
Evan kembali ke rumah Fany untuk mengembalikan motor Fany dan mengambil mobilnya yang di simpan di rumah Fany. Saat membuka pagar Leny melihat dari jendela Evan datang sendirian. Leny merasa aneh, bukannya Evan pergi bersama Fany??
"Evan... Kemana kakak??" tanya Leny
"bukannya dia pulang duluan??" kata Evan
"loh kok bisa??" kata Leny
"iya... Iya... Ga tau lah, tanya Fany ajah langsung" jawaban Evan dengan kebingungan
Leny tersenyum girang melihat Evan seperti itu, "loe butuh curhat ga??" kata Leny
"maksud loe??" kata Evan
"ya udah kita makan di luar yuk...!! Loe udah makan belum??" kata Leny
"hah... Em, tadi abis dari cafe sih, cuman ga sempet makan juga" kata Evan
"ya udah kita ke cafe depan ajah yuk" kata Leny
"ya udah" kata Evan
"keluarin lagi dong motornya" kata Leny
"pake mobil ajah lah... Sekalian gw balik" kata Leny
"loe mau balik sekarang, luka loe??" kata Leny
"ga apa-apa lah, ga terlalu keliatan kok" kata Evan
"ya udah cus berangkat" kata Leny
"Oke" kata Evan langsung membuka pintu mobil dan mengeluarkan mobilnya
"Van... Gw nyobain dong mobil loe" kata Leny
"loe bisa nyetir??" kata Evan
"dikit sih... Sambil belajar juga kan" kata Leny
"bagus deh kalo gitu, gw bisa santai" kata Evan
__ADS_1
Keinginan Leny menggunakan mobil mewah milik Evan sangat berlebihan, sampai-sampai dia siap yang bawa mobilnya. Dan Evan pun membolehkan Leny memakai mobilnya.
Pada saat akan berpindah duduk, mereka saling memandang dengan jarak yang sangat dekat. Dalam hati Evan "si Leny mirip banget sama si janda sialan itu ya, cantik juga adiknya". Evan memperhatikan wajah sampai bagian bawah Leny. Sementara Leny fokus menyetir.
"Len... Loe kalo mau pergi emang cuek kaya gini ya??" kata Evan
"emang kenapa??" kata Leny
"ya loe beda ajah sama kakak loe, dia kalo mau pergi ribet, harus pake ini itu segala. Kalo loe sih kayanya, gass langsung ajah" kata Evan
"emang kalian marahan gara-gara itu ya??" kata Leny
"yeh... malah kemana ajah, gw cuman nanya ajah. Kenapa loe kalo mau pergi ga dan-dan dulu gitu??" kata Leny
"nyesuain lah... Nanti kalian nikah aku ga mungkin dong pake baju kaya gini" kata Leny
"iya juga ya" kata Evan
"kita berangkat cuman ke depan komplek doang kok, noh... Kita udah nyampe" kata Leny
Pada saat Leny akan memebuka pintu mobil, Evan memuji Leny yang membuat Leny diam dalam sekejap karena kaget dan senang.
"tapi loe cantik Len..." kata Evan
Evan dan Leny masuk ke dalam cafe, saat sampai meja yang akan mereka tempati Evan membukakan kursi dan mempersilahkan Leny duduk. Hati Leny semakin tak karuan, pada dasarnya Leny sudah suka sama Evan di tambah Evan begitu perhatian terhadapnya.
