Si Janda Dan Anak SMA

Si Janda Dan Anak SMA
Pertolongan Fany


__ADS_3

Warga setempat berdatangan keluar rumah, Evan yang sedang di amankan oleh Pak RT ada sebuah pukulan ke wajah Evan. Dan Evan terlepas dari lindungan pak RT. Beberapa pukulan melayang ke wajah Evan sampai Evan ambruk terbaring di jalan.


Mirna yang masih di dalam rumah, melihat Evan di pukuli seperti itu, dia tak kuasa melihatnya. Mirna langsung lari keluar rumah untuk menyelamatkan Evan.


Beruntung pak RT menyelamatkan nyawa Evan, pak RT langsung menarik Evan yang sudah terbaring di jalan. Pak RT akan membawa Evan ke kantor polisi. Tapi Mirna berteriak "jangan pak... Jangan bawa dia". Mirna berlari dengan cepat mencegah pak RT, dan masuk ke dalam kerumunan warga.


Dan di dalam kerumunan itu tepat bersamaan Fany yang ikut mencegah Evan. "jangan pak itu teman saya" kata Mirna. Setelah Mirna berbicara seperti itu, pak RT langsung berhenti. Pak RT melihat ke wajah Fany lalu Fany pun berkata "maaf pak... Dia calon suami saya, ada ke salah pahaman"


Pak RT langsung diam, dan lebih mendengarkan apa yang di katakan oleh Fany. "benarkah ini ibu menteri??" kata Pak RT


"iya betul" kata Fany


"pria muda ini?? Calon suaminya ibu??" kata Pak RT


"iya betul... Itu Evan, calon suami saya pemilik perusahaan diamond" kata Fany


"oh... Baiklah kalo gitu maafkan saya" kata Pak RT


"seharusnya saya yang minta maaf, sudah bikin gaduh di sini. Becanda mereka terlalu kelewatan sehingga menjadi salah paham" kata Fany


Mirna hanya bisa diam menatap wajah Fany yang sangat cantik. Dia sangat menyadari betapa tidak ada apa-apanya di bandingkan dirinya. Mirna hanya wanita biasa, sedangkan Evan seorang anak yang sangat kaya. Ternyata dia menyadari sekarang kalo dia memilih pria yang salah, pria yang tak sepadan dengannya. Dengan sangat bersedih Mirna kembali menjauh dari keringat warga. Lalu Mirna kembali pulang.


Evan langsung di bawa oleh Fany ke dalam mobil. Tapi mata Evan saat berjalan menuju mobil. Dia menatap terus ke arah jendela rumah Mirna. Evan terus memandang Mirna dari luar rumah. Perlahan demi perlahan Evan menjauh dari rumah Mirna, dan masuk ke dalam mobil.


Saat di dalam mobil Fany berkata "penumpang goblok, selalu nyusahin"


Evan hanya bisa menyender di jok kursi, "kenapa kamu menyelamatkan aku??" kata Evan


"emang kenapa?? Aku kasian ajah sama kamu, tadinya aku mau kamu biarkan mati ajah sekalian" kata Fany


"ya harusnya aku berada di sana tanpa nyawa" kata Fany


"jangan sok jago" kata Fany sambil memikul area yang sakit di wajah Evan


Evan kesakitan "aduh... Aduh sakit gila" kata Evan


"harusnya kamu berterima kasih kepada ku yang bikin kamu selamat dari kematian" kata Fany

__ADS_1


"berisik... aku bingung harus bilang apa sama mamah" kata Evan


"kenapa harus bingung?? Bilang ajah yang sebenarnya" kata Fany


"gila... Mamah taunya aku jalan-jalan sama kamu" kata Evan


"makanya jangan suka berbohong sama orang tua" kata Fany


"iya... Iya... Cerewet, jadi ini gimana??" kata Evan


"ya udah... anterin aku ke rumah, nanti di rumah kita bicarakan" kata Fany


Mereka berdua pulang menuju ke rumah Fany, sesampainya di sana Leny dan ibunya Fany kaget melihat wajah Evan babak belur.


