
"kring .." bunyi handphone Jose berdering, Jose sedang berada di kamar mandi sedangkan handphonenya tergelak di tempat tidur kamarnya. tak lama handphone Evan yang berbunyi. Evan masih berdiam diri bersama mirna mencari ide dan berharap agar ayahnya cepat keluar dari penjara. Evan langsung melihat handphonenya, dan ternyata yang menelepon itu adalah Riko. Evan mengangkat telepon dari Riko
"halo om..." kata Evan
"Evan... mana kakak kamu?? di telepon ga di angkat" kata Riko
"dia sedang mandi, ada apa om??" kata Evan
langsung tiba-tiba Mirna berbicara kepada Evan "sayang... berita ayah kamu sudah ramai di medsos"
Evan langsung terkejut apa yang di katakan Mirna, dan Riko pun berkata demikian "Evan om mau berbicara seperti itu"
"terus om bagaimana??" kata Evan
"sebentar om hubungi teman om dulu" kata Riko
Riko langsung memanggil istrinya, untuk meminta bantuan kordinasi dengan petinggi polisi "sayang... bisa hubungi pak Dion, kasusnya makin rumit"
"rumit kenapa sih??" kata Fany sambil menelepon Dion
"nanti ajah aku jelaskan" kata Riko
Riko masih menggenggam handphonenya sambil kebingungan, entah apa yang bisa dia lakukan?? badan anti korupsi pun sudah memeriksanya. jika saja Hermawan menjadi saksi, Riko akan terseret masuk penjara juga.
"nih... pak Dion" kata Fany sambil memberikan handphonenya kepada Riko
Riko mengambil handphone istrinya, lalu berbicara dengan Dion "halo pak apa kabarnya??"
"halo pak Riko, baik saya baik" kata Dion
"pak... kasusnya makin rumit, gimana nih sahabat saya bisa di keluarkan" kata Riko
"seperti saya bilang, jika kasus ini belum viral maka akan mudah" kata Dion
"begini pak Dion... tadi sore saya di datangi badan anti korupsi, semuanya di cek. perasaan saya mereka akan mendatangi Hermawan. jika dia angkat bicara habislah kita, kira-kira apa yang bisa di rencanakan??" kata Riko
"ya udah kita pake cara mudah saja" kata Dion
"maksud bapak, cara mudah seperti apa ya??" kata Riko
__ADS_1
"kita habisi dia, kasian dia sudah tua harus mendekam di penjara" kata Dion
"bentar pak... bentar, kalo seperti itu apa ga akan semakin parah kasusnya pak??" kata Riko
"sudah... kamu tenang ajah, saya akan setting semuanya. seakan-akan itu semua kecelakaan di penjara" kata Dion
"aduh... gimana ya kalo kaya gitu" kata Riko
"bapak sekarang tenang dulu, santai dulu sama istri. sebentar lagi kita bersenang-senang" kata Dion
"oke deh pak... nanti saya kabarin lagi sama bapak" kata Riko
Mendengar rencana dari Dion yang akan semakin buruk ke adaan, Riko semakin cemas dengan masalahnya. dia semakin kebingungan. kali ini dia sudah tidak bisa apa-apa. saking cemasnya, Riko lupa menutup telepon dengan Evan.
Tentunya Evan mendengar semua pembicaraan itu. Evan sangat kaget, bahwa ayahnya akan di bunuh. semua pembicaraan itu Evan rekam. dan akan memberi tau kepada kakaknya dan ibunya.
Muka Evan sangat gelisah, dia duduk di kursi sofa sambil menunggu kakaknya datang, semenjak ibunya masih beristirahat di kamarnya. di ruangan itu, hanya ada Evan dan Mirna.
Mirna yang terus memperhatikan Evan sang kekasihnya itu, dengan wajah yang begitu tidak biasa Mirna menanyakan hal yang membuat Evan berbeda dari biasanya.
"sayang... kenapa?? kamu kaya yang gugup gitu??" kata Mirna
"di bunuh sama siapa??" kata Mirna
"Dion... atasan dari kepolisian" kata Evan
"aku ga kenal Dion" kata Mirna
"sudahlah... kamu ga usah ikut campur urusan keluarga aku, mending kamu pulang" kata Evan
"engga aku akan ikut, demi kamu" kata Mirna
tidak lama pembicaraan itu, Jose dan ibunya Evan datang. mereka bergabung dengan Evan. baru saja Jose dan ibunya duduk di kursi sofa, handphone jose berdering. kali ini no nya ga dia kenal.
