
Akibat Fany terangsang gairahnya membuat Evan yang tadinya sedang di suapi, terpaksa dia makan sendiri "ya elah gagal lagi, susah amat sih itu tante" kata Evan berbicara sendiri.
Karena masakannya enak dan perut Evan sangat terasa lapar, Evan makan begitu lahap. Pada saat itu juga handphone Evan berdering, sebuah panggilan dari Mirna. Sontak Evan sangat kaget, tidak lama Evan langsung mengangkat telepon nya.
"halo sayang" kata Evan
"Evan" kata Mirna sambil menangis tersedu
"sayang kamu kenapa??" kata Evan
"aku pingin ketemu, kamu di mana??" kata Mirna
"sayang... Semenjak kejadian itu, aku nginep di rumah janda itu. Ya aku takut di marahi ibu ku. Jadi kita mau ketemu di mana??" kata Evan
"di taman tempat biasa kita bercerita" kata Mirna
"baik... Aku kesana sekarang" kata Evan
Evan yang kembali bersemangat karena akan bertemu kembali dengan Mirna. Dan di ruang tamu Fany sedang gelisah karena gairah yang tak kunjung tersalurkan. Tiba-tiba Fany mendengar handphonenya berdering, sebuah panggilan dari wedding organizer.
"iya halo" kata Fany
"Bu Fany... Saya Bowo, bagaimana kita bisa rapat hari ini??" kata Bowo
"oh... Ya baiklah, jadinya dimana??" kata Fany
"seperti yang sudah di tentukan Bu, cafe depan taman kota" kata Bowo
"baiklah... Kita bertemu nanti" kata Fany
Sehabis Fany menutup teleponnya, Evan dengan sangat terburu-buru berjalan di depan Fany. "si bocil kurang ajar ini mau kemana??" kata Fany di dalam hatinya
"Fan... Gw berangkat dulu ya, sorry gw sempet pamit sama ibu loe" kata Evan
"loe mau kemana?? Bukannya loe lagi sakit??" kata Fany
"ada perlu bentar, thank you ya" kata Evan
"eh... Van, bentar.... Kita ada rapat sama wedding organizer siang ini. Loe harus ikut" kata Fany
"ya ampun kenapa nge dadak gini sih?? Loe ajah lah yang dateng" kata Evan
"lah... Masa iya gw sendiri yang dateng?? Terus yang mau milih dekorasi, baju apa mau gw pilih sendiri??" kata Fany
"terserah lah... " kata Evan
Ada pesan chat masuk kepada Evan "Van... Hari ini ada rapat sama wedding organizer, jangan lupa ingetin Fany" chat dari ibunya
"ya ampun mamah lagi, oke Fan... Jam berapa kita harus meeting??" kata Evan
__ADS_1
Fany tersenyum "kenapa emang?? Pas jam makan siang di cafe depan taman kota" kata Fany
"oh... Oke, sekarang gw mau kesana. Jadi ya lumayan ga jauh-jauh amat" kata Evan
"ya udah kita berangkat bareng" kata Fany
"tapi gw Fan... Ah ya udah lah" kata Evan
"ya udah gw siap-siap dulu" kata Fany
Evan sangat lemas karena harus menunggu Fany bersiap-siap. Dia sudah mengira persiapan Fany itu sangat lama.
Evan menunggu di ruang tamu, Mirna menelepon Evan "kamu masih dimana??" kata Mirna
"sayang sebentar ya, bentar lagi aku nyampe" kata Evan
"ya udah cepetan, aku udah di taman" kata Mirna
"oke tunggu sayang ya" kata Evan
Evan kembali menunggu Fany yang masih belum selsai juga. Satu jam kemudian Fany datang dan udah siap berangkat.
Lagi-lagi setiap Evan melihat Fany, Evan sangat takjub dengan kecantikan Fany. Walaupun usianya sudah kepala 3 dia masih terlihat seperti usia 21 tahun. Evan terus memandang Fany dari atas kepala sampai ujung kaki.
"kamu kenapa ngeliatin aku kaya gitu??" kata Fany
"kamu kok lama banget, aku udah di tunggu orang tau" kata Evan
"oh... Pantes, kamu tampak seperti biasa ajah" kata Evan
Evan berbohong pada dirinya sendiri, padahal dia sangat menyukai dandanan Fany.
