
Setelah pemakaman ayahnya Evan, Jose dan ibunya baru tau bahwa Riko meninggal akibat terbunuh. Saat inilah Evan bercerita kepada keluarganya, bahwa dia yang membunuhnya. Bukan itu saja keluarganya juga baru tau bahwa ayahnya juga di bunuh oleh kaki tangannya Dion.
Pada saat ini pula, peperangan antara keluarga Evan dan pihak kepolisian pemerintahan. Siang ini rumah Evan di sergap oleh beberapa mobil polisi, mereka akan hendak menangkap Evan. Polisi mengetahui itu semua dari sebuah cctv di rumah Fany, saat Evan melarikan diri tidak memakai penutup wajah.
Beberapa anak buah Evan mencoba menghadang polisi untuk masuk ke rumah Evan. Hingga terjadi tembak menembak. Evan sekeluarga melarikan diri lewat lorong rahasia. Dia berangkat ke rumah kakeknya.
Sesampainya di sana, ibunya Evan menyuruh Evan untuk melarikan diri bersembunyi ke luar kota. Hal yang paling berat yang di rasakan Evan, karena dia harus meninggalkan Mirna. Sebelum berangkat Evan bertemu dulu dengan Mirna. Dia datang ke sekolah dengan diam-diam. Evan menunggu jam sekolah pulang, dia menunggu dekat gerbang sekolah. Tak ada seorang pun tau bahwa itu Evan. Dia memakai topi dan jaket, kepalanya menunduk melihat ke handphone yang di pegangnya sambil menghisap rokok.
Bell sudah berbunyi, murid di sekolah mulai keluar, Evan mencari Mirna. Dan akhirnya Mirna pun muncul. Evan mendekati Mirna, tangannya menuntun Mirna mengajak ke sebuah cafe dekat sekolah. Awalnya Mirna kaget tiba-tiba di gandeng oleh seseorang, setelah melihat wajahnya ternyata Evan. Di cafe itulah Evan berbicara dengan Mirna.
"sayang... Kamu masih mencintai aku kan??" kata kata Evan
"kamu ngomongnya gitu sih?? Aku tetap cinta sama kamu" kata Mirna
"kamu janji bakal setia sama aku??" kata Evan
"aku janji... Sampai kapan pun aku bakalan setia sama kamu" kata Mirna
"sayang... Aku di sini sudah ga aman lagi, aku pergi dari sini" kata Evan
"kamu mau pergi kemana?? Jangan lama-lama" kata Mirna
"mungkin sampai semuanya membaik" kata Evan
"kamu janji ya, kita bakal ketemu lagi" kata Mirna
"aku janji sayang... kita bakal ketemu lagi" kata Evan
"lalu sekolah kamu bagaimana??" kata Mirna
"entahlah... Mungkin aku bakalan nerusin usaha almarhum ayah, jadi saat ini aku mulai bekerja" kata Evan
"sayang... Aku selalu ketakutan saat tidur, aku selalu mimpi buruk setelah pembunuhan itu. Aku mohon kamu selalu kabarin aku" kata Mirna
"masalah itu kamu ga usah khawatir, karena aku selalu ingat sama kamu" kata Evan
"sayang... Kamu baik-baik nanti di sana" kata Evan
__ADS_1
"iya... Aku berangkat kesana bersama pengawal, kamu di sini sendiri. Kamu jaga diri ya, kalo ada apa-apa hubungi aku" kata Evan
"iya... Aku akan jaga diri aku baik-baik. Aku bakal setia nunggu kamu di sini" kata Mirna
"iya sayang... Aku pergi dulu, i love you" kata Evan sambil memeluk Mirna sangat erat
"love you to" kata Mirna
Setelah beberapa detik berpelukan, Evan melepaskan pelukan itu dengan perlahan dan Evan pamit kepada Mirna "aku jalan dulu, bye...!!"
"bye... Hati-hati di jalan" kata Mirna
Setelah Evan berpamitan, Evan langsung berangkat ke bandara. Di sana sudah ada Jose yang akan mengantar. Evan akan pergi ke Castelia untuk bersembunyi. Dan perginya pun secara sembunyi-sembunyi. Dia memilih Castelia karena ada calon istri Jose dan dia akan tinggal di sana sementara.
