja bujang kenalkan , tapi bujang ingin mengambil tanah kakek dulu ."
__ADS_1
"Sudah lupakan tentang itu nak , biarlah menjadi milik orang ."