
"Bagaimana, makanan di sini enak bukan?" tanya Raja.
"Iya, enak."
Raja tersenyum dan kembali menikmati makannya. Setelah selesai dia diam-diam mengambil sesuatu dari saku jaketnya.
"Khem, Sayang. Aku ada sesuatu buat kamu."
"Apa?" tanya Alexa.
"Tutup mata dulu."
Alexa memutar kedua bola matanya.
"Tinggal bilang aja, nggak usah pake tutup mata."
"Ayolah 'kan biar romantis."
Alexa merungut kesal tapi tetap melakukannya. Dia memejamkan mata.
"Udah belum?" tanya Alexa kesal, tidak sabar.
"Udah, sekarang buka mata kamu," ucap Raja.
Alexa membuka matanya dia melihat Raja menyodorkan kotak cincin merah yang didalamnya terdapat dua buah cincin, bentuknya simple tapi yang pasti harganya tidak murah. Raja tidak akan membeli barang murah apalagi untuk kekasihnya.
"Ini untuk apa? Kamu ngelamar aku?" tanya Alexa terkejut.
"Bisa di bilang seperti itu. Aku ingin mengikatmu, agar kau tidak bisa berpaling dariku. Aku juga terikat padamu dan aku tidak akan berpaling darimu."
"Tapi ini berlebihan Raja."
"Tidak, anggap saja hadiah jadian kita. Sini aku lakukan ini di jari tengah kamu, karena ini bukan cincin pernikahan."
"Aku mau di jempol aja."
"Oh, oke di jempol aja." Raja menyaksikan cincin itu di jempol kanan Alexa.
"Kamu pakaikan juga cincin ini di jempol aku." Raja meminta Alexa melakukan hal yang sama padanya.
Alexa mengambil cincin di kotak itu lalu memasangkannya di jari jempol Raja.
"Jangan kamu lepaskan cincin ini, ini tanda hubungan kita."
"Oke." Alexa tersenyum.
Hati Raja berbunga. Dia lalu mencium tangan Alexa, membuat Alexa terkejut dan salah tingkah laku Lexa menarik tangannya.
"Lebih baik kita pulang. Ini sudah malam. Kamu ingat hukuman Papah bukan?"
"Oh iya, kenapa cuma sampai pukul sembilan, sih. Cepat banget. Cinderella aja sampai jam dua belas malam."
"Karena aku bukan Cinderella."
"Iya, kamu itu putri Arjuna, pacar Raja bukan pacar pangeran."
"Nah, itu tahu. Yuk kita pulang sudah jam setengah sembilan."
Dengan berat hati Raja beranjak bangun dan menggandeng Alexa. Dia tidak puas berdua dengan Alexa. Raja menaruh beberapa uang ratusan ribu di dalam daftar Bill yang diletakkan di atas meja.
__ADS_1
Mereka pun berjalan keluar.
Saat Raja melewati meja Aldi, gadis yang bersama Aldi tersenyum pada Raja. Namun Raja cuek dan tidak menanggapi senyum gadis itu. Raja justru tersenyum pada Alexa.
Aldi melihat gadis yang sedang bersamanya tersenyum pada Raja. "Sepertinya makan malam ini tidak akan berhasil. Lebih baik kita tidak usah ketemu lagi. Kita tidak cocok, yang paling penting, gue nggak suka sama lo!"
"Tapi aku cocok sama kamu, aku suka kamu."
"Cih, lo suka teman gue. Lo mau deketin gue biar bisa deketin dia. Lo pikir gue nggak tahu rencana busuk Lo?!"
"Kamu salah Al, aku nggak seperti itu!"
"Cih, dasar muna! Lo bisa pulang sendiri 'kan? Gue nggak mau nganter lo. Bilang sama ortu lo kalau hubungan ini tidak akan berhasil. Gue menolak perjodohan ini!" Aldi lalu bangkit dan melangkah pergi.
Gadis yang bersamanya tadi menatap kesal kepergian Aldi. Dia lalu tersenyum miring. Aldi rupanya dapat mengetahui rencananya.
***
Raja turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Alexa. Dia kemudian berjalan ke pintu rumah Alexa sambil menggandeng tangan sang kekasih.
Raja memencet bel. Pintu terbuka menampakkan Arjuna yang menatap mereka.
"Malam Om, ini anaknya saya pulangkan tepat pukul sembilan sesuai perjanjian. Terima kasih banyak Om, atas waktunya."
"Bagus! Omongan kamu dapat dipegang. Masuk!"
"Maaf, Om. Saya harus pulang. Ini sudah malam."
"Baiklah."
"Lexa, aku pulang dulu ya, kamu masuk kamar, cuci muka sikat gigi, cuci kaki, cuci tangan terus tidur."
"Aku bukan anak kecil lagi yang harus diingatkan!"
kecil yang menggemaskan, iya kan Om?"
"Iya."
