
Tara menunggu Alexa di depan kelasnya. Begitu guru sudah keluar kelas, murid-murid mulai berhamburan keluar. Alexa duduk tenang di bangkunya. Dia tidak mau berdesakan keluar.
Setelah agak lengang di pintu. Alexa bangkit bertepatan dengan masuknya Tara. "Ayo kita makan," ucap Tara.
Alexa tersenyum dan mengangguk. Mereka lalu bergandengan tangan dan keluar kelas. "Raja di mana?" tanya Alexa.
"Di rooftop."
Mereka pun pergi ke rooftop sekolah. Di sana sudah ada Raja, Sena, Alvin dan Aldi menunggu. Raja tersenyum melihat Alexa, dia menarik Alexa agar duduk di sampingnya.
Aldi tersenyum melihat Raja, yang seperti itu. Semalam sikap Raja pun sangat perhatian pada gadis yang kemarin dia lihat.
"Ini, buat kamu." Raja memberikan kantong plastik berwarna hitam.
"Apa ini?" tanya Alexa. Dia lalu membuka plastik itu. Senyumnya mengembang. Dia mengambil Somay dalam bungkusan plastik dan memakannya.
"Kalian ada yang mau?"
"Nggak, merek sudah kenyang tadi makan di kantin." Raja yang menjawab.
"Raja khusus beli itu buat lo," ucap Aldi.
"Dek nih." Sena memberi Alexa minuman.
"Makasih Kak." Alexa menerimanya.
"Gue nggak habis pikir, kalian satu darah tapi kok beda banget? Apa kalian nggak pernah ajak si Lexa ke salon?" tanya Alvin pada si kembar.
"Kakak, kenapa? Memangnya aku jelek banget ya?" Wajah Alexa berubah sendu.
Plak
Raja memukul kepala Alvin. "Lo, bisa diam nggak? Memangnya Lexa kenapa? Dia cantik, gemesin aku suka banget. Nggak usah ke salon segala!"
"Munafik!" celetuk Aldi.
"Maksud lo apa?" tanya Raja.
"Nggak apa-apa."
"Vin, menurut lo apa mungkin kita yang cakep ini punya adik yang culun kayak gini?" tanya Tara pada Alvin sambil menunjuk wajah Lexa.
"Sedangkan ortu kita aja ganteng dan cantik, mikir aja sih?"
Aldi dan Alvin berpikir, Aldi kemudian teringat wajah gadis yang kemarin bersama Raja. wajahnya cantik, penampilannya modis, kalua di ingat-ingat wajahnya mirip Pak Arjuna.
"Wah, lo si Juminten, ya?" tanya Aldi sambil berteriak.
"Juminten apaan? Dia Alexa." Tara membantah.
"Bukan, semalam gue llihat cewek makan malam sama Raja, cantik banget. Gue kenalan kata Raja namanya Juminten."
Alexa terkekeh, "Iya, itu aku. Nih orangnya yang ngasih nama Juminten." Alexa menunjuk pada Raja.
"Nih, Vin. Gue ada video nya lo mau lihat?"
__ADS_1
"Mana?"
Aldi mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman video pada Alvin. Rupanya Aldi merekam Raja dan Alexa, untuk bukti.
"Wah, cantik banget ceweknya, ini lo beneran?"
"Iya, Kak."
"Terus kenapa lo merubah penampilan kaya gini?"
"Pengen aja, biar nggak ada teman yang fake."
"Oh, begitu."
"Apakah Raja itu termasuk fake?"
"Nggak tahu, kita lihat aja nanti."
"Aku tuh tulus sama kamu. Mereka tuh yang fake, pura-pura baik nggak tahunya suka banget lihat aku susah! Nggak bisa lihat orang senang dari tadi kerjanya gangguin terus."
Mereka justru terkekeh melihat Raja yang sewot. Selesai makan somai Alexa makan Donat. Dia juga menyuapi Tara yang duduk di sampingnya.
"Aku nggak disuapin sayang?"
"Nggak ah, takut ada yang iri."
"Lexa emang pengertian sama yang jomblo. Ya, Sen?" Aldj menyindir
"Loh kok gue, lo aja kali gue nggak!"
