
Di rumah Fany terasa sangat sepi siang ini. setelah pulang dari kantor, kali ini pertama kalinya dia menjadi ibu rumah tangga. Para asisten sedang beristirahat di kamarnya masing-masing, karena pekerjaan rumah sudah beres. tidak ada yang bisa di kerjakan oleh Fany di rumah, dia hanya menonton TV sambil ngemil.
Saat Fany lagi santai sambil menonton TV, suaminya yaitu Riko menelepon Fany dan mengabarkan berita yang sangat mengejutkan.
"ya pih...!!" kata Fany
"kok jadi pih sih??" kata Riko
"biar terbiasa kalo kita punya anak" kata Fany
"oh... iya, jadi aku panggil mih dong sekarang" kata Riko
"ya boleh ajah sih, pih... ada apa nelepon??" kata Fany
"masalah makin runyam" kata Riko
"runyam kenapa?? kenapa bisa kaya gitu??" kata Fany
"Pak Hermawan, di tangkap polisi" kata Riko
"hah... kasus pajak kemarin??" kata Fany
"iya... dia langsung di datangi penyidik, kalo dia sampai terbukti melakukan kecurangan dalam pajak. udah perekonomian kita turun sangat drastis" kata Riko
"ya udah Pih... jangan terlalu di pikirin juga, kita bisa cari uang lewat jalan yang lain. dan jalan yang lebih baik lagi" kata Fany
"iya mungkin kata kamu gitu, tapi aku yang kena malunya" kata Riko
"terus... papih mau ngapain sekarang??" kata Fany
"aku mau ketemu langsung dengan pa Hermawan, mungkin aku menyewakan pengacara yang paling handal di negri ini" kata Riko
"bayar pengacara lumayan pih... bakal nguras kantong kita" kata Fany
"ga ada yang bisa aku lakuin lagi sayang... selain hal ini, hitung-hitung ini sebagai permohonan maaf kepada pak Hermawan" kata Riko
"ya udah papih hati-hati di jalannya ya" kata Fany
"iya sayang... kamu baik-baik di rumah" kata Riko
Di tempat lain Evan bersama Jose sedang berjalan menuju kantor polisi. Evan menanyakan perihal penangkapan ayahnya kepada Jose.
"apa yang terjadi dalam semua ini kak??" kata Evan
__ADS_1
"entahlah... kakak tidak tau, kata ibu saat ayah lagi santai tiba-tiba polisi datang dan langsung membawanya ke kantor polisi " kata Jose
"apa kita ga jemput dulu ibu??" kata Evan
"ibu menunggu di rumah saja, kondisi ibu kan masih kurang baik jika kita bawa* kata Jose
Saat sesampainya di kantor polisi, ayahnya Evan sudah berada di tahanan dan sedang ngobrol dengan Riko di ruang untuk menjenguk. mereka berdua mendengarkan pembicaraan antara Riko dan Hermawan.
"bro... tenang, saya akan panggil pengacara handal di negri ini, biar kamu cepat keluar" kata Riko
"ah... saya ga mau tau, bagaimana caranya saya bisa keluar dari sini" kata Hermawan
"baik... saya akan melakukan segalanya, yang penting kamu bisa bebas kembali" kata Riko
"ya sudah kerjakan sekarang juga, saya ga mau lama-lama di sini kasihan istri saya di rumah" kata Hermawan
"oke saya akan kerjakan mulai detik ini juga" kata Riko
Begitulah pembicaraan mereka berdua, Riko langsung pamitan kepada Hermawan. Evan langsung mendatangi ayahnya, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"ayah" teriakan Evan
"Riko... Jose" kata Hermawan
"ayah akan baik-baik saja... kamu tenang nak" kata Hermawan
"sebenernya bagaimana ayah ini bisa terjadi??" kata Jose
"orang tadi itu... sahabat ayah. semenjak dahulu ayah sering bantu dia. menyekolahkan, ngasih makan sehari-hari, ya segalanya pokoknya. dan kemarin saat dia menjadi menteri, dia banyak membantu ayah dalam bisnis ayah, terutama dalam perpajakan. entah kenapa ayah seperti di khianati, tiba-tiba ada masalah seperti ini" kata Hermawan
"ayah... apa yang bisa kita lakukan??" kata Evan
"selidiki siapa yang membongkar omset ayah kepada perpajakan?? dan siapa yang melaporkan ayah ke polisi, cukup itu saja. ayah ingin tau, siapa yang membenci ayah sampai seperti ini" kata Hermawan
"kalo sudah ketemu, apakah kita habisi dia??" kata Jose
"jangan terburu-buru, nanti saja masalah itu. tunggu arahan dari ayah" kata Hermawan
"baik kalo gitu, ayah jaga kondisi baik-baik di sini" kata Evan
Dan setelah polisi mengetuk pintu dan memberitahu bahwa jam kunjungan sudah habis. ayahnya Evan harus kembali ke dalam jeruji besi.