Mulailah pembicaraan di cafe tersebut. Evan membuka obrolan, "loe ngapain ngajak gw kesini??" kata Evan
"makan... Kan loe belum makan" kata Leny
"ya kan gw bisa makan di rumah" kata Evan
"ah... Ya udah lah, gw langsung ajah. Loe punya masalah apa sama kakak gw??" kata Leny
"masalah?? Sama kakak loe?? Banyak" kata Evan
"banyak?? Apaan emang??" kata Leny
"apa gw harus sebutin satu-satu??" kata Evan
"ya terserah... Gw dengerin kok, gw biasa dengerin curhatan kakak gw sampe subuh" kata Leny
__ADS_1
"ya masalah besarnya sih... Pernikahan ini, alih-alih buat berdamai kenapa gw harus menikah dengan kakak loe" kata Evan
"ya terus emang loe punya solusi, buat berdamai. Biar semuanya terlihat adil" kata Leny
"jadi menurut loe, pernikahan ini sangat adil gitu?? Dengan semua pertanggungjawaban gw. Adil dari mananya?? Kita ga saling kenal dan ga saling mencintai. Adil dari mananya??" kata Evan
"ya loe bayangin, betapa jahatnya loe... Loe udah bikin kakak gw menjadi pengangguran. Dan loe udah bikin kakak gw menjanda. Loe tau, kakak gw itu satu-satunya sumber penghasilan buat keluarga. Gaji ayah tidak cukup buat ngehidupin kita semua. Jadi yang menjadi korban bukan kakak gw sendiri tapi kami keluarganya" kata Leny
"iya masalah itu gara-gara kakak loe melapor pajak perusahaan almarhum bokap gw" kata Evan
"sebenarnya kakak gw orangnya baik dan kritis, cita-citanya sebelum dia menjadi pramugari ingin jadi pengacara, karena biayanya mahal jadi dia sekolah perhotelan dan pariwisata. Dia paling ga bisa melihat kebohongan ada di depan mata. Dia juga pernah terlibat menjadi aktivis dan ikut mendemo pemerintah masalah keadilan di negri ini. Sampai di lihat oleh seorang menteri dan mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita paling berprinsip tapi bijaksana, dan juga cerdas" kata Leny
"ah.. Ga mungkin kakak loe kaya gitu, terus kenapa dia harus berbohong depan cewek gw??" kata Evan
"mana mungkin dia berbohong??" kata Leny
"gw di tinggalin cewek gw, cewek yang gw cintai. Kita pacaran cukup lama. Gw pingin nikah sama dia. Mungkin selangkah lagi kita bakalan menikah, tapi karena kasus ini semuanya berantakan" kata Evan
"sama-sama berantakan kali" kata Leny
"loe punya cowok?? Loe ga akan ngerti betapa gw mencintai cewek gw. Sekarang gw harus bagaimana?? Gw hidup tanpa orang yang selalu ngerti sama gw" kata Evan
"gw ga punya cowok tapi gw pernah pacaran. Gw ngerti perasaan loe Van... Gw dulu cinta banget sama cowok gw. Begitu juga dia awalnya dia setia sama gw. Kita saling support, kita merasakan hal bersama dan semuanya begitu indah. Tapi mala petaka itu datang ketika wanita ****** itu datang kepada cowok gw. Di saat gw ingin serius sama cowok gw tapi karena kakak gw waktu itu belum menikah, dia ninggalin gw dan memilih wanita itu dengan alasan dia lebih siap daripada gw" kata Leny
"terus apa yang loe lakuin??" kata Evan
"gw terima dengan sepenuh hati, mungkin suatu saat gw bakalan menemukan cowok yang ngerti gw" kata Leny
"masalah cinta loe lebih rumit juga dari pada gw" kata Evan
"yang ada loe... kalo gw jadi loe, ya ga tau juga gw harus ngapain. Mungkin kalo gw jadi Fany, gw bakal menyayangi loe dengan sepenuh hati gw. Jujur gw ga nyangka badan loe gede, masih mudah banyak duit tapi loe cowok cengeng juga ya hahahaha" kata Leny
"anjing loe Len... Ngatain gw cengeng, loe coba bayangin ajah lah... Gw lagi cinta-cintanya lalu gw" kata Evan yang ucapannya keburu di potong oleh Leny
"yupz... Gw ngerti, jadi sekarang loe..." kata Leny yang sama-sama di potong perkataannya
"harus terima, dan berharap Fany sayang sama gw gitu??" kata Evan
Leny hanya terdiam, karena dalam hatinya mungkin Leny yang akan bisa memperlakukan seperti apa. Tapi ya ga mungkin Evan bakal suka sama dia.
Dan sebaliknya dengan Evan sesi curhatan ini , Evan bisa menilai bagaimana seorang Leny. Dan Evan menganggap Leny mengerti masalah yang dia rasakan.
__ADS_1
Mereka terus bertukar cerita, sekali-kali mereka bercanda untuk mengisi rasa penat yang di rasakan Evan.