
Alexa diam saja saat di bawa oleh Kevin. Namun, wajahnya tetap tegak, dia tidak menunduk walau ditatap beragam ekspresi oleh semua siswa.
Dia tidak akan menunjukkan kelemahan hatinya, dia tidak akan membiarkan mereka puas karena telah membuatnya menangis. Alexa adalah gadis tangguh, Srikandi Tirta.
Di depan kelasnya, Alexa berhenti dia menatap kedua lelaki di hadapannya. "Terima kasih, ini jaket lo." Alexa menanggalkan jaket yang tersampir di tubuhnya, dan memberikannya pada Kevin.
"Pake aja dulu. Baju Lo basah sampai tembus ke pakaian dalam lo."
"Nggak apa-apa, gue pakai tank top kok, lagipula gue bawa jaket, atau lo mau gue cuci dulu?" tanya Alexa.
"Ya elah, Lex, nih gue bilangin! Gue yakin kalau tuh jaket nggak bakal dia cuci, soalnya bekas di pakai bidadari!"
Alvin memukul kepala Aldi, sedangkan Alexa tersenyum lebar. "Bisa aja, lo Kak. Gue bukan bidadari tapi gue Srikandi."
"Cocok Lo jadi Srikandi, tegas dan tidak kenal takut. Srikandi itu lembut tapi juga kuat, cantik tapi mematikan, pintar, kebaikannya tertutupi oleh aura tegasnya. Jadi kadang mereka tidak menyadari kalau yang dilakukan Srikandi untuk kebaikan mereka.
"Mantap Bro, dari mana lo tahu?"
"Gue ngarang aja. Ya intinya Srikandi itu cewek cantik dan tangguh."
Alexa tersenyum mendengar Aldi, dia sedikit terhibur dengan kehadiran mereka.
"Bisa ae lo, Bambang!"
"Nah ini, gue kadang bingung, Bambang itu siapa? Kenapa selalu di sebut-sebut?" tanya Aldi.
"Noh, Bambang tetangga gue! pertanyaan kok, nggak penting banget." Alvin jadi sewot terhadap Aldi, dia lalu mengambil jaketnya dari tangan Alexa.
"Gue ambil jaketnya, Lo mending ganti baju sebelum masuk angin. 'Kan nggak lucu Srikandi masuk angin." Alvin terkekeh sendiri.
"Ya, udah kita ke kelas dulu, bye." Alvin pun pergi menarik Aldi yang sedang tersenyum manis, tebar pesona pada adik kelas.
__ADS_1
Alexa tersenyum lalu berbalik badan untuk masuk ke kelas dan mengambil jaket yang dia bawa dalam tas.
Biasanya Alexa tidak pernah membawa jaket, tapi tadi pagi instingnya mengatakan kalau dia butuh jaket, dan benar saja instingnya terbukti, bahwa dia memerlukan jaket ini. Alexa lalu memakai jaketnya.
Terdengar bisikan yang keras dari belakang Alexa. "Mampus nggak tuh cewek? Dikeroyok rame-rame." gadis teman sekelas Lexa menatap tak suka pada Lexa.
"Sakitnya tuh di sini!" Teman sebangkunya menimpali seraya memegang dadanya. Mereka lalu tertawa bersama.
Lexa langsung melihat mereka dengan tatapan tajam. Seketika tawa mereka terhenti, melihat tatapan Alexa yang sama persis dengan tatapan saat dia menyerang ketiga senior tadi.
***
Saat ini adalah istirahat kedua, setelah sholat, Alexa ingin ke kantin. Dia berjalan sendiri saat akan masuk kantin seseorang menarik tangannya.
"Kita bareng aja Lex," ucap orang itu. Dia adalah Alvin.
Setelah membeli makanan, mereka melihat suasana yang ramai. Tidak ada tempat duduk lagi.
Alexa mengikuti ke mana tangannya ditarik. Mereka bertiga lalu pergi ke taman. Raja melihat mereka dari mejanya. Meja yang biasanya di isi oleh Alvin dan Aldi juga Alexa bersama mereka.
Kini semua berganti menjadi Aurel, Cindy dan Vera. Rasanya aneh. Dia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Seharusnya dia senang karena ada Vera sahabatnya di sini.
"Ja, kamu kenapa?" tanya Vera.
Raja melihat ke arah Vera, dia melihat bekas tamparan Alexa. Raja tidak percaya ternyata Alexa bisa melakukan pembukuan seperti itu. Raja kecewa pada Alexa.
"Ini masih sakit?" tanya Raja seraya memegang pipi Vera.
"Masih, apalagi di bibir aku jadi susah makan," ucap Vera manja.
"Makannya pelan-pelan aja." Raja lalu tersenyum.
__ADS_1
"Iya," ucap Vera lalu tersenyum pada Raja.
"Ih, padahal penampilan dia culun banget, jelek tapi tidak sopan sama senior, kasar udah kayak preman pasar aja," ucap Aurel.
Perkataan Aurel, menusuk hati si kembar. Mereka juga tidak menyangka kalau Alexa akan bertindak seperti itu.
"Gue, nggak terima. Gue akan laporin ini ke guru BK." Vera tidak terima karena perutnya juga sakit mendapat tendangan dari Alexa.
Raja dan si kembar saling lirik. Urusannya akan panjang, bila Arjuna sampai ikut campur apalagi ini adalah anak kesayangannya.
Mereka harus bisa mencegah para gadis untuk melaporkan Alexa.
"Lebih baik kita nggak usah guru BK. Nanti malah kamu juga kena hukuman. Kalian juga 'kan ikut menampar Alexa." Sena mecoba membujuk mereka.
"Aku 'kan hanya membalas dan membela diri. Memangnya kamu mau aku diam aja, terus babak belur gitu?" tanya Aurel.
"Bukan begitu, maksudnya. Maksud aku kalian juga terlibat pertengkaran. Nah pihak sekolah tidak mau peduli siapa yang salah dan benar. dia belah pihak akan dihukum." Sena menjelaskan dengan harapan mereka akan mengurungkan niatnya.
"Nggak, pokoknya si culun jelek itu harus dapat balasannya karena sudah kasar pada kami. Aku ingin dia dikeluarkan dari sekolah!"
Tara memijit pelipisnya. Raja bingung mana yang harus dia bela. Namun, melihat apa yang dilakukan Alexa, sudah jelas Alexa salah.
"Terserah kalian." Percuma saja melarang, Raja tahu Vera sangat keras kepala.
"Oke, kita kumpulkan bukti dulu. besok aku mau melaporkan Alexa. Gimana menurut kalian?" tanya Vera pada Aurel dan Cindy.
"Oke, apalagi korbannya tiga orang. Alexa pasti akan langsung dikeluarkan." Mereka tersenyum.
Seharusnya mereka berpikir bagaimana bisa satu orang membully tiga orang? Sayang Raja dan si kembar tidak berpikir Samapi ke sana.
Yang mereka pikirkan sekarang bagaimana mereka akan memberi alasan pada Arjuna. Mereka pasti akan disahkan apa pun hasilnya nanti. Mereka pasti akan terkena hukuman.
__ADS_1