"Nah, Di. Siapa tuh?"
"Itu, bukan siapa-siapa cuma cewek rese. Dia itu mau dijodohin sama gue. Tapi, tahu nggak? Dia itu sengaja deketin gue supaya bisa deket sama Raja."
"Kok, gitu?"
"Gue langsung tinggalin aja tuh cewek."
Terdengar suara ponsel. Ternyata ponsel milik Alexa. Dia lalu melihat chat yang masuk dan berdiri.
"Aku, harus pergi. Terima kasih Kak, makanannya."
"Tapi, kamu mau ke mana?" Raja menarik tangan Lexa dan bertanya.
"Aku mau masuk kelas, Kak. sebentar lagi bel masuk."
"Ya, udah kalau ada apa-apa telepon aku ya!" kata Raja.
"Telepon Kakak aja." Sela Sena.
"Iya," ucap Alexa seraya berlalu
pergi.
Alexa pergi bukan ke kelasnya melainkan ke mobil yang baru saja datang menjemputnya. Dia menjemput ditempat yang tersembunyi.
__ADS_1
Alexa masuk ke dalam mobil, lalu memakai seat belt. "Kita langsung ke sana Nona?"
"Iya." Alexa lalu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo, siapkan baju gantiku." Alexa lalu langsung menutup ponselnya.
Dia lalu menulis pesan pada Sena kalau dia pergi dan titip tasnya agar nanti ketika pulang sekolah diambil.
Alexa sampai di sebuah gedung. Mobil langsung ke basement. Dia parkir di tempat khusus. Alexa bergegas turun kemudian menuju lift khusus yang ada di basement.
Dia membuka kunci pintu lift dengan kunci yang menggantung di kalungnya, hanya dia yang punya kunci itu. Sehingga tidak ada orang lain yang bisa menggunakan lift ini. Lift ini langsung menuju ke ruangannya.
Dalam waktu lima menit, Alexa sampai di ruangannya. Dia disambut oleh asisten pribadinya yang sangat cekatan.
"Ini, Nona. Baju salin Anda."
"Terima kasih, Erika." Alexa kemudian masuk ke kamar mandi. Dia lekas berganti baju.
Setelah sepuluh menit Alexa keluar sudah dengan penampilan yang berbeda. Cantik dan elegan, tanpa kacamata, tanpa behel dan wajah bintiknya.
Kini hanya ada Alexa yang berwajah mulus, make up sederhana, rambut yang diikat tinggi, sangat menawan.
"Ayo kita ke sana sekarang."
"Siap Nona."
Mereka berdua melangkah bersama, ke satu ruangan. Setelah di depan pintu ada seorang pria yang berjaga, dia lalu membuka pintu itu. Alexa dan Erika pun masuk.
Suasana di dalam ruangan itu langsung hening, mereka semua berdiri dari tempat duduknya. "Silahkan, duduk kembali." Alexa berjalan lalu duduk di bangkunya.
"Selamat siang, semuanya," ucapnya.
"Selamat siang Nona."
"Saya dengar dari Ms. Erika, kalau ada sebagian dari Anda ingin menjual sahamnya pada pihak lain, apakah itu benar?"
"Ya, Nona. Saya ingin menjual saham saya, karena saya merasa perusahaan ini tidak akan maju karena dipimpin oleh seorang yang belum berpengalaman."
"Begitu, menurut Anda orang berpengalaman itu haruskah yang lebih tua?"
"Ya, Anda masih sangat muda belum berpengalaman."
"Apa yang sudah tua itu, tahu selera anak muda, tahu teknologi yang berkembang cepat?"
"Saya ragu jika itu alasannya." Alexa menoleh pada Erika dan memberi kode padanya untuk membagikan berkas yang Erika bawa.
"Kalian semua bisa lihat apa yang tertera di situ."
"Saya pastikan kalian semua akan bertanggung jawab. Saham kalian saya yang akan beli."
Mereka semua berbisik. "Nona, tidak bisa seperti ini. Semua ini palsu!"
"Saya bisa, saya tidak suka pengkhianatan!"
...----------------...
__ADS_1