
"Sifatmu yang suka merendahkan orang hanya akan membawamu ke jalan buntu, tidak ada gunanya kau menghinaku. kau hanya akan senasib dengan Alice."
"Kau ingin mengancamku? dirimu tidak berupaya sama sekali," kata Alex dengan mengejek.
"Michelle...," suara Leonardo yang menghampiri gadis itu.
Saat Alex memandang ke arah Leonardo ia langsung terdiam karena dirinya mengenal siapa pria yang muncul di hadapannya itu.
"Apa kamu sudah pesan makanan?"tanya Leonardo pada Michelle.
"Belum," jawab Michelle.
"Kita makan saja di restoran lain! tempat ini ada aroma tidak sedap, tidak sesuai untuk kita," kata Leonardo yang menyindir.
"Leonardo Valentino?" ucap Alex yang merasa penasaran.
"Aku tidak mengenal manusia rendahan sepertimu," ujar Leonardo dengan senyum.
"Aku adalah Alex Fabio, mungkin kita bisa makan bersama!" ucap Alex yang ingin bersalaman dengan Leonardo.
"Tidak perlu! aku sudah mendengar semuanya, aku tidak suka berkenalan dengan pria yang tidak tahu diri. kau tidak layak duduk bersamaku," jawab Leonardo dengan terus terang.
Alex yang menerima sindiran Leonardo hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab apapun.
"Michelle, mari kita pergi tempat lain saja!" ajak Leonardo yang merangkul pundak Michelle.
"Kalian adalah...," ucap Alex yang terhenti
"Kenapa, apakah Michelle harus meminta izin darimu jika dia ingin bersama dengan pria lain?" tanya Leonardo dengan sinis.
"Bukan begitu, aku hanya...."
"Hanya apa? apa kau mengira Michelle bersama dengan pria idiot dan tidak tahu malu sepertimu?" balas Leonardo dengan tatapan aura membunuh.
"Michelle, mari kita makan di tempat lain saja! berada satu tempat dengan manusia sampah hanya menghilangkan selera ku," ajak Leonardo yang memegang tangan Michelle meninggalkan restoran itu.
"Sia.lan, kenapa gadis desa bodoh itu bisa bersama dengan bos besar," batin Alex.
"Alex, kelihatannya mantanmu itu bersama dengan benteng besar, sangat tidak menyangka seorang Leonardo bisa tertarik pada wanita yang pernah dicampakan," ujar wanita itu dengan menghina.
"Apanya yang hebat, aku yakin tidak lama lagi dia akan di campakan lagi," ketus Alex yang merasa kesal.
"Lebih baik kita membahas bisnis yang akan kita tawarkan ke perusahaan besar itu!"ujar Alex.
"Keluarkan semua kehebatanmu, dan tunjukkan kepada perusahaan Unique agar mereka setuju bekerja sama dengan kita," kata wanita itu.
__ADS_1
"Kalau itu sudah pasti."
Di sisi lain Leonardo makan bersama Michelle di restoran lain.
"Terima kasih, karena sudah membantuku tadi," ucap Michelle sambil menyantap makanannya.
"Sama-sama, pria itu adalah mantanmu?"
"Iya, aku sangat bodoh sekali, aku mengira jika aku menyediakan semua kebutuhannya akan membantunya, agar dia tanpa beban, tapi ternyata aku sudah salah."
"Bukan kamu yang bodoh, tapi dia yang bodoh. tidak ada salahnya kau membantu dia. itu karena cintamu sangat dalam terhadap dia."
"Mungkin dia merasa risih dan menilai aku sangat kolot."
"Kelihatannya dia tidak tahu siapa dirimu."
"Aku tidak pernah memberitahunya, karena aku ingin mengunakan cara ini untuk mengujinya. awalnya aku menyangka kami saling mencintai. karena kami berpacaran selama setahun lamanya. dan hanya dalam beberapa detik semua berubah."
"Apa rencanamu selanjutnya? apakah kamu akan membalas dendam?"
"Membalas dendam?"
"Iya, aku mendengar bahwa saat itu dia menyerahkanmu kepada pria lain. bukankah itu sangat keterlaluan?"
"Dia melukaimu dengan cara yang tidak seharusnya, apakah bisa begitu mudah kau melupakan dia?"