Evan sangat sedih meninggalkan ayahnya di penjara. Evan kembali ke rumahnya dan menceritakan semua kejadian ini kepada ibunya. Saat semua keluarga berkumpul Mirna datang ke rumah Evan. dan suara bell berbunyi.
__ADS_1
Asisten di rumah itu membukakan pintu dan menyuruhnya Mirna masuk. setelah masuk Mirna langsung bertemu dengan Evan. terlihat wajah Evan sangat bersedih, dan Mirna langsung menghiburnya.
"sayang... ada apa?? tadi kamu buru-buru banget pulangnya" kata Mirna
"papih masuk penjara" kata Evan
"loh kok bisa?? kenapa bisa terjadi??" kata Mirna
"gara-gara pajak beb... pokoknya aku harus ketemu sama menteri itu??" kata Evan
"menteri siapa??" kata Mirna
"itu menteri perpajakan, aku harus menanyakan kepada dia, kenapa sampai papih masuk penjara?" kata Evan
"aku ikut" kata Mirna
"hah... ngapain kamu ikut, mending kamu pulang ajah" kata Evan
"engga... papih kamu papih aku juga, dia tidak bersalah. dia harus keluar sekarang juga" kata Mirna
Evan langsung melongok mendengar Mirna bersikap seperti itu, masalahnya Mirna tidak mengerti masalah yang sebenarnya. jangankan Mirna, Evan juga tidak tau awalnya seperti apa.
lalu ibunya datang dan berkata kepada sepasang pemuda itu "sudah... sudah... biarkan kakak Evan nanti yang menghandle, kalian makan dulu. hidangannya sudah tersedia di meja makan"
"ya udah sayang... kamu duluan ke meja makan ya, aku mau ganti baju dulu" kata Evan
"oke deh... jangan pake lama ya" kata Mirna
Evan naik ke lantai dua, dia pergi ke kamarnya untuk ganti baju. saat membuka pintu kamarnya dia mengambil handphonenya yang satunya lagi. karena HP itu khusus untuk komunikasi dengan Vanessa dan tak pernah di bawa oleh Evan. HP itu di tinggal di kamarnya saja. HP itu sedang berdering saat di lihat oleh Evan. sudah ada 50 panggilan masuk dan 10 chat WhatsApp. semuanya Vanessa yang rindu sama Evan. dia menanyakan kabar tentang Evan.
Evan pun mengangkat telepon itu "halo" kata Evan
"sayang kok baru di angkat sih??" kata Vanessa
"handphonenya ga di bawa, aku kan lagi sekolah" kata Evan
"oh... gitu ya, jadi selama sekolah kamu ga bawa handphone??" kata Vanessa
"iya lah... bisa di rajia kalo aku bawa handphone" kata Evan
"huh... ternyata kamu takut di razia juga ya" kata Vanessa
Vanessa terus membuka obrolan dan basa basi bersama Evan. sampai-sampai Mirna sangat lama menunggu di bawah.
__ADS_1