Penerbangan yang di naiki Evan sama seperti kemarin. Dan ya seperti yang sudah janjian padahal mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya. Evan kembali bertemu Vanessa.
Pada saat Evan naik ke pesawat otomatis yang mempersilahkan adalah Vanessa.
"sayang... Kamu kemana ajah sih??" kata Vanessa
"ceritanya panjang, kita jangan bicara di sini" kata Evan
"oke di sini aman, buka topi kamu" kata Vanessa sambil membuka topinya Evan
Vanessa langsung tersenyum, dan membelai wajah Evan. Dia begitu bahagia melihat Evan, tapi satu hal yang belum di ketahui oleh Vanessa. Evan tidak mencintainya sedikitpun, Vanessa hanya pelampiasan nafsu Evan saja pada waktu itu.
"aku tau berita tentang kamu, tadi malam Fany menelepon aku. Dia menanyakan tentang kamu" kata Vanessa
"terus kamu jawab apa??" kata Evan
"aku ga mau kehilangan kamu begitu saja, aku bilang, dia ga pernah menghubungiku lagi begitu juga aku ga pernah menghubungi dia lagi" kata Vanessa
Evan tersenyum, dan dia langsung berkata "kamu pandai sekali berbohong"
"bukan pandai berbohong, tapi ini kenyataan. Ih... Sebel, aku kangen banget sama kamu" kata Vanessa sambil mencubit perut Evan
"aduh... Sakit, ya kan aku udah bilang. Aku ga pernah bawa HP ke sekolah. Lagian kok kamu mau sih sama anak SMA" kata Evan
__ADS_1
"udah terlanjur cinta, mau gimana lagi. Lagian anak SMA satu ini keren banget hehehe" kata Vanessa
"bisa ajah" kata Evan sambil mencium bibir Vanessa
Vanessa kaget sekaligus senang, karena ciuman itu begitu mendadak. Tak ada malu Vanessa membalas ciuman itu walaupun di area umum. Dan saat Evan meremas bagian dada Vanessa. Vanessa menghentikannya.
"sayang... Tahan dulu ah, pesawatnya mau lepas landas loh. Cepat kamu duduk di kursi kamu" kata Vanessa
"em... Padahal baru ajah kita ketemu, ya udah sampai di sana kita lanjut ya" kata Evan
"apaan sih, udah cepetan duduk" kata Vanessa
"oke... Aku duduk dulu. bye" kata Evan
"eh... bentar dulu, ini topinya" kata Vanessa
"oh iya, aduh hampir lupa" kata Evan
Evan kembali ke tempat duduk, Jose heran Evan langsung menghilang. Jose pun bertanya "kamu dari mana ajah Van??"
"ah... Biasa, pelacur itu lagi" kata Evan
"apa benar dia itu pelacur??" kata Jose
"coba saja" kata Evan
"tapi ga keliatan kaya pelacur, memang sih dia cantik. Mainnya gimana??" kata Jose
"masih amatir sih... Ya perlu belajar" kata Evan
"ah... Kamu bisa-bisa ajah kalo ngomong. Ingat kamu dalam masalah besar, kamu jangan membuat masalah dengan dia" kata Jose
"tenang ajah... Dia terkendali" kata Evan
"oke kalo gitu, masalah percintaan kamu. Kakak ga bertanggung jawab" kata Jose
Pesawat pun sudah mulai lepas landas, Evan tidur sepanjang jalan. Mungkin karena ke kelelahan menghadapi masalah ini, jadi dia memilih istirahat di pesawat.
__ADS_1
Sesekali Vanessa melihat ke kursi Evan, Vanessa memperhatikan Evan yang sedang tertidur. Pada saat Vanessa melewati kursi yang di duduki Evan, dia mencoba menepuk atau memegang pundak Evan. Tetapi karena Evan terlalu pulas tidurnya Evan tidak terbangun dari tidurnya.