
"Michelle, untuk tanda tangan kontrak, papa rencana ingin mengundangnya makan di rumah, dia adalah pebisnis yang pintar dan berpengalaman. papa ingin lebih mengenalnya," ucap Jhones yang sambil melihat berita.
"Pa, apakah mau saya hubungi dia?"
"Hubungi dia dan ajak makan malam di rumah kita! mudah-mudahan dia setuju dengan undangan kita. sekalian kita harus berterima kasih padanya karena telah membersihkan namamu."
"Baik, Pa. setelah masalah ini berlalu, aku akan menghubungi dia."
"Baiklah."
Malam hari.
Mansion Leonardo.
Leonardo kembali ke kediamannya dalam suasana hati yang buruk, terlihat jelas wajahnya yang sedang kesal dan melangkah dengan cepat memasuki ke dalam rumahnya. saat ia melangkah masuk ia mencari keberadaan istrinya itu.
"Tuan, Anda kembali," sambut pelayan rumah tangga.
"Kenapa bisa begitu banyak lauk di atas meja?" tanya Leonardo dengan nada agak kesal.
"Nyonya meminta saya untuk memasaknya dan setelah siap memasak nyonya tidak ingin makan," jawabnya dengan menunduk.
"Alasannya apa dia tidak ingin makan?"
"Katanya lauk ini tidak sesuai."
"Udang, ayam, ikan dan sayur sudah dihidangkan. tapi masih saja tidak ingin makan," ujar Leonardo yang merasa kesal.
__ADS_1
"Kata nyonya dia ingin daging bakar. tapi...daging sudah habis di kulkas," ujar pelayan itu dengan cemas.
"Biarkan saja kalau dia tidak ingin makan, lauk di atas meja itu kalian makan saja. lain kali kalau dia ingin makan suruh saja dia masak sendiri!" ujar Leonardo yang kemudian melangkah menuju ke kamar istrinya.
Brak.
Suara bantingan pintu kamar yang dilakukan oleh Leonardo sehingga mengejutkan istrinya yang sedang berbaring kasur
"Zanana Olivia, apa yang kau inginkan sebenarnya....?" bentak Leonardo dengan tinggi dan menghampiri kasur
"Ada apa denganmu? baru pulang kau langsung meninggikan suaramu," balas Zanana dengan nada ketus.
"Wanita yang menyamar sebagai reporter itu adalah suruhanmu, untuk apa kau melakukan itu?"
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan," ujar Zanana yang turun dari kasur dan ingin menghindar dari suaminya.
"Jelaskan semuanya dan jangan coba-coba menghindar!" bentak Leonardo yang mengenggam lengan istrinya dengan erat.
"Sakit? apa kau merasa sakit? kenapa di saat kau berencanakan sesuatu kau tidak berpikir dengan baik, apa kau merasa gembira di saat kau melihat banyak reporter yang menganggu kehidupan orang lain? dan...apakah kau merasa bahagia setelah merusakkan nama baik orang?" bentak Leonardo.
"Jangan lupa kau adalah suamiku dan bukan suami ja.lang itu, kenapa kau sangat membelanya? apakah kau jatuh cinta padanya karena dia lebih muda dan cantik?"
"Kau adalah orang tidak masuk akal, semua ini kau yang berencanakan nya, dan kini kau malah menuduh hubunganku dan dia. kalau saja bukan karena menjaga namaku sendiri. aku sudah menuntutmu hari ini," bentak Leonardo.
"Kau marah demi wanita lain, kau sudah berubah. apa kau sudah lupa ikatan janji kita di saat kita menikah? kau akan mencintaiku apapun kondisiku, dan kita akan saling mencintai hingga akhir hayat kita. dan kini baru usia tiga tahun pernikahan kita kau sudah lupa dengan janji kita."
"Aku tidak lupa janjiku selama ini, justru kau yang lupa, setelah menikah apakah kau merasa kau sudah melakukan kewajiban seorang istri? dan bukan hanya itu saja, sekarang kau malah mengupah orang lain untuk menuduh suamimu sendiri. apa kau masih waras?" bentak Leonardo.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kau bersama dia? apakah dia adalah selingkuhanmu selama ini? selama setengah tahun kau tidak ingin tidur sekamar denganku apakah karena kau sudah tidur dengan dia?" bentak Zanana dengan kesal.
"Aku dan dia baru kenal selama dua atau tiga hari, hubungan kita menjauh tidak ada hubungan dengan wanita lain," tegas Leonardo.
"Zanana Olivia, tidak ada gunanya lagi kita bertengkar, kita sudah bertengkar selama tiga tahun dan hubungan kita tidak akan kembali seperti dulu lagi," ujar Leonardo yang sudah putus asa.
"Apa maksudmu?"
Leonardo menunjukan dokumen yang dia pegang," tanda tangan surat cerai ini! mulai hari ini jangan ikut campur dalam urusanku lagi! dan ingat satu hal lagi, kalau kau masih mengulangi perbuatanmu hari ini, aku tidak akan ragu untuk menuntutmu."
"Ce-cerai?" tanya Zanana yang merasa tidak percaya karena suaminya menunjukan surat penceraian.
"Aku sudah tanda tangan, kita akhiri saja pernikahan kita, karena hubungan kita tidak mungkin lagi ada perubahan," ujar Leonardo yang melempar dokumen itu ke atas kasur.
"Tidak! aku tidak akan tanda tangan, kau mengingkar janjimu untuk mengandeng tanganku hingga akhir hayatmu. kau tidak bisa mengingkarnya!" bentak Zanana.
"Aku sudah lelah dengan pernikahan kita, setiap hari aku pulang kau selalu saja ingin bertengkar denganku. dan aku merasa kau menikah denganku bukanlah karena mencintaiku melainkan hanya demi hartaku," ujar Leonardo yang terus terang.
"Apakah aku salah di saat aku ingin hartamu? kita suami istri dari segi undang-undang, dan jika kau ingin menceraikanku bisa saja, syaratnya adalah aku ingin delapan puluh persen hartamu!" ucap Zanana dengan ketus.
"Kau masih berani meminta harta dariku? selama ini uang yang kau habiskan cukup untuk membeli seunit mansion mewah. apa kau masih tidak cukup?"
"Kau adalah suamiku sudah seharusnya kau memberiku uang bulanan," jawab Zanana yang tidak mau kalah.
"Uang yang ku berikan bukan hanya untuk biaya pribadimu, tapi juga untuk biaya rumah tangga. tapi kau menghabiskan semua uang itu ke club malam, pakaian dan tasmu. sehingga pembantu rumah tangga tidak bisa membeli kebutuhan rumah. apa kau sudah lupa kau adalah istriku dan tentu saja kebutuhan rumah tangga kau yang mengurusnya. tapi...kau malah menolak memberi uang untuk kebutuhan rumah tangga," bentak Leonardo.
"Tidak perlu basa-basi lagi! tanda tangan surat ini, dan kembali ke asalmu!" ujar Leonardo yang melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
"Leonardo Valentino, aku tidak mau pulang ke desa, kau yang membawaku ke kota kau tidak bisa tinggalkan aku begitu saja!" bentak Zanana yang ikuti langkah Leonardo.
"Kau salah besar, bukan aku yang membawamu ke kota, tapi kau sendiri yang ke kota di saat itu," jawab Leonardo yang sambil berjalan menuju ke pintu utama.