
Di malam hari itu Evan duduk menghadap kolam renang, termenung, melamun dan merokok. Menikmati hatinya yang sangat hancur. Mentalnya begitu drop, yang pada awalnya Evan seperti macan yang siapa saja bisa dia terkam. Kini dia benar-benar merasakan apa yang dia rasakan kepada orang yang pernah dia permainkan.
Mirna, Vanessa dan Fany ketiga wanita itu yang dia ingat. Mirna kini sudah tiada, dan Fany akan segera dia pertanggung jawabkan. Tapi Vanessa bagaimana membalas perasaan yang telah dia sakiti kemarin-kemarin. Evan berfikir sendiri mencari solusi yang tak kunjung dia dapatkan.
Entah apa yang di rasakan oleh tangannya, dia ingin sekali menghubungi Leny. Tak lama ada sebuah jawaban di HP yang sedang di genggamannya.
"halo... Halo..." kata Leny
"ah iya Len... Apa kabar??" kata Leny
Leny diam sebentar, merasakan ada sesuatu yang aneh di ucapkan oleh Evan. "baik... Kenapa Van??" kata Leny
"kok rame gitu, loe lagi di mana??" kata Leny
"ini gw lagi di mall... Mau cari barang buat nikahan kalian" kata Leny
"sama Fany??" kata Evan
"engga gw jalan sendiri, Fany lagi sakit" kata Leny
"ya ampun... Kenapa loe pergi ke luar sendiri sih. Loe mall mana nanti gw temenin loe. Gw kesana sekarang" kata Evan
"hahahaha... Apa sih loe Van, lebay banget" kata Leny
"iya loe di mall mana??" kata Evan
"dimana lagi, ya... Yang deket ke rumah gw yaitu satu-satunya yang deket taman lah" kata Leny
Tak banyak berpikir panjang lebar, Evan langsung berangkat kesana. Dan sesampainya di mall taman kota, Evan mencari Leny. Liat sana liat sini dia tidak menemukan dimana Leny. Evan kembali menelepon Leny.
"loe di mana sih Len??" kata Evan
"gw lagi makan, yang ada gerobak fried chicken" kata Leny
Evan langsung menuju ke food court, dan menuju gerobak fried chicken.
"Len... Loe gila apa jalan malem-malem sendiri, bahaya tau" kata Evan dengan nada ngomel
"hei Van... Makan??" kata Leny
"iya..." kata Evan sambil duduk di depan Leny
"ngapain loe kesini??" kata Leny
__ADS_1
"ya loe ngapain jalan sendiri??" kata Evan
"udah gw bilang, gw lagi belanja kebutuhan kalian" kata Leny
"iya tapi kan loe ga pergi sendiri juga, malam lagi" kata Evan
"loe cerewet kaya ibu-ibu" kata Leny
"iya maksudnya.... Itu kebutuhan gw, kenapa loe ga ngabarin ke gw sih, kalo loe mau belanja" kata Evan
"gw juga ga kepikiran buat ngasih tau loe, terus gw juga udah terbiasa jalan sendiri disini" kata Leny
"lain kali kalo mau jalan-jalan ajak gw, jadi loe ga jalan sendiri" kata Evan
Leny merasa aneh dengan Evan akhir-akhir ini, dia lebih protektif dengan dirinya, Leny hanya berpikir mungkin Evan sudah menganggap Leny sebagai keluarganya sendiri. Tapi Leny berfikir kembali, apa bisa secepat itu.
"loe ga makan Van??" tanya Leny
Sebelum Evan menjawab, Evan duduk di depan Leny sambil memandang ke arah taman. Mengeluarkan rokok dan membakarnya. "gw lagi ga mood makan" kata Evan
Mendengar jawaban Evan seperti itu, Leny kembali semakin bingung. Tiba-tiba Evan seperti terkena masalah yang begitu besar.
"apa gw bisa mencintai Fany dengan tulus??" kata Evan
"bukan... Sama si mang bakso, loe lagi... dari tadi gw ngobrol sama loe" kata Evan
"enggak... Maksud gw, loe kalo ngobrol biasanya liat wajah lawan loe ngobrol. Jadi gw kira loe lagi ngomong sendiri ajah gitu" kata Leny
"apa gw udah terlihat gila ya" kata Evan
"em... Maksud loe?? Loe kenapa Van, cerita sama gw" kata Leny
Evan menarik ke dua tangan Leny, dan dagu Evan di sandarkan kepada tangan Leny yang sedang di pegang tangannya. Leny sangat kaget, tangannya menyentuh wajah Evan. Terlebih pandangannya terus menatap ke arah leny.
