
Hari sudah semakin sore menjelang malam, Evan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Dia akan pergi makan malam dengan Vanessa.
Setelah mandi dan sudah siap, Evan langsung menuju ke lantai bawah. Dan di bawah bertemu dengan Nicky.
"wes... Gaya banget mau kemana nih??" kata Nicky
"main sama cewek" kata Evan
"bukannya cewek kamu ada di sana ya" kata Nicky
"yah... Biasa lah ini cewek buat semalam ajah, dari pada jenuh di rumah kan. Lumayan lah buat menghangatkan malam ini hahaha" kata Evan
"wah... Gila, awas loh kena penyakit. Nemu dari mana??" kata Nicky
"nemu dari pesawat, udah lama sih kenalnya. Kebetulan aku lagi di sini ya manfaatin ajah" kata Evan
"ih... Gila, dapet yang kaya gitu. Bagi-bagi dong" kata Nicky
"nanti ya kalo ada stok terbaru hahaha" kata Evan
"siap... Siap... Di tunggu deh stoknya hahaha" kata Nicky
"oke Nick... Pergi dulu ya" kata Evan
"siap... Good luck ya" kata Nicky
Evan pergi meninggalkan rumah dan menuju restoran mewah daerah kota, dan Vanessa sudah ada di sana. Dia menunggu di depan restoran.
"kamu ga masuk sih??" kata Evan
__ADS_1
"sengaja biar bareng sama kamu masuknya" kata Vanessa
"loh cuman masuk ajah, musti bareng sih" kata Evan
"takut ga jadi, kamu aku telepon ga di angkat abisnya" kata Vanessa
"oh... Ya kan tadi aku lagi nyetir, susah dong angkatnya" kata Evan
"masa sih... Kan bisa nyetir pake tangan kanan. Pegang HP pake tangan kiri" kata Vanessa
"iya... HP aku tadi di saku, kalo aku angkat nanti perjalannya lama lagi. Ya udah yang penting aku udah datang kan" kata Evan
"iya... Aku percaya sama kamu" kata Vanessa
"yuk ke dalem" kata Evan mengajak Vanessa untuk masuk ke dalam restoran
Di dalam mereka duduk sambil ngobrol santai, tidak lama seorang pramusaji datang untuk menawarkan menu. Sejenak Evan dan Vanessa memilih menu yang akan di pesannya. Lalu mereka menutup buku menu, tanda sudah siap apa yang di pesannya. mereka kembali ngobrol, dan handphone Vanessa berdering.
Vanessa mengangkat telepon nya. "ya Fan..." ternyata telepon dari Fany
"Cha... Lo udah ada komunikasi lagi sama Evan??" kata Fany
"em... Belum, kenapa gitu??" kata Vanessa
"polisi kehilangan jejak, bajingan itu melarikan diri entah kemana. Keluarganya dalam pantauan, mereka ga ngasih tau kemana bajingan itu pergi" kata Fany
"ya ampun... Sabar ya Fan, gw sih hubungan sama dia ya itu pas abis turun dari pesawat itu, belum ketemu lagi sama dia" kata Vanessa
"beneran?? Masa sih?? Terus loe sekarang gimana abis di tinggalin sama dia?? Ga berusaha nyari gitu??" kata Fany
__ADS_1
"iya gw... Gw sih nyari, tapi..." kata Vanessa
"tapi apa??" kata Fany
"iya kan gw harus kerja, mau nyari gimana??" kata Vanessa
"iya loe cari tau kali, tanya sama keluarga nya temennya atau siapa kek, ga usah jalan-jalan juga kali" kata Fany
"kata loe keluarganya ga tau, jadi gw harus nanya siapa lagi" kata Vanessa
"oke gw ada ide... Kita kerja sama, loe butuh dia juga kan?? Gimana kalo pake jebakan. Loe tanya keluarganya, loe ngaku sebagai ceweknya. Kali ajah mereka ngasih tau dia di mana??" kata Fany
"apa??" kata Vanessa
"loh... Loe kaya kaget gitu sih?? Loe lagi di mana sih berisik amat??" kata Fany
"engga... Engga, cuman gw ngerasa ide loe brilian banget... Sorry ya gw lagi di cafe, lagi makan sama temen gw" kata Vanessa
"ya udah nanti gw kabarin lagi, bye" kata Fany
"oh iya" kata Vanessa
Vanessa hanya bisa berdiam diri, kenapa dia jadi terbawa-bawa oleh masalah ini??
"hei... Kenapa sih?? Siapa tadi yang telepon??" kata Evan
"oh... Engga, tadi Fany yang telepon" kata Vanessa
"Fany?? Mau apa dia??" kata Evan
__ADS_1
"dia nanyain kamu... Udah ah, jadi bahas dia sih" kata Vanessa
Vanessa dalam kebingungan, dan Fany mulai mencurigai gerak-geriknya. Fany merasa seperti ada yang di sembunyikan dari Vanessa. Tidak lama Fany langsung melaporkan masalah ini kepada kakak iparnya. Dia seorang jaksa yang bernama Robert. Fany meminta untuk memantau Fany bahkan kalo bisa gerebek dan langsung pintai keterangannya.