"Saya pamit Om, Lexa. Sampai ketemu besok sayang. Dah."
Raja ingin mencium pipi Lexa, tapi tatapan tajam Arjuna membuatnya urung. Raja akhirnya pergi hanya memberi kiss bye dari jauh untuk Lexa.
Selepas kepergian Raja, Arjuna menutup pintu. "Kamu kok bisa pacaran sama dia?" tanya Juna pada Lexa.
"Aku juga nggak ngerti Pi. Lexa ke atas dulu." Lexa melangkah pergi meninggalkan Arjuna.
"Bagaimana dengan Dia?" tanya Juna.
Langkah Alexa terhenti. "Dia yang memilih pergi. Kami tidak akan menjadi kita, dalam hatinya sudah ada yang lain." Alexa kembali melanjutkan langkahnya.
Arjuna menatap kepergian Alexa. "Dia akan segera kembali, semoga kamu benar-benar sudah menghapusnya dari hatimu," batin Arjuna.
Arjuna pun melangkah menilai tangga menuju ke kamarnya.
***
Pagi ini Raja tidak menjemput Alexa. Sesuai dengan perjanjian Alexa akan berangkat dengan Tara.
Alexa sudah sampai di sekolah di bonceng oleh Tara. Dia pun turun dari motor, pada saat yang bersamaan turun Raja dari mobilnya. Mereka saling bertatap mata.
__ADS_1
Mata Raja lalu melirik tangan Alexa. Cincin pemberiannya masih tersemat di jempol Alexa. Raja tersenyum.
Dia lalu menghampiri mereka. "Ayo kita ke kelas," ucapnya pada Tara dan Alexa.
Tara menggandeng tangan Alexa mereka melangkah bersisian. Alexa berada di tengah-tengah.
"Nanti istirahat aku tunggu di rooftop," bisik Raja pada Alexa.
Mereka sampai di kelas. "Kamu masuk, belajar yang benar ya. Kalau ada apa-apa chat aku oke."
"Iya Kak."
Tara lalu mencium dahi Alexa. Semua yang ada di kelas memperhatikan mereka. Raja pun melihatnya. Seharusnya dia juga bisa mencium dahi Alexa. Dia iri sekali pada Tara.
"Khem!" Raja berdehem.
Tara menengok ke arah Raja dan tersenyum miring. Tujuannya memang untuk membuat Raja iri.
"Ayo kita ke kelas!" Raja menarik tas Tara.
"Dah, Culun!" teriak Raja.
Alexa, lalu berjalan menuju bangkunya. Dia kemudian duduk. Dia tahu semua orang memperhatikannya. Dia lalu melihat ke arah teman-temannya.
Mereka langsung buang muka dan kembali bercanda dengan teman mereka. Tak ada lagi yang berbisik atau mengusik Alexa. Mereka tidak ingin bernasib seperti Sisca.
Bel masuk sudah berbunyi. Siswa yang masih di luar mulai masuk kelas. Tak lama datanglah seorang guru. Pelajaran pertama pun dimulai.
Berbeda dengan kelas Raja, yang ternyata tidak ada gurunya. Mereka hanya diberi tugas untuk menulis lalu mengisi soal.
Ada yang mengerjakan, ada yang tidur, ada yang bergosip, ada juga yang ke kantin.
Raja Pergi ke kantin bersama yang lain. Dia membeli banyak makanan kemasan dan kue. "Ja, lo beli banyak banget?" tanya Alvin.
"Buat si culun."
"Ya ampun, sweet banget sahabat gue."
"Ja, kemarin lo pergi sama siapa? Makan malam berdua, lo selingkuh ya?" tanya Aldi.
"Wah, serius Di? Wah Raja, di sini aja lo sok sweet sama culun. Eh nggak tahunya di luar punya yang lain. Wajar sih, si culun 'kan ... ya Lo tahu, deh. Jadi mungkin Raja nyari yang lain lagi."
Plak
Raja memukul belakang kepala Alvin.
"Kalau ngomong itu jangan sembarangan. Gue, serius sama culun. Gue cinta sama dia, yang kemarin itu sepupu gue."
"Oh gitu. sepupu lo."
"Mana mau dia ngaku, ada abangnya di sini. nanti di bantai, mampus Lo!"
"Tar, gimana tuh. Lo nggak curiga sama Raja?" tanya Aldi.
"Tenang aja, sekarang gue percaya dia. Tapi kalau nanti dia bikin adek gue sakit hati. Dia akan hilang dari bumi ini."
"Tuh, dengar Ja, jangan macam-macam!" Aldi menepuk pundak Raja.
"Gue mah satu macam aja."
__ADS_1
Mereka di kantin sampai bel istirahat berbunyi. Suasana kantin yang tadi sepi berubah menjadi ramai.
Raja dan teman-temannya, pergi meninggalkan kantin. Tara pergi menuju kelas Alexa, Raja dan yang lain pergi ke rooftop.