"gw udah keliatan gila kan??" kata Evan
"Van... Loe ada masalah?? Ya udah cerita sama gw" kata Leny
"kenapa loe ga jawab pertanyaan gw?? Emang gw udah gila beneran ya??" kata Evan
"apa sih loe ga jelas banget... Ngeliatin gw kaya gitu segala, malu tau. Gw ga biasa di liatin kaya gitu" kata Leny
Evan lalu mencium ke dua tangan Leny, lalu Leny melepaskan tangannya. Leny langsung pergi meninggalkan Evan.
__ADS_1
"Len... Tunggu, gw keterlaluan ya??" kata Evan
"loe aneh Van... Bikin gw takut" kata Leny
"oh ya, emang hidup gw jadi gila" kata Evan
Leny makin ga ngerti apa yang di katakan Evan. Leny berfikiran kalo yang di katakan nya benar. Dia seperti orang yang kerasukan setan.
"udah ah... Gw. balik" kata Leny
"Len... Gw anterin ya" kata Evan
"ga usah, gw pulang sendiri ajah" kata Leny
"Leny..." kata Evan sambil memegang tangan Leny, di tempat yang sangat ramai dia memaksa akan mencium Leny. Tapi Leny yang saat itu sangat ketakutan. Dia mendorong Evan dan berteriak. Orang-orang pun melihat ke arah Evan. Leny langsung berlari dan pulang sendiri.
Mental Evan yang sangat drop, membuat gairah hidupnya tidak semangat lagi. Di tambah Leny, tempat Evan bercerita melakukan hal yang buruk buat Evan. Dan mentalnya kian drop. Padahal Leny sudah jelas menanyakan kondisinya dia, dan menyempatkan untuk agar Evan bercerita padanya. Tapi entah kenapa Evan malah menyembunyikan masalahnya.
Dan orang-orang di sana menangkap sebuah video waktu Leny berlari. Santapan konten buat masyarakat. Membuat isu di media sosial tentang rencana pernikahan antara Evan dan Fany.
Evan kembali ke rumahnya, dengan sangat lemas. Dia masuk ke kamar, tanpa menyapa ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. Evan menuju ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, dia duduk di bawah tempat tidur. Otaknya masih terbayang mayat Mirna. Wajah mirna saat terakhir kali menghembuskan nafasnya. Evan sangat rindu kehadiran Mirna. Di tambah dia begitu merasa bersalah kepada orang-orang yang dia pernah sakiti.
Ibunya Evan menanyakan tentang Evan, kenapa dia lemas seperti itu. "kenapa Evan?? Tiba-tiba dia datang ke rumah dengan lemas seperti itu??"
"dia baru saja di tinggalkan oleh Mirna" kata Jose
"bukannya mereka sudah lama tidak bersama lagi??" kata ibunya Evan
"yang ini berbeda, dia di tinggalkan selamanya. Mirna terlalu ngeyel dan memaksakan demi cintanya. Jadi kita putuskan menyingkirkan Mirna dari kehidupan Evan selamanya" kata Jose
"apakah semuanya terkendali??" kata ibunya Evan
"ya... Tidak akan ada yang tau Mirna hilang, kecuali keluarganya yang merasa kehilangan. Mirna di bawa di daerah rumahnya tanpa pengawasan cctv, dan di bawa ke gudang. Dan mayatnya sudah di kubur di gudang langsung" kata Jose
"ya sudah... Mamah mau istirahat dulu, besok Fany akan datang kesini. Jadi para asisten bikin makanan yang lezat untuknya" kata ibunya Evan
"tapi mah... Evan melihat saat Mirna di bunuh" kata Jose
Ibunya melihat ke arah Jose dengan sangat serius.
"aku perlu bantuan mamah, untuk mengalahkan perasaannya kepada Fany. Jadi sebisa mungkin Evan cepat melupakan Mirna" kata Jose
"cari tau apa yang membuat Evan jatuh cinta kepada Mirna" kata ibunya Evan
__ADS_1
"baik mah... Nanti aku cari tau" kata Jose