
Pernikahan Evan dan Fany akan di selenggarakan beberapa hari lagi. persiapan demi persiapan dan kematangan antara ke dua belah pihak saling menguatkan antara lain. seperti ke dua keluarga terus berkomunikasi. tapi sangat di sayangkan di sisi lain ke dua mempelai masih belum ada tumbuh cinta.
Perbedaan usia masih menjadi alasan kuat untuk tidak saling mencintai. Evan yang kini sedang terpuruk, dan selalu berada di dalam kamar, dengan menyimpan memori bersama Mirna.
Namun berbeda dengan Fany, dia cukup dewasa mensikapi hal ini atau rencana ini. Fany dan Leny datang ke rumah Evan. mereka membawa barang belanjaan tadi malam, barang itu untuk di bawa pernikahan nanti. keluarga Evan atau lebih tepatnya asisten rumah tangga merias barang bawaan tersebut.
"Fany tinggal apa yang belum di persiapkan?? " kata ibunya Evan
"hanya fitting baju sih bu... Fany janjinya siang ini, sehabis itu udah beres. paling ya kalo mau liat-liat dekorasi wedding sih tinggal datang ke gedung ajah" kata Fany
"baiklah... Evan nya coba panggil" kata ibunya Evan
"biar saya saja bu... Ngomong-ngomong Evan nya ada di mana?" kata Fany
"ada di kamarnya" kata ibunya Evan
"ya udah aku ke sana" kata Fany
Fany berjalan menuju kamar Evan. pintu kamar Evan tertutup. Fany mengetuknya sambil memanggil Evan "van.. Evan".
Sudah beberapa kali di ketuk Evan tidak membuka pintu kamarnya. lalu ibunya Evan berteriak dari bawah " Fany, buka ajah langsung". Leny yang merasa sangat curiga, ada apa-apa dengan kondisi Evan dia ikut ke lantai atas menemani Fany. saat Fany membuka kamar Evan, ternyata Evan sedang duduk di lantai sambil merokok.
"Evan... kenapa kamu ga bukain kamarnya sih??" kata Fany sambil melihat kamar Evan yang sangat mewah
__ADS_1
Evan tidak menjawab dia hanya diam dan melihat wajah Fany. lalu Fany bertanya lagi kepada Evan "Van... kita siang fitting baju, loe mau bareng berangkat nya?? " kata Fany
Bukannya menjawab Evan malah melihat ke arah wajah Fany dan berkata "Fany... gw banyak salah sama loe, apa loe mau maafin gw??" kata Evan
"udah gw bilang, loe... ah gimana ya, sejujurnya gw benci sama loe Van" kata Fany sambil pergi dari kamar Evan
Lalu di susul oleh Leny yang masuk ke kamar Evan, sejak tadi saat Evan berbicara dengan Fany. ada hal yang tidak biasa di rasakan oleh Evan. dan Leny mengerti betul kondisi Evan saat ini. dia masuk ke kamar Evan dan menutup pintu, langsung bertanya kepada Evan "Van... dari malem loe tuh aneh, kenapa sih??"
"Len... maafin gw ya, semalam tadi" kata Evan
"ya loe kenapa sih?? cerita dong sama gw, loe jangan gini" kata Leny
"loe tau kan Mirna??" kata Evan
"dia ninggalin gw, dia udah ga ada" kata Evan
"maksud loe??" kata Leny
"dia mati, di bunuh sama kakak gw. semuanya agar gw bisa menikah sama kakak loe. hati gw terpukul banget kehilangan orang yang gw cintai" kata Evan
"seperti yang gw bilang gw ga bisa bantu apa-apa Van. itu hak keluarga loe, dan gw ga bisa ikut campur sama keluarga loe sedikit pun" kata Leny
"gw ikhlas semua ini, gw kehilangan bokap gw. gw kehilangan mirna itu semua begitu menyakitkan buat gw. tapi gw ga mau kehilangan satu orang lagi yang gw cintai. loe Leny... gw cinta sama loe" kata Evan
__ADS_1
Sontak Leny pun kaget mendengar apa yang di katakan Evan "Van... gw ngerti perasaan loe, tapi maksud loe apa??" kata Leny
"gw ga mau nikah sama kakak loe, gw maunya nikah sama loe" kata Evan
Leny terharu, dia naik kepangkuan Evan dan Leny memeluk Evan. "Van... asal loe tau, gw dari saat ketemu loe. gw cinta sama loe" kata Leny
Evan mengusap air mata, Evan membelai wajah Leny. "Leny please... nikah yuk sama gw" kata Evan
Leny tersenyum dan memegang pipi Evan oleh ke dua tangannya. "akan aku usahain sayang, demi cinta kita berdua" kata Leny
"serius?? " kata Evan
"aku akan usahakan sekuat tenaga aku" kata Leny
Evan mencium bibir Leny, dan Leny membalas ciuman hangatnya Evan. Leny begitu bernafsu dan membuat Evan sangat bergairah, Evan tidak melepaskan ciuman Leny. kedua miliknya saling mengenai walaupun terhalang oleh pakaian. Leny mengerakkan pinggulnya sambil mendesah. Evan mencium leher Leny. terasa sangat geli yang di rasakan Leny. Leny sangat terbawa oleh kenikmatan dunia. rasanya ingin lebih dari itu.
Semakin lama Leny semakin merasakan kenikmatannya. Leny meminta lebih dengan membuka kancing celana Evan. tapi Evan malah menahannya. dan menghentikan adegan itu. "aku mau menikah dulu sama kamu" kata Evan
Dengan sekejap, Leny berhenti dan dia merasakan cinta yang sangat tulus yang ada di hati Evan. "baiklah... tunggu aku di pelaminan" kata Leny
Leny keluar meninggalkan Evan di kamar. langsung dia menemui kakaknya. "kak... Evan butuh istirahat sebentar, biar Evan nanti berangkat bersama ku" kata Leny
"oh oke kalo gitu, ya udah bentar lagi kakak berangkat sendiri ajah" kata Fany
__ADS_1
"baik kak... " kata Leny