"Sebenarnya semua ini tergantung pada hati kita," jawab Michelle dengan senyum.
"Tergantung pada hati kita?"
"Benar! walau sangat sakit saat kita dikhianati, tapi seiring waktu berjalan rasa sakit itu akan hilang. walau masih ada bekas luka, bukan berarti kita harus selalu mengingatnya."
"Alasannya?"
"Alasannya adalah ketika perasaan kita sudah hambar terhadap seseorang. maka, itu berarti kita tidak akan membenci mengenai pengkhianatannya. kalau dia tidak mengkhianati kita maka kita tidak akan tahu bagaimana sifat aslinya. ketika kalau sudah menikah kita baru tahu sifat aslinya, bukankah akan sangat menyakitkan?"
"Ada benarnya kata-katamu, lebih baik sakit di awal dari pada sakit setelah menikah," ucap Leonardo yang mengingat masalah rumah tangganya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Michelle yang melihat pria itu sedang termenung.
"Aku dan dia...sudah bercerai," kata Leornardo.
"Bercerai? apakah begitu parah sehingga harus mengambil keputusan ini? tidak ada jalan keluar?"
"Jika sudah tidak cinta untuk apa dipaksakan, selama ini aku telah melakukan tanggung jawabku sebagai seorang suami. pernikahan kami sudah retak mulai dari tiga tahun lalu."
__ADS_1
"Tidak mudah untuk mendirikan sebuah rumah tangga, butuh kesabaran yang sangat tinggi. di saat mendapatkan pasangan yang kita cintai kita malah disakiti."
"Sebenarnya dari awal sudah salahku, aku sudah tahu kalau dia bukan jodohku, tapi aku masih saja memilih lebih percaya pada diri sendiri," ucap Leonardo.
"Sudah tahu bukan jodoh? bagaimana caranya bisa tahu?"
"Sudah waktunya kita mulai mengerjakan project kita, habiskan makanan kita dulu," ujar Leonardo yang melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Baik."
Malam hari.
Setelah sibuk seharian Leonardo kembali bertemu dengan Aaron dan Niko. mereka duduk bersama di ruangan karaoke.
"Hai, bagaimana denganmu hari ini? aku mendengar Aaron mengatakan kalau perusahaan kalian bekerja sama dengan perusahaan Unique, bukankah dirimu akan bersama dengan gadis itu setiap hari?" tanya Niko yang merasa penasaran.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Leonardo sambil menuang minuman ke gelasnya.
"Selama ini aku berharap bisa lebih dekat dengannya, ternyata keinginanku tidak terkabul," ujar Niko.
"Kau selalu saja ingin mendekatinya, jangan bermimpi lagi. kau tidak serasi dengannya," ucap Aaron dengan mengusik temannya itu.
"Cukup kejam ucapanmu itu," ujar Niko sambil meneguk minuman.
"Apa malam ini kita taruhan?"tanya Aaron yang melihat dua temannya itu.
"Taruhan apa?" tanya Leonardo.
"Siapa yang mabuk dulu maka dia yang kalah dan harus membayar," jawab Aaron.
"Kekanakan," ucap Leonardo dengan cuek.
"Ini hanya permainan saja, tidak perlu anggap serius! lagi pula uangnya juga tidak seberapa bagimu," ujar Aaron.
"Baiklah, siapa yang mabuk duluan dia yang kalah," kata Leonardo.
"Mari kita minum tiga gelas!" ajak Niko yang ingin bersulang dengan dua temannya.
Malam itu mereka bertiga menikmati minuman favorit tanpa ditemani oleh wanita penghibur. selama ini jika mereka berkumpul dengan Leonardo memang tidak pernah memanggil wanita manapun. karena mereka sangat memahami temannya yang tidak suka bermain dengan wanita club.
"Bagaimana dengan Banana itu? dan apakah mau masih belum pulang ke sana? aku sempat terkejut di saat melihat berita kemarin itu. Banana sengaja mencari masalah dengan Michelle," ujar Niko.
"Dia merasa cemburu karena melihat Michelle datang ke perusahaan kemarin. dan dia merasa iri karena melihat Michelle lebih cantik dan lembut darinya," kata Aaron.
"Dari ujung rambut hingga ujung kaki Banana kalah semua darinya," ucap Niko.
__ADS_1