
Ke esok kan harinya, Evan masih tertidur dan Fany sudah menyiapkan sarapan untuk semua. Semua orang yang ada di rumah sudah berkumpul di meja makan. Hanya Evan yang masih di dalam kamar. Fany langsung menyusul ke dalam kamar. "Van... Bangun, ayo kita sarapan" kata Fany
"engga ah males" kata Evan
"loh kamu ga akan makan?? Iya deh pasti maleskan makan di rumah gw" kata Fany
"bentar apa maksudnya??" kata Evan
"secara masakan di rumah loe kan pasti mahal, enak ga kaya di sini, seadanya" kata Fany
Evan tidak menjawab malah kembali menarik selimutnya, dan kembali tidur. Fany kembali ke ruang makan dalam hatinya berbisik kepada dirinya sendiri "tuh kan bener... Inget Fan dia ga mungkin mencintai loe, loe juga jangan baper duluan"
"Fany mana Evan??" kata ibunya Fany
"ga tau lah mah... Katanya lagi males makan" kata Fany
"kalian semalem tidur jam berapa??" kata ibunya Fany
"pas dia bengek mah... Kita langsung tidur" kata Fany
"ya udah kamu bawa makanannya buat dia" kata ibunya Fany
"mah... Mamah serius aku sama Evan jadi suami istri beneran??" kata Fany
"maksud kamu?? Kalian udah sepakat kan mau menikah " kata ibunya Fany
"iya mah... Maksudnya kita ga saling mencintai, ya aku cuman memanfaatkan kekayaannya ajah" kata Fany
"bukan engga belum... Kamu ini" kata ibunya Fany
"kayanya ga mungkin mah... " kata Fany
"ga mungkin gimana?? Percaya deh sama orang tua, tadi mamah nelepon sama ibunya Evan. Dia baik sama-sama menyambut baik dengan pernikahan kamu nanti, malahan nanya udah sampai mana persiapannya??" kata ibunya Fany
"mah... Aku sama Evan usianya jauh berbeda, usia kepala 3 sedangkan dia sekolah ajah belum lulus. Kelakuannya juga ga ada dewasa-dewasanya" kata Fany
"nanti juga kamu tau sendiri, ingat jangan mengecewakan mamah dan jangan bikin malu keluarga. Sekarang bawa makanan itu ke kamar" kata ibunya Fany
"iya mah... Fany janji" kata Fany
Fany merasa hal ini bikin menghabiskan waktu saja, entah berapa lama pernikahan nanti akan bertahan. Mungkin sampai aku dapet cowok yang menerima aku.
Sekarang Fany sedang menyiapkan sarapan buat Evan. Setelah di siapkan Fany membawa makanan itu ke kamar. Evan masih tidur dengan di tutupi selimut. Dia menaruhnya di meja riasnya Fany.
__ADS_1
Tak lama setelah Fany menyimpan makanan, bell rumahnya berbunyi. Fany langsung bergegas untuk menerima tamu, sebelumnya dia melihat dulu di jendela. Siapa yang datang dan bertamu se pagi ini. Fany kurang mengenal dengan tamu itu, sosok pria tinggi besar dan berjenggot tipis dengan pakaian rapih. Mungki sales produk.
Fany pun membuka pintunya dan berkata "ya selamat pagi, mau cari siapa ya??"
"saya Jose kakaknya Evan" kata Jose
"oh... Silahkan masuk" kata Fany
Fany langsung mempersilahkan masuk Jose, dan mempersilahkan duduk di ruang tamu.