"halo" kata Jose dalam teleponnya
"selamat malam pak, apa benar ini keluarganya pak Hermawan" kata pihak di sana
Pada saat Jose menerima telepon, Evan tak sabar ingin memberitahukan rencananya Dion.
__ADS_1
"kak... tadi kan" kata Evan
Baru saja Evan mau mengatakan sesuatu kepada Jose. Jose menyuruh Evan untuk berhenti ngomong.
"oke saya Eva dari rumah sakit, untuk mengabarkan bahwa pak Hermawan sedang ada di sini. sekitar 30 menit yang lalu pak Hermawan di bawa ke sini. dia kecelakaan di sananya katanya. kami sudah berusaha dan nyawanya sudah tidak tertolong. saya mohon kiranya bapak datang ke rumah sakit" kata Eva
"apa??" kata Jose dengan terkejut mendengar berita tersebut
"baik... saya kesana sekarang " kaya Jose
"ada apa nak??" tanya ibunya Jose
"ayah... mah, dia meninggal di rumah sakit. katanya dia kecelakaan
Evan dan ibunya sangat kaget mendengar berita itu, Evan merasa sangat cepat sekali. belum dia memberitahu Jose ayahnya sudah kondisi terbunuh.
Jose dan ibunya langsung pergi ke rumah sakit, dan Evan tidak memilih ikut. dia hanya berdiam di rumah. hal ini membuat jengkel untuk Evan.
Evan mencari cara bagaimana dia harus balas dendam atas semua ini. Evan dan Mirna saling bertukar pikiran, dan merancang agar bisa balas dendam.
Sementara itu di rumah Riko, kondisi sangat hening. hari sudah semakin malam. Fany membawakan segelas air putih untuk suaminya, Fany melihat suaminya itu begitu capek.
"sayang... sudah malam kita istirahat dulu yuk" kata Fany
"oh iya, makasih ya. kamu begitu perhatian sama aku. ya udah aku ganti baju dulu" kata Riko
Riko pergi ke kamar di ikuti oleh Fany, di dalam kamar Fany membukakan baju Riko. jarinya membelai suaminya itu, mulai dari perut sampai ke pipi Riko. bibir Fany di dekat kan kepada bibir Riko. Fany membukakan sabuk celana Riko, dan membuka celana Riko.
Kali ini Riko dalam ke adaan telanjang, hanya ****** ******** saja. tangan Riko mulai bergerak ke arah pinggang Fany. bibirnya mencium bibir istrinya. Fany sangat bergairah ketika mendapatkan ciuman dari Riko. Riko menggendong Fany ke arah tempat tidur. dan Fany dalam posisi terbaring. barang milik Riko sudah aktif. tapi Riko menenangkan dirinya untuk tidak terburu-buru. Riko mencium bagian leher Fany. Fany mulai mendesah kenikmatan. bajunya mulai di buka sambil di cium Riko secara perlahan. gairah Fany sangat memuncak ketika ciuman itu berada di bagian dadanya. ciuman itu semakin kebawah, ke arah miliknya Fany. celana mulai di buka oleh Riko. mereka sudah tak tahan lagi, ingin langsung kepada pokoknya. begitu di masukan, Fany mendesah sangat keras merasakan kenikmatan. tangannya memegang bantal menahan nikmatnya dari Riko, semakin Riko menggoyangkan badannya, mereka berdua semakin merasakan kenikmatan.
Ketika hampir di puncak kenikmatan, "dor" suara tembakan sangat keras. Fany melihat darah di kepala Riko. sekejap Riko terjatuh ke badan Fany. Fany kaget bahwa suaminya ada yang membunuh. dan pembunuh itu tepat di hadapan Fany. pembunuh itu langsung terlihat saat Riko terjatuh. pembunuh itu melihat wajah Fany, dan Fany ketakutan dimana dia kondisi dalam keadaan telanjang. Fany mengira dia akan di perkosa dan di bunuh oleh pembunuh suaminya itu.
Lalu pembunuh itu membuka topengnya, dan ternyata orang itu Fany pernah melihatnya. wajahnya sangat tak asing lagi.
"anjing... kamu lagi... kamu lagi" kata Fany
dan yang membunuh Riko adalah Evan, setelah Evan ketauan oleh Fany bahwa dia sudah membunuh Riko. Mirna yang ikut dengan Evan, dia menarik Riko untuk kabur. mereka berlari ke arah dimana Mirna pernah mencari toilet, yaitu ke belakang rumah melewati pesawahan.
Fany hanya bisa menangis, sementara mayatnya Riko masih tergeletak di tubuhnya Fany. Fany berteriak memanggil suaminya untuk bangun. tapi memang kondisinya sudah tewas.
__ADS_1