
tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana kita karena itu memang hukum alam , manusia hanya bisa berencana tapi yang menentukan bukan kita.
sama halnya dengan keputusan yang diambil Alana, yang dia pikir tidak akan serumit itu jika ia bicara dan menjelaskan dengan perlahan, berharap bahwa semua akan baik-baik saja jika mereka mengerti dimana posisinya saat ini .
bagaimana pun juga saat ini yang adalah dalam diri Alana adalah jiwa Naura. apapun dan bagaimanapun juga dia akan berusaha untuk kembali dan tidak mau terjebak di sini selama nya .
tapi saat ini Dia belum tahu bagaimana cara nya agar dia kembali ke tubuh aslinya dan juga dunianya sendiri. yang dia tahu adalah jangan sampai hati nya tertinggal disini saat dia kembali. itu akan menyusahkan nya nanti .
" bagaimana pun aku tidak bisa terus disini ?" gumam Alana dengan lesuh . mengingat bagaimana kejadiannya tadi tidak sesuai dengan ekspektasi nya membuat moodnya hilang.
" mareka pikir aku akan terpuruk begitu" keramnya mengingat bagaimana sininya orang tua Alan tadi .
Alana jadi bingung kenapa alur novel ini begitu jauh beda, tapi jika dipikir pikir emang beda karena Alana saja yang di tulis meninggal didalam novel sekarang masih hidup.
Alana hanya melangkah kan kakinya dengan malas, sekarang tujuannya hanya pulang ke kontrakan nya saja tapi dia memilih untuk berjalan kaki agar beban pikiran nya kurang sedikit.
" Al .... tunggu" suara teriakan dari belakang, Alana pun menoleh dan disana terlihat Alan yang berlari ke arah Alana .
" kenapa?" tanya Alana langsung
" aku antar yah?" tawar Alan
" nggak usah, aku bisa sendiri" tolak Alana karena memang ia butuh waktu sendiri untuk menata hati sekaligus berfikir dengan tenang tentang hidup nya dia tidak bisa terus disini.
__ADS_1
" kamu marah ?" tanya Alan melihat ekspresi wajah Alana yang tidak bersahabat.
" nggak, cuma lagi butuh sendiri aja. boleh kan ." tekan Alana .
" oke , maaf yah " pasrah Alan
Alana langsung jalan saja tanpa menjawab, dia sebenarnya bukan kesal dengan Alan tapi dia juga tidak ingin karena dia semuanya jadi kacau .
Saat sampai Alana langsung ke kamar nya merebahkan tubuhnya yang lelah, berjalan selama hampir dua jam membuat nya capek , dan tidak berapa lama kepala Alana mendarat di bantalnya dia pun langsung terlelap.
.
Pagi baru telah tiba dengan matahari yang cerah, cahaya kekuningan itu memasuki kamar melalui sela-sela jendela kamar tersebut.
" hoammm .." gadis itu sudah terang matahari baru dia terbangun.
" cepatnya pagi, aku masih capek " keluhnya masih dengan mata tertutup .
iyah, gadis tersebut adalah Alana setelah kejadian semalam yang membuat jalan berjam membuat nya jadi bangun kesiangan. untuk nya hari ini akhir pekan jadi tidak perlu buru-buru karena tidak sekolah.
tok ... tokk ... tokkkk .....
" Na ...." suara ketukan pintu dn panggilan itu membuat Alana yang ingin tidur kembali jadi membuka matanya dengan lebar .
__ADS_1
dengan kesal Alana bangun dan
" APA ? " katanya dengan ketus saat sudah membuka pintu kamarnya .
yang di ketusin bukannya marah malah menahan tawa .
" kamu kenapa?" tanya Dinda
" Kenapa? Apa? " ucap Alana bingung
" mata kamu bengkak loh , sudah nangis yah ..." ucap Dinda becanda
" enak aja . aku capek tahu masih mau tidur. JANGAN GANGGU "
Bammm ...
" Astaga anak satu ini ." umpat Dinda karena kaget Alana menutup pintu nya dengan keras
" biasanya dia yang paling semangat" ucap Dinda heran kemudian dia mengangkat bahunya dengan acuh dan melangkah ke dapur cari makan tentunya tadinya dia berniat meminta Alana untuk masak tapi melihat kondisi Alana .
dia tidak punya pilihan lain selain melakukan nya sendiri.
to be continue ..........
__ADS_1