"oh... Kakaknya Evan, saya hampir lupa, mau minum apa??" kata Fany
"oh... Ga usah, saya ke sini sebentar saja. Saya mau mengecek saja. Apa bener Evan menginap di sini?? Ibu bilang seperti itu" kata Jose
"yah betul, kenapa?? (dalam hatinya, anak manja ga pulang sehari langsung di cari)" kata Fany
"dimana dia??" kata Jose
"ada dia masih tidur, bentar saya pangglkan" kata Fany
Fany menuju kamarnya untuk memanggil Evan, "Van... Kakak mu nyariin tuh" kata Fany
"hem... Suruh dia datang lagi sore ajah" kata Evan
Fany langsung kembali menemui Jose
"entah lah... Dia ga mau bangun, katanya sore di suruh ke sini lagi" kata Fany
"oh... Ya udah, em... Sebenarnya apa yang terjadi tiba-tiba Evan ga mau pulang??" kata Fany
"kemarin dia dapet insiden saat menemui pacarnya, aku ga tau ceritanya kaya gimana. Aku cuman duduk di dalem mobil tiba-tiba dia di pukulin warga dan di bawa sama pak RT" kata Fany
"terus dia sekarang baik-baik saja" kata Jose
"bersyukur... Dia memar daerah pelipis dan sedikit benjol di kepalanya. Tapi sudah saya obati. Mungkin sekarang agak baikan kayanya " kata Fany
"luar biasa, akhirnya dia dapet yang terbaik" kata Jose
"maksud kamu??" kata Fany
"anda sungguh wanita luar biasa, anda begitu baik terhadap adik saya. Mungkin pernikahan nanti, bagian awal hidup Evan yang baru bisa lebih dewasa dan menjadi anak yang baik. Terimakasih sudah memaafkan Evan. Aku yakin dia bisa menjadi suami lebih baik dari almarhum suami mu" kata Jose
"ah... Engga segitunya, ya mungkin sudah jalan takdirnya seperti ini" kata Fany
__ADS_1
"semoga menjadi takdir yang terbaik buat kalian berdua" kata Jose
"ah iya terimakasih atas doanya" kata Fany
"kalo begitu aku pamit dulu, mohon maaf sebelumnya udah mengganggu pagi-pagi" kata Jose
"iya ga apa-apa " kata Fany
"oh... Bilang sama Evan, aku nanti sore kesini lagi" kata Jose
"siap... Nanti saya bilangin" kata Fany
Jose kembali pulang, sepertinya Fany agak santai lagi hari ini, sebelum nanti sore akan ada rapat dengan wedding organizer. Dia kembali ke kamar untuk tiduran.
Saat masuk kamar Evan masih di selimut dan Evan pun bertanya "kakak ku udan pulang??" dengan nada yang sangat lemas
Fany merasa aneh dengan Evan suaranya begitu lemas dan agak terpaksa dia bertanya. Lalu dia mendekati Evan, bibirnya terlihat pucat dan menjawab pertanyaan Evan "udah..."
Lalu Fany membukakan selimut "ayo bangun ini udah siang"
Evan terlihat menggigil saat selimutnya dia tarik, lalu Evan merebut selimutnya kembali "dingin tau" kata Evan.
"hah... Seger gini loe bilang dingin??" kata Fany
Fany langsung memegang kening Evan, ternyata kening Evan sangat panas. "loe demam??" kata Fany
"udah ah... Jangan ganggu gw, gw mau tidur lagi" kata Evan
Dengan sangat terburu-buru Fany membawa minum dan memberikan minum kepada Evan "nih minum dulu" kata Fany
Karena Evan merasa panas di tenggorokannya dia mau meminumnya. Lalu Fany berkata "loe demam?? Loe jangan tidur melulu, makan dulu nanti badan loe lemes. Gw panggil dokter ya"
"ga usah.... Gw cuman kecapean" kata Evan
"iya loe harus makan" kata Fany
Fany membawa makanan yang tadi di simpan, lalu Fany menyuapi Evan. Fany duduk di sebelah Evan. Karena Evan masih berhasrat dari semalam. Dia sedikit tegang dekat dengan Fany. Baju semalam yang belum di ganti membuat matanya berkeliaran. Terutama bagian dada Fany.
Evan pun mau di suapi oleh Fany, perlahan demi perlahan Fany menyuapi Evan. Fany memperhatikan wajah Evan. Dalam hatinya Fany kembali berkata "sial ini cowok ganteng banget sih" kata Fany
Tangan Evan mulai nakal, dia memegang paha Fany di bagian yang tidak terhalang oleh celananya. Fany merasa geli dan kaget, tapi Fany suka di pegang seperti itu. Wajah Fany memandang evan dengan serius. Evan melihat reaksi Fany, dan merasa ketakutan kalau dia tak nyaman.
"Fany... Makasih ya, kamu baik banget" gombalan Evan kembali beraksi, sambil mengesekkan tangan Evan yang berada di paha Fany
__ADS_1
Nafas Fany sangat besar, menahan rasa geli yang nikmat. Tapi Fany berpikir, tidak dia ga boleh melakukan itu dengannya. Apalagi ini di kamarnya dan belum sah menjadi suami istri. Akhirnya dia menyimpan kembali makanannya dan pergi dari kamar, untuk menghindari hal itu terjadi.