
Alexa turun ke bawah mencari Mamahnya. Dia bertanya pada salah satu pelayan di mana sang Mamah? Pelayan itu memberi tahu kalau mamahnya berada di taman, tempat Favorit Mamah.
Dia pun melangkah menuju taman. Dilihatnya mamah sedang membaca majalah. Mamahnya memang unik di saat mungkin hampir semua orang memakai ponsel untuk membaca berita atau mencari tahu sesuatu. Mamah lebih suka membaca majalah. Katanya pusing lihat ponsel terus.
Memang benar, sih. Alexa saja kadang-kadang pusing jika terlalu lama melihat layar laptop. Matanya mudah lelah, belum lagi radiasinya. Oleh karena itu dia memakai kacamata anti radiasi jika harus memakai laptop atau komputer.
Alexa duduk di samping Anisa, terpisah oleh meja bundar yang terbuat dari marmer. Tersaji segelas greentea hangat kesukaan Anisa. "Mah," tegur Alexa pelan.
"Hm."
"Teman Lexa ada yang mau ke sini. Dia sudah sampai bandara. Sekarang sedang dijemput oleh sopir."
Brak
Alexa terkejut karena mamahnya membanting majalah ke atas meja. "Kenapa baru bilang. Mamah harus siapkan makanan spesial buat taman kamu. Seumur-umur baru kali ini ada teman kamu yang mampir dari luar negeri lagi!"
Anisa sangat antusias. Dia senang Alexa memiliki teman di sana. Dia akan menyambutnya dengan baik agar Alexa tidak malu. Anisa beranjak bangun dan melangkah pergi.
__ADS_1
Namun, baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik badan. "Dia pasti nginep 'kan ya? Mamah akan siapkan kamar sekalian."
"Semangat sekali Mamah, belum tahu aja bagaimana kelakuan Kris? tapi kayaknya Mamah cocok-cocok aja." Alexa tersenyum tipis melihat mamahnya yang antusias menyiapkan sambutan untuk temannya.
Alexa pun beranjak bangun dan p
masuk ke dalam. Dia akan menonton TV selagi menuggu kedatangan Kris. "Lexa, sepertinya kalau masak nggak keburu. Jadi Mamah beku aja dari restoran, nggak apa-apa ya?"
Anisa datang dari dapur dan bergabung dengan Alexa di ruang keluarga. "Nggak apa-apa, Mah. Kasih aja masakan Padang dia pasti suka," Jawab Alexa.
Sementara itu di tempat lain. Di kantor Raja. Dia mendapat chat dari mata-matanya yang memberi tahu kalau Nyonya besar meminta disiapkan kamar untuk teman Alexa dari luar negeri.
"Hm, siapa ya temannya?" tanya Raja pada dirinya sendiri. Dia penasaran. Di sini tidak dijelaskan apakah laki-laki atau perempuan?
"Kasih informasi kok setengah-setengah!" Raja menggerutu. Dia lalu menyimpan ponselnya di atas meja, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Hatinya masih kesal dengan penolakan Alexa, walau dia tahu tindakannya mungkin memang tidak bisa dimaafkan. Namun, dia berharap seiring waktu Alexa dapat melupakan dan memaafkan dirinya.
__ADS_1
Pintu ruangan Raja diketuk. Dia menyuruhnya untuk masuk. Begitu pintu terbuka masuklah seorang pria yang mirip dengan Raja. Namun, versi matangnya.
Pria itu kemudian duduk berhadapan dengan Raja yang duduk di kursi kebesarannya. "Ada apa, Pah?" tanya Raja.
"Kamu sudah tahu kalau Alexa sudah kembali?" tanya Dewa serius. Dia tahu betapa anaknya ini menunggu dapat bertemu dengan Alexa. Raja bekerja keras demi mencapai kesuksesan saat Alexa kembali nanti.
Kini masa itu telah tiba. Berarti dia akan mewujudkan impian Raja dengan mengangkat Raja menjadi CEO. Dewa melihat kerja keras Raja.
"Iya, Pah, aku sudah bertemu."
"Terus bagaimana reaksi dia?" tanya Dewa lagi.
Tahu siapa maksud pertanyaannya? Raja menjawab. "Dingin."
"Kalau dingin, peluk dong biar hangat!" guyon Dewa, untuk menghibur Raja.
...----------------...
__ADS_1