Si Culun Kekasih Raja

Si Culun Kekasih Raja
Bab 42. Azas Manfaat


__ADS_3

pagi ini suasana sarapan terasa horor bagi Raja. Dia tidak bisa makan dengan tenang, bahkan untuk menelan makanan pun terasa sulit. Tatapan tajam Dewa bak tatapan Elang yang sedang memburu mangsanya, siap menerkam kapan saja.


Dewa berusaha tidak peduli tetapi aura seram meliputi Dewa. "Raja sudah selesai sarapan. Aku mau berangkat sekolah."


Raja pamitan pada kedua orang tuanya, dengan ragu dia mengulurkan tangan untuk mencium tangan papahnya. Dewa bersikap dingin pada Raja. Dia tidak peduli dengan Raja yang ingin mencium tangannya.


Raja pun mengurungkan niatnya untuk mencium tangan sang papah. Dia akhirnya pergi keluar menuju motornya. "Aman ternyata bokap nggak minta kunci motor." Raja mengusap dadanya karena merasa lega.


Dia menyalakan motornya, tetapi tidak bisa nyala. Raja mengulanginya lagi tetap tidak nyala. Dia kemudian mencoba dengan kick starter, tetap tidak menyala.


Raja curiga bensinnya habis dan benar saja bensinnya kosong. "Ah, ini pasti kerjaan Papah. Percuma aja ada kunci nggak ada bensin."


Raja kemudian memutuskan untuk naik mobil. Dia pun melangkah menuju mobilnya, setelah duduk dan memakai seat belt, Raja menyalakan mobil. "Alhamdulillah bisa nyala."


Raja kemudian perlahan ingin memundurkan mobil tetapi ada yang janggal. Dia pun turun untuk mengecek. "An**r bannya digembok! Mana udah siang lagi." Raja menendang ban mobil tersebut.

__ADS_1


"Aduh!" Kaki Raja terasa sakit.


"Kalau begini gue ke sekolah naik apa? Minta jemput sama siapa? Hubungan gue ama yang lain lagi renggang."


Pada saat yang sama muncul Dewa. "Kenapa belum berangkat sekolah?" tanya Dewa pada Raja.


"Ini juga mau berangkat! Tapi mobil sama motornya kan nggak bisa jalan."


"Naik mobil umum aja banyak tuh!"


Yang benar saja, apa kata dunia, kalau Raja naik kendaraan umum? Lebih baik dia tidak sekolah, lagian ada-ada aja Papahnya ini.


Dewa langsung masuk ke dalam mobil yang lain. Dia tidak peduli protes Raja. "Kalau kamu bolos dan tidak sekolah, Papah akan keluarkan kamu dari sekolah!" tegas Dewa pada Raja. Papahnya tahu saja, kalau dia memang berniat bolos.


Dewa kemudian menyuruh kepada Sopir untuk menjalankan mobilnya. Raja membuat gerakan meninju ke arah mobil papahnya. "Untung Bokap gue! Ah, sekarang naik apa? Masa sih harus naik angkutan umum."

__ADS_1


Raja berpikir sebentar. "Ah iya, kok nggak kepikiran dari tadi ya?"


Raja mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mencari aplikasi WhatsApp, lalu dia klik dan mencari kontak Vera.


Raja berpikir untuk minta jemput pada Vera. Ya walaupun sebenarnya dia sedang malas dekat dengan Vera. Apa boleh buat? saat ini yang penting dia ada tumpangan. "Kenapa nggak gue manfaatin si Vera aja?" Raja tersenyum miring penuh arti.


Vera yang sedang dalam perjalanan ke sekolah, menerima telepon via WhatsApp dari Raja. Dia sangat senang karena Raja meminta dia menjemputnya.


Vera langsung menyuruh sopirnya untuk putar haluan menuju rumah Raja. Sepuluh menit kemudian sampailah dia di depan gerbang rumah Raja. Di sana berdiri seorang Raja dengan bersandar pada tembok pagar. kedua tangan dilipat di dada. satu kaki ditekuk menapak pada dinding pagar.


Melihat mobil Vera datang, Raja bergegas melangkah menghampiri mobil Vera. Dia pun membuka pintu mobil depan samping kemudi. Baru saja Raja duduk dan hendak menutup pintu terdengar protes dari belakang.


"Kok, duduk di situ? Pindah sini ke belakang!" Vera ingin Raja pindah ke belakang. Masa iya duduknya misah begitu, harusnya 'kan mereka duduk berdampingan.


Raja pun tak jadi menutup pintu dan keluar dari mobil. Dia menutup pintu depan lalu membuka pintu belakang. Vera tersenyum pada Raja. Langsung saja Raja masuk ke dalam lalu duduk dan menutup pintunya.

__ADS_1


Vera langsung memeluk lengan Raja sambil tersenyum. Wajah Raja dingin tetapi dia tidak menolak. Dia membiarkan saja mau Vera, karena dia masih butuh Vera untuk kelangsungan hidupnya yang sedang krisis keuangan.


__ADS_2