"ya ampun kak Evan... Kak Fany, Kak Evan kenapa??" kata Leny


"biasa salah paham tadi di jalan" kata Fany


"sampai segitunya sih, kak Evan pasti sakit banget ya??" tanya Leny yang sangat khawatir dengan kondisi Evan


"kak... Gimana rasanya??" kata Leny


"aku pusing Len" kata Evan


"ya udah tiduran dulu ajah di sini sampai baikan" kata Leny


"heh... kenapa tiba-tiba panggil aku kak?? Aku sama kamu lebih tua kamu" kata Evan


"lagi gini juga sempat-sempatnya bahas ini, cuman nge hargain kak Fany ajah" kata Leny


"ya udah aku ikut tidur ya" kata Evan


"iya" kata Leny


Evan pun tertidur di sofa, Leny langsung ke kamar Fany dan menanyakan bagaimana kejadiannya sampai Evan seperti itu.


"kak... Emangnya kenapa?? Evan bisa kaya gitu??" kata Leny

__ADS_1


"kamu jangan bilang sama siapa-siapa lagi, dia mau ketemu pacarnya yang di sekolahnya. Tapi si pacarnya ga mau ketemu lagi. Nah di hadang lah sama saudaranya ga tau siapanya yang ada di rumah itu, dia di dorong sampai terjatuh dan pistolnya jatuh ke jalan. Kebetulan ada warga, di sangkanya orang jahat. Ya udah mungkin warga geram langsung di hajar" kata Fany


"apa sampai segitunya??terus gimana kalo ketemu sama keluarganya??" kata Leny


"iya makanya dia balik ke sini, ya mungkin kaka suruh nginep dulu sementara di sini" kata Fany


Mendengar Evan akan menginap di rumah, Leny sangat senang. Jadi bisa banyak bertemu Evan.


"oh... Gitu, terus dia bakal tidur dimana??" kata Leny


"ya di sofa ajah, ya udah kakak mau obati Evan dulu. Nyusahin melulu orang itu" kata Fany


Fany kembali ke ruang tamu untuk mengobati Evan. Evan yang sedang tertidur perlahan Fany memberikan obat menggunakan cairan alkohol dan es batu untuk menyembuhkan luka di wajah Evan.


Pada saat akan selsai di obati, Evan terbangun dari tidurnya. Matanya sedikit-sedikit terbuka, dan melihat wajahnya Fany. Evan memperhatikan wajah Fany, dalam hatinya "emang... Dia tuh cantik, dari awal ketemu sih ya cantik tapi sayang udah ibu-ibu" tiba-tiba Evan mengerang kesakitan karena Fany tak sengaja menekan lukanya terlalu keras "aw... Sakit loh, jangan kenceng-kenceng"


"ya ampun... Ini bocil manja banget sih, di obati gini ajah manja" kata Fany


"ya elah... kamu ga ngerasain sakitnya di pukuli warga" kata Evan


"makanya, itu gara-gara bohong sama orang tua. Jadinya kualat. Mending kamu pulang sama minta maaf sama mamah kamu" kata Fany


"gila... Mamah bisa marah besar sama aku" kata Evan


"kenapa dia bisa marah sih sama kamu??" kata Fany


"iya lah... Emang aku yang salah, udah bohong sama mamah. Tapi ga gitu juga, emang awalnya aku mau sendiri ketemu Mirna. Tapi tiba-tiba mamah suruh aku jalan sama kamu" kata Evan


"itu berkat doa orang tua mu, kehendak Tuhan aku harus nemenin kamu. Kalo ga ada ya ga tau lah kamu sekarang kaya gimana. Emang semarah apa sih nantinya sama kam?" kata Fany


"ya... Kalo marah banget sih enggak, cuman aku takut mamah kecewa atau gimana-gimana dengan kondisi mamah" kata Evan


"ya... Itu mamah kamu, apalagi aku" kata Fany


"maksud kamu" kata Evan


"udah beres" kata Fany sambil langsung pergi kembali ke kamarnya sambil menangis bersedih.

__ADS_1


__ADS_2