"ya udah mau berangkat ga??" kata Fany
"iya jadi dong" kata Evan sambil berangkat keluar dan membukakan pintu mobil
"loe serius ke kota mau pake mobil?? Bukannya jalannya suka macet ya, mending pake motor ajah" kata Fany
"kan gw ga bawa motor" kata Evan
"ya udah pake punya gw ajah" kata Fany
"motor loe matic kan?? Mana cukup sih kaki gw" kata Evan
"ya udah pake ajah... Nih kuncinya" kata Fany
Evan mengeluarkan motor dari garasi rumah Fany, dan Evan menaiki motor itu. Fany yang sedang menunggu di depan rumahnya, tersenyum senyum sangat lucu melihat Evan memakai motornya.
"kenapa loe senyum-senyum kaya gitu??" kata Evan
__ADS_1
"lucu ajah... Loe kaya naik motor koin yang di tempat mainan anak-anak itu loh" kata Fany
"udah gw bilang" kata Evan
"ya udah, yang penting cepat nyampenya" kata Fany
Fany pun naik motor di bonceng oleh Evan, saat keluar komplek Evan menjalankan motornya sangat ngebut sehingga Fany ketakutan.
"Van... Pelan-pelan, liat jalan rame gini" kata Fany
"udah loe diem ajah... Cerewet, udah telat tau" kata Evan
Bukannya Evan menjalankan motor dengan pelan, tapi Evan menambah kecepatan motor itu. Di tambah Evan seruduk sini seruduk sana menjalankannya. Fany tidak bisa apa-apa, karena ketakutan di memeluk Evan sangat kencang.
Saat Fany memeluk Evan, dia merasakan kehangatan dalam tubuh Evan yang besar dan kekar. "enak banget meluk dia" kata Fany di dalam hatinya. Fany sangat menikmati perjalanan itu. Hal itu menjadikan rasa takutnya hilang begitu saja.
Tidak sampai 15 menit, Evan dan Fany sampai di taman tengah kota. Dan Evan parkir motor tepat sekali Mirna sedang duduk. Mirna melihat Fany memeluk Evan. Hati Mirna sangat cemburu dan membuat Mirna kesal.
Yang tadinya Mirna sangat rindu, melihat mereka berdua Mirna berubah menjadi kesal. Evan buru-buru turun dari motor, karena Evan menyadari bahwa Mirna sedang ngambek pada dirinya.
"oh... Pantes loe mau ketemu dia" kata Fany
"berisik loe ah" kata Evan
Mirna berlari berlawanan arah dengan Evan. Evan dengan cepat mengejar Mirna.
"sayang.... Sayang... Tunggu" kata Evan
"apalagi, aku kira kamu mau datang sendiri. Ternyata malah datang sama dia" kata Mirna
"sayang aku jelasin, dia cuman nebeng ajah. Dia ada janji ketemu sama orang lain" kata Evan
"kata kamu nebeng, sejak kapan kamu punya motor kaya gitu??" kata Mirna
"iya tadi aku mau bawa mobil, cuman aku nyadar aku telat banget. Aku takut kamu nunggu lama jadi aku pinjem motornya dia" kata Evan
"Van... Sebenarnya aku kangen banget sama kamu, tapi udah aku liat sendiri. Kamu cocok banget sama dia Van. Selamat ya" kata Mirna sambil membalikan badannya dan akan pergi meninggalkan Evan
Tapi Evan tak berhenti mengejar dan coba menjelaskan hal ini. "sayang tunggu, kasih aku kesempatan buat ngomong. Aku tuh memang akan menikah tapi kita ga saling mencintai ajah. Kita sama-sama menghargai keputusan orang tua kita, aku tetep cinta sama kamu" kata Evan
"bener kaya gitu??" kata Mirna
"kamu tanya sendiri sama Fany" kata Evan
"oke... Aku tanyakan sama Fany " kata Mirna
Mirna berjalan mendekati Fany dan bertanya pada Fany "kak... Kalian mau nikah ya?? Bener kalian ga saling suka??" kata Mirna
Fany yang santai dia mencoba mengerjai Mirna, "oh kata siapa?? Engga kok, justru kita saling mencintai sambil Fany memeluk Evan dan mencium bibir Evan.
__ADS_1
Seketika Mirna sangat marah, dia mendorong badan Evan dan berlari pergi. Bukan hanya Mirna Evan juga sangat marah, tanpa sadar dia menampar Fany sangat keras "brengsek loe" kata Evan dengan nada yang kesal.
Evan langsung mengejar Mirna dan meninggalkan Fany. Fany tidak terima di tampar oleh Evan. Kali ini dia sangat marah pada Evan dan tidak bisa memaafkannya. Matanya memerah dan mengeluarkan air mata, tapi dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi.