
"Kenapa kamu tersenyum? apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Michelle.
"Tidak, aku hanya merasa kue ini sangat lucu, bagaimana caranya kau bisa membuat kue yang berbentuk kartun?" tanya Leonardo dengan senyum.
"Karena aku merasa sangat imut, makanya membeli cetakannya. apakah menurutmu sangat kekanakan?"
"Tidak juga, bentuknya lucu dan aku yakin rasanya pasti enak juga."
"Kue seperti ini banyak yang jual, apakah kamu belum pernah mencobanya?" tanya Michelle.
"Belum pernah, dan ini pertama kali bagiku," jawab Leonardo.
"Di saat ada waktu aku selalu membuat kue untuk cemilan malam," ujar Michelle sambil mengunyah makanannya.
"Biasa anak gadis sangat takut gemuk kalau makan terlalu banyak, apa kau tidak takut gemuk?" tanya Leonardo yang melihat Michelle makan dengan lahap.
"Tidak, untuk apa aku takut gemuk. aku makan untuk diriku sendiri. gemuk atau kurus aku sendiri yang menikmatinya," jawab Michelle.
"Dirimu adalah nona besar, apa kamu tidak khawatir jika ada yang mengejekmu?"
"Aku tidak peduli dengan pandangan orang lain, karena kita hidup dengan cara kita sendiri. jadi tidak usah peduli dengan ucapan orang. selagi kita tidak melakukan kesalahan," jawab Michelle sambil meneguk minumannya.
"Baru kali ini aku mendengar seorang gadis yang tidak suka hias diri dan tidak takut gemuk," ucap Leonardo sambil makan dengan lahap.
"Bagaimana kamu tahu aku tidak suka menghias diri?"
"Gadis yang suka menghias diri akan lebih berbeda," ujar Leonardo.
"Iya, aku tahu. akan kelihatan lebih cantik dibandingkan tidak menghias diri," jawab Michelle.
"Bukan itu maksudku, maksudku adalah wanita yang suka menghias diri bisa di lihat dari warna kukunya, make up, dan gaya rambutnya. serta penampilan, sedangkan dirimu berpenampilan sederhana dan tidak suka make up. oleh karena itu kelihatan kalau dirimu sangat sederhana," ucap Leonardo.
"Karena aku suka dengan penampilan biasa, tidak norak dan juga tidak menyusahkan," ujar Michelle.
"Gadis ini walau pintar dalam bisnis tapi ada polosnya, sifatnya sangat menyenangkan tidak membuat orang merasa tekanan saat bersamanya," batin Leonardo.
"Kenapa menyusahkan?" tanya Leonardo.
__ADS_1
"Kalau suka menghias maka akan sangat menyusahkan karena harus mengunakan kosmetik. lagi pula kalau hanya bekerja saja tidak perlu harus mempercantikkan diri," jawab Michelle.
"He-he-he-he...aku tidak menyangka seorang nona besar bisa begitu sederhana, kau berbeda dengan yang lain," ucap Leonardo.
"Kenapa kamu malah merasa lucu?" tanya Michelle yang merasa aneh.
"Tidak ada, terima kasih makanannya, enak sekali," ucap Leonardo yang sambil makan dengan lahap.
Setelah hujan reda Leonardo dan Michelle mulai memantau pekerja yang sedang membangun gedung itu.
Di saat mereka sedang fokus dengan kerja mereka, tiba-tiba datang seorang wanita yang berjalan menuju ke arah Leonardo.
"Leonardo," suara panggilan wanita itu.
Leonardo lalu menoleh ke belakang dan melihat wanita yang sedang memanggilnya yang tak lain adalah istrinya.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Leonardo.
"Aku datang melihatmu dan mengantar makanan untukmu," jawab Zanana dengan senyum.
"Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?"
"Di sini sangat bahaya dan tidak seharusnya kau datang ke sini, cepat pergi!" ucap Leonardo.
"Aku hanya khawatir kamu lapar, sering-sering makan di luar tidak baik. oleh sebab itu aku buat makanan untukmu," jawab Zanana dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah makan tadi, dan kamu pergilah!"
"Leonardo, aku akan memantau ke tempat lain. kamu makan dulu karena makanannya sudah diantar ke sini," ujar Michelle yang merasa segan.
"Kita akan pergi bersama, aku sudah kenyang karena aku sudah makan tadi," jawab Leonardo pada Michelle.
"Leonardo, kau bisa simpan untuk sore nanti," ucap Zanana.
"Aku ke arah sana dulu, permisi," ucap Michelle yang melangkah pergi karena tidak ingin menganggu mereka berdua.
"Zanana, tinggalkan tempat ini dan jangan mencariku lagi! aku lebih berharap kau datang ke pengadilan setelah kerjaku selesai," kata Leonardo dengan tegas.
__ADS_1
"Aku berniat untuk membawakan makan siangmu, tapi kenapa kau menolak?"tanya Zanana yang merasa kecewa.
"Sudah ku katakan, aku sudah makan dan jangan ke sini lagi!" ujar Leonardo dengan tegas dan melangkah pergi.
Saat melangkah ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah istrinya dengan tegas mengatakan," kalau kau masih saja tidak hadir di pengadilan maka aku akan menyuruh pengacaraku mengantar surat perceraian ke rumah. saat itu kau ingin tanda tangan atau tidak kau tetap bukan istriku lagi."
"Sia-sia usahaku, pagi-pagi aku bangun hanya sediakan sarapan untuknya dan sekarang ditolak begitu saja. semua karena wanita itu," gumam Zanana.
Zanana yang merasa kesal ia berjalan mencari keberadaan Michelle. ia berjalan tanpa memperhatikan setiap langkahnya.
Michelle sedang berada di depan gedung sambil bicara di handphonenya, sementara Zanana berniat menghampiri gadis itu.
Tempat yang dia lewati sangat bahaya, ia tidak menyadari di atas sana ada beberapa bahan bangunan yang dalam kondisi gantung.
"Wanita itu sangat muda dan cantik, pantas saja Leonardo tertarik padanya," ketus Zanana yang merasa iri.
Ia melangkah ingin menghampiri Michelle yang sedang fokus bicara di handphonenya.
Leonardo yang mencari Michelle ia lalu melihat istrinya yang menuju ke arah gadis itu, kemudian mata Leonardo memandang ke atas dan mendapati papan yang diikat tali mulai terlepas, sementara istrinya berada di bawah.
"Zanana...awas...," teriak Leonardo yang jaraknya cukup jauh dari istrinya itu.
Michelle yang mendengar teriakan pria itu ia langsung melihat ke atas, sementara Zanana mengabaikan teriakan suaminya dan masih berdiri diam di sana sambil menatap sini ke arah Michelle.
"Pergi dari sana! bahaya...," teriak Michelle yang melempar handphonenya entah ke mana dan berlari ke arah Zanana dan berniat ingin menyelamat wanita itu.
Zanana yang melihat Michelle berlari ke arahnya dan menghampiri dirinya ia malah melayangkan tamparan keras ke wajah Michelle.
Plak..
"Aarghh...," rintihan Michelle yang merasa sakit dan langsung mendorong Zanana dengan kuat ke arah samping sehingga mereka sama-sama terhempas ke aspal.
Bruk..
"Aarrgh...," jeritan mereka dengan serentak.
Prak...
__ADS_1
Suara jatuhan papan yang hampir menimpa Zanana dan Michelle.
Zanana merasa sakit bagian tubuhnya akibat bantingan keras tadi. sementara Michelle luka bagian kepalanya akibat benturan ke aspal.