
Vera benar- benar mengadukan Alexa kepada guru BK. Dia dan kedua temannya mengatakan telah di bully oleh Alexa.
Guru BK tidak percaya, tapi melihat penampilan mereka, Akhinya dia pun memanggil Alexa.
Kini Alexa berada di ruangan BK, bahkan kepala sekolah pun turun tangan langsung. Dia masih ingat jika Tuan Arjuna pernah membela Alexa.
Berarti mungkin keluarga mereka dekat. Kepala sekolah meminta Alexa menelepon orang tuanya untuk datang ke sekolah. Begitu juga dengan rival Alexa
Dia ingin semua selesai hari ini. "Lexa, sudah telepon orang tua kamu."
"Mereka tidak bisa datang, Pak." Alasan yang diberikan oleh Alexa.
"Mereka malu kali, mau datang? Apalagi anaknya yang berulah! Udah miskin aja masih belagu!"
Alexa melirik kedua kakaknya, dia melihat tangan mereka mengepal kencang. Alexa hanya tersenyum miring.
Dia sendiri tidak merasa tersinggung, biar saja mereka menghinanya sedemikian rupa. Nanti ada saatnya dia akan membalas mereka dengan cantik.
seorang Alexa sudah terlatih mentalnya sejak kecil. Dia menyukai bela diri, dalam belajar bela diri perlu kesabaran dan latihan keras.
Dalam ilmu bela diri juga diajarkan kapan kita harus menyerang di waktu yang tepat.
"Baiklah, Kalau begitu nanti Bapak yang menghubungi mereka. Sekarang kita bahas dulu, masalah ini."
__ADS_1
Kepala sekolah menghela napasnya. "Alexa, kamu tahu kenapa kamu di panggil ke sini?"
Alexa menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Pak."
"Vera bilang kamu membully dia dan teman-temannya, benar?"
"Bagaimana menurut Bapak? Apa menurut Bapak, saya mampu membully tiga orang seperti mereka?" Lexa justru balik bertanya.
Kepala sekolah mengamati Alexa, di pipi Alexa juga terdapat bekas tamparan. Dia merasa Alexa tidak mungkin membully mereka bertiga, yang ada Alexa akan dikeroyok.
"Sepertinya tidak mungkin, tapi kita butuh bukti untuk membuktikan semua ucapan kalian. Siapa yang salah di sini biar bukti yang berbicara," ucap kepala sekolah.
"Alexa sekarang bisa kau ceritakan bagaimana kronologisnya, versi kamu."
"Jadi begitu, benar Vera kamu yang memulai semuanya?"
"Bohong, Pak. Alexa yang memulainya, satu sekolah yang ada di kantin menjadi saksi. Mereka melihat kalau Alexa yang memukul duluan. Raja juga melihatnya!"
Raja terkesiap, mendengar namanya disebut. Dia tidak melihat apa pun, kenapa Vera bilang seperti itu? Vera juga tahu, kalau Raja tidak melihatnya.
"Benar Raja, kamu melihat Alexa yang menyerang duluan?" tanya kepala sekolah pada Raja.
Raja terdiam, dia melihat ke arah Alexa, yang sedang menatapnya dengan wajah datar. Raja kemudian mengalihkan pandangannya pada Vera yang menatapnya dengan wajah memelas agar Raja mau membenarkan ucapannya.
__ADS_1
Raja dilema, siapa yang harus dibelanya. Dia tidak tahu apa pun yang dia tahu saat itu Alexa sedang memukul mereka bertiga. Jika satu sekolah melihatnya dan membenarkan ucapan Vera maka mungkin saja Vera benar.
"Iya, Pak Alexa yang mulainya lebih dulu." Raja memilih membela yang benar dan dia yakin kalau Vera yang benar.
Alexa tertawa, bodoh sekali dia bisa mengenal lelaki seperti Raja dan mau menerima Raja sebagai pacarnya. Alexa menertawakan kebodohannya.
Raja menatap Alexa tidak mengerti, kenapa Alexa tertawa? Apa perkataannya terasa lucu?
"Alexa kenapa kamu tertawa?" tanya Kepala Sekolah.
"Tidak, Pak saya hanya menertawakan orang bodoh yang mengaku melihat, sesungguhnya dia tidak melihat apa pun."
"Heh, cewek jelek. Lo ngatain Raja bodoh! Lo tuh yang bodoh. Udah deh Pak, keluarin aja dia bikin nama sekolah kita jelek aja. Masa di sekolah elite ada yang model begini, sih. Ih jijik banget gue!" Aurel mencerca Alexa.
"Bapak lihat? Galakan dia dari pada saya. Bagaimana saya bisa membully mereka?" tanya Alexa pada kepala sekolah.
"Pak, dia itu hanya pura-pura lemah, dia itu penipu. Culun ngaku aja deh lo! Orang tua lo nggak ngaca apa ya? Masukin anak jeleknya ke sini."
"Siapa yang jelek? Jaga ucapan kamu ya."
Seseorang datang menyela Aurel.
